Konten dari Pengguna
Tertawa dalam Demokrasi: Luffy Lebih Menenangkan daripada Propaganda
6 Agustus 2025 8:10 WIB
·
waktu baca 7 menit
Kiriman Pengguna
Tertawa dalam Demokrasi: Luffy Lebih Menenangkan daripada Propaganda
Fenomena viral bendera Topi Jerami dari anime One Piece di berbagai wilayah Indonesia bukan bentuk perlawanan terhadap pemerintah, melainkan ekspresi kebahagiaan dan nostalgia kolektif.Dandy Ramdhan Yahya
Tulisan dari Dandy Ramdhan Yahya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada suatu pagi yang tenang, di atas atap dan tiang bambu yang menjulang, atau bahkan pada truk-truk barang yang berlalu-lalang, berkibarlah sehelai bendera hitam berlogo tengkorak bertopi jerami—simbol bajak laut yang mengarungi Grand Line dalam serial fiksi “One Piece”. Fenomena ini—yang belakangan ramai di pelbagai penjuru negeri, dari Jakarta hingga Jombang, dari kampus hingga kampung—telah menimbulkan riak diskusi publik. Sebagian menganggapnya ancaman terselubung, simbol perlawanan, atau bahkan sinyal kekacauan. Namun mari kita beri ruang pada tafsir yang lebih ringan, lebih cerdas, dan lebih jenaka. Sebab demokrasi bukanlah taman yang tandus dari tawa. Dan bendera One Piece, sejatinya, bukanlah fragmen ironi.
Dari Layar ke Tiang: Manifestasi Fandom dalam Ruang Publik
Pengibaran bendera bajak laut Straw Hat Pirates tidak lahir dari rahim revolusi, melainkan dari semangat hiburan dan keterhubungan. Fenomena ini lebih tepat dibaca sebagai ekspresi “participatory fandom” dalam era media konvergensi. Henry Jenkins dalam karyanya Convergence Culture menjelaskan bahwa para penggemar hari ini tidak sekadar mengonsumsi, tetapi juga menciptakan dan mendistribusikan makna. Ketika seorang remaja mengibarkan bendera Luffy, ia tidak sedang menyerukan makar, melainkan menyatakan cinta pada cerita.
Budaya populer telah lama menjadi wahana bagi masyarakat untuk mengekspresikan aspirasi dan afeksi. Dalam konteks ini, One Piece adalah metafora harapan: tentang keberanian menantang arus, tentang solidaritas dalam kru, dan tentang pencarian makna hidup dalam dunia yang rumit. Bendera yang berkibar bukan simbol amuk, tapi lambang mimpi. Maka membacanya sebagai bentuk ancaman negara adalah seperti menuduh tukang siomay sebagai penjaja paham radikal—absurd tapi menggelikan.
Negara yang Kuat Tidak Terganggu oleh Kartun
Negara, dalam banyak hal, sering terjebak dalam refleks defensif. Ia kerap membaca tiap ekspresi non-tradisional sebagai gangguan stabilitas. Fenomena ini tidak asing dalam teori Michel Foucault tentang biopolitik, yakni bagaimana kekuasaan modern mengatur kehidupan bukan hanya melalui larangan, tetapi juga melalui pengawasan atas norma. Dalam penglihatan kekuasaan yang panoptikal, segala yang tak dikenal adalah potensi ancaman.
Namun pertanyaan mendasarnya adalah: apakah negara begitu rapuh hingga harus gentar pada bendera dari dunia fiksi?
Demokrasi adalah ruang yang harus tahan tertawa, bahkan pada lelucon yang mengarah ke tubuhnya sendiri. Negara yang sehat tidak mencurigai warganya ketika mereka menertawakan atau bermain-main dengan simbol. Ia justru tumbuh dari kepercayaan terhadap kedewasaan publik. Reaksi yang terlalu cepat terhadap sesuatu yang sesederhana bendera One Piece justru menampilkan kesan negara yang gagap menghadapi kultur populer.
Dalam dunia demokrasi yang inklusif, ekspresi seperti ini bukan untuk direpresi, tetapi untuk dimaknai. Bahkan, dalam kerangka demokrasi deliberatif ala Jürgen Habermas, tindakan semacam ini bisa dibaca sebagai bentuk komunikasi simbolik yang harus ditempatkan dalam ruang publik, bukan dibungkam lewat paranoia negara.
Jadi, jika ada anggapan bahwa pengibaran bendera ini sebagai sebuah bentuk ancaman, kita sedang meremehkan kekuatan negara. Pemerintah Indonesia hari ini memiliki sistem dan konstitusi yang kuat secara persisten. Kita punya pemilu, punya sistem hukum, punya aparat, dan punya rakyat yang pada umumnya baik-baik saja (asal sinyal lancar dan minyak goreng tidak langka).
Karenanya, mari kita jujur saja, bahwa negara ini tidak akan tumbang hanya karena seseorang mengibarkan bendera kartun. Justru sebaliknya, negara yang kuat adalah negara yang tahu kapan harus tersenyum. Bahwa rakyat kadang hanya sedang ingin merasa bahagia—dan kebetulan yang mereka pilih sebagai simbolnya adalah Luffy, bukan Lenin.
Simbol, Satire, dan Sosiologi Hiburan
Ketika simbol fiksi masuk ke ruang publik, ia menciptakan hibrida makna. Pengibaran bendera bajak laut, dalam kasus ini, adalah satire yang bukan untuk mencemooh, tapi untuk mengingatkan. Ia seperti senyum kecil dalam keramaian, atau nyanyian pelaut dalam badai—sebuah jeda dari keseriusan hidup berbangsa.
Berbeda dengan simbol-simbol ideologis yang sarat beban historis dan konflik, bendera One Piece lahir dari dunia imajinatif. Dalam sudut pandang Umberto Eco, fiksi adalah ruang “semiosfera” yang memungkinkan interpretasi bebas. Ketika masyarakat mengadopsi simbol dari dunia fiksi, mereka sedang bermain-main dengan dunia nyata tanpa ingin merusaknya.
Pierre Bourdieu mengungkapkan bahwa selera bukan sekadar preferensi estetika, tapi juga ekspresi posisi sosial. Dalam konteks ini, mengibarkan bendera One Piece bisa dibaca sebagai gaya hidup yang ingin menampilkan diri sebagai bagian dari komunitas global, egaliter, dan kreatif. Ini bukan simbol anarki, tetapi bahasa sosial dari generasi yang tumbuh dengan internet dan anime.
Kebebasan Berekspresi: Sebuah Anomali yang Perlu Dirayakan
Konstitusi Republik Indonesia menjamin kebebasan berekspresi. Mengibarkan bendera One Piece, selama tidak menghasut kebencian, kekerasan, atau kekacauan, adalah bagian dari hak itu. Dalam kerangka hukum positif, tidak ada aturan yang melarang pengibaran simbol fiksi—selama tidak menggantikan atau merusak simbol resmi negara. Bahkan menurut International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) yang telah diratifikasi Indonesia, kebebasan berekspresi adalah pilar fundamental masyarakat demokratis.
Reaksi keras terhadap hal ini justru mencerminkan anomali dalam penegakan hukum yang selektif dan seringkali reaktif. Dalam istilah Slavoj Žižek, ini adalah bentuk “cynical ideology”—di mana negara menunjukkan kuasa bukan karena perlu, tapi karena bisa. Maka, momen pengibaran bendera ini bisa juga dibaca sebagai kritik simbolik terhadap cara negara membaca kenyataan: terlalu serius pada lelucon, terlalu diam pada kegentingan.
Mengapa Kita Menertawakan Luffy?
Tertawa adalah respons sosial yang tertua dan paling purba. Dalam Homo Ludens, Johan Huizinga menulis bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk bermain. Dalam konteks ini, mengibarkan bendera bajak laut adalah bagian dari permainan simbolik. Kita menertawakan Luffy bukan hanya karena ia lucu, tetapi juga karena ia menyentuh sisi dari diri kita yang bebas, liar, dan tidak dikendalikan protokol.
Masyarakat kita sedang kelelahan: oleh harga kebutuhan pokok, oleh wacana politik yang stagnan, oleh realitas yang kadang lebih dramatis dari sinetron. Maka wajar jika mereka mencari katarsis dalam simbol yang ringan dan menyenangkan. Bendera One Piece menjadi metafora dari harapan akan dunia yang lebih asyik, lebih jujur, dan lebih bersahabat.
Bukankah dalam lelucon terselip kritik yang paling tajam? George Orwell pernah menulis bahwa setiap lelucon adalah pemberontakan kecil. Namun tidak semua pemberontakan harus ditumpas. Beberapa cukup dijadikan bahan tawa bersama di warung kopi, atau sekadar status media sosial.
Simbol yang Menyatukan, Bukan Memecah
Berbeda dengan simbol politik yang memiliki tendensi memecah, bendera One Piece justru memiliki karakter yang menyatukan. Ia melampaui batas kelas, agama, bahkan usia. Seorang bapak-bapak pos ronda berusia 40 tahun bisa tertawa bareng bocah SMP karena sama-sama tahu siapa itu Zoro. Ini bukan fragmentasi, tapi semacam solidaritas baru.
Dalam sosiologi postmodern, Jean Baudrillard pernah menyatakan bahwa simbol hari ini kehilangan rujukan aslinya dan hidup sebagai “simulacra”—representasi yang hidup dalam dirinya sendiri. Bendera One Piece tidak lagi sekadar milik Eiichiro Oda atau dunia anime, tapi telah menjadi bagian dari ruang publik kita. Ia hidup karena dikibarkan, dan dikibarkan karena hidup dalam benak kolektif.
Konklusi Sederhana
Fenomena pengibaran bendera One Piece adalah panggilan untuk kita semua—negara, masyarakat, intelektual, dan budayawan—agar tidak terlalu kaku dalam memaknai gerak budaya. Ini bukan soal bendera, tetapi soal bagaimana kita menyikapi tawa dalam kehidupan bernegara.
Jangan sampai kita menjadi bangsa yang panik pada simbol-simbol remeh, tapi lalai pada masalah esensial. Jangan sampai kita menjadi negara yang repot mengurus Luffy, tapi tak sigap mengurus pangan, pendidikan, dan keadilan.
Mereka tidak menuduh, tidak menuntut. Mereka hanya menunjuk langit, menggantungkan bendera Luffy, dan menunggu seseorang lewat sembari memberi senyum kecil. Bendera One Piece itu bukan simbol makar. Rakyat tidak sedang marah, dan pemerintah Indonesia tidak sedang terancam. Yang sedang terjadi hanyalah rakyat yang ingin tertawa—dan kebetulan Luffy memberi alasan untuk itu.
Sebagai penutup, penulis akan mengutip salah satu ungkapan dari seorang pengamat dan ahli bedah budaya Jepang kontemporer (paling tidak, dia lebih ahli dari penulis di bidang itu):

