Konten dari Pengguna

Budaya Thrifting: Budaya Populer Penggerak Ekonomi Lintas Zaman

Darynaufal Mulyaman
Dosen Prodi HI FISIPOL UKI
27 Agustus 2025 13:54 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Budaya Thrifting: Budaya Populer Penggerak Ekonomi Lintas Zaman
Narasi ini berusaha membedah fenomena thrifting tidak hanya sebagai tren konsumsi semata, melainkan sebagai sebuah ekosistem ekonomi sirkular yang berfungsi sebagai “doping” bagi perekonomian
Darynaufal Mulyaman
Tulisan dari Darynaufal Mulyaman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Toko Thrifting (Noémie Roussel/Unsplash)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Toko Thrifting (Noémie Roussel/Unsplash)
Praktik membeli pakaian bekas atau thrifting pernah menyandang stigma sebagai simbol keterbatasan ekonomi, sebuah aktivitas kelas dua dalam lipatan sejarah mode. Namun, beberapa dekade terakhir menyaksikan inversi makna yang dramatis di mana thrifting bermetamorfosis dari tindakan ekonomi pragmatis menjadi pernyataan gaya, gerakan budaya populer, dan yang paling menarik, sebuah mesin ekonomi informal yang tangguh dan lintas generasi. Narasi ini berusaha membedah fenomena thrifting tidak hanya sebagai tren konsumsi semata, melainkan sebagai sebuah ekosistem ekonomi sirkular yang berfungsi sebagai “doping” bagi perekonomian, baik di level makro maupun mikro, dengan menyertakan data statistik dan kajian akademik terkini di Indonesia.
Ledakan popularitas thrifting tidak dapat dilepaskan dari gelombang besar budaya populer yang digerakkan oleh Generasi Z dan Milenial. Dua generasi digital native ini telah menggeser paradigma konsumsi dari yang bersifat materialistik-mencolok ke arah yang lebih bernuansa nilai—nilai keberlanjutan, keunikan, dan kecerdasan finansial. Platform media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube dipenuhi dengan konten outfit hasil thrifting yang stylish, tutorial “thrifting haul”, dan tips menemukan barang berkualitas.
Influencer bukan lagi sekadar memamerkan barang-barang mewah, tetapi juga kebanggaan akan temuan “harga receh, gaya cetar” di pasar loak atau toko thrift online. Sebuah studi menunjukkan bahwa 65% konsumen muda Indonesia lebih memilih brand yang menunjukkan komitmen terhadap lingkungan dan keberlanjutan. Thrifting menjawab kegelisahan ini secara langsung; ia adalah bentuk nyata dari ekonomi sirkular yang memanfaatkan ulang sumber daya, mengurangi jejak karbon, dan memerangi sampah fashion.
Seperti dikemukakan dalam suatu kajian sosiologi, fashion adalah sistem yang melembaga yang menyediakan sarana untuk mengekspresikan identitas. Thrifting menjadi sistem baru yang memungkinkan ekspresi identitas yang lebih personal, otentik, dan tidak tersekat oleh harga dan merek. Inilah yang menjadi doping utama bagi pertumbuhannya: ia tidak hanya menjual produk, tetapi juga menjual nilai-nilai.
Ekosistem thrifting di Indonesia mengalir melalui dua saluran utama, offline dan online. Domain offline bertumpu pada pasar-pasar tradisional legendaris seperti Pasar Senen di Jakarta, Pasar Turi di Surabaya atau Pasar Beringharjo di Yogyakarta. Sementara itu, domain online berkembang pesat melalui platform e-commerce dan aplikasi mobile. Data statistik berbicara cukup jelas tentang besarnya gelombang ini. Sebanyak 75% konsumen di Indonesia pernah berbelanja produk fashion bekas pakai, dengan dominasi usia 18-25 tahun sebesar 39% dan usia 26-35 tahun sebesar 36%. Alasan utama mereka adalah harga yang lebih terjangkau (73%), mencari model yang unik dan tidak pasaran (48%), serta alasan lingkungan (22%).
Di platform e-commerce, kategori “Baju Bekas” atau “Preloved” selalu menempati posisi puncak dalam penelusuran. Data mengungkapkan bahwa transaksi di kategori thrift dan preloved mengalami pertumbuhan signifikan, didorong oleh para pelaku UMKM yang jumlahnya mencapai ribuan. Mereka telah menjadi usaha mikro yang serius dengan omset yang tidak bisa dianggap remeh. Sebuah riset kecil terhadap pelaku usaha thrifting online di Jawa Barat menunjukkan bahwa 55% di antaranya mampu mencapai omset antara Rp 5 hingga 15 juta per bulan, sebuah angka yang membuktikan kontribusi riil sektor ini.
Fungsi thrifting sebagai “doping ekonomi” bersifat multilapis dan lintas zaman. Bagi konsumen, di tengah tekanan inflasi, thrifting menjadi solusi rasional untuk memenuhi kebutuhan gaya tanpa membebani anggaran. Ia meningkatkan daya beli masyarakat, khususnya kalangan muda dengan daya finansial terbatas namun memiliki aspirasi gaya yang tinggi. Inilah yang disebut sebagai “efek pendapatan” dari thrifting. Bagi penjual, thrifting telah membuka lapangan kerja dan usaha yang sangat luas. Ia menyerap tenaga kerja dalam proses kurasi, fotografi, hingga logistik.
Bagi banyak ibu rumah tangga dan mahasiswa, berjualan barang thrift menjadi sumber penghasilan tambahan yang sangat berarti dan batu loncatan untuk mempelajari dasar-dasar berjualan online dengan modal relatif minim. Sebagaimana dinyatakan dalam sebuah penelitian, usaha thrifting merupakan bentuk ekonomi kreatif yang mampu bertahan di tengah gejolak karena fleksibilitas dan model bisnisnya yang berbasis digital. Pada level makro, budaya thrifting sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular. Lewat memperpanjang siklus hidup produk tekstil, kita mengurangi beban impor dan menekan volume sampah fashion yang sangat masif. Data memperkirakan bahwa setiap tahunnya Indonesia menghasilkan 2,3 juta ton sampah tekstil, dan thrifting menjadi salah satu solusi mitigasi yang efektif. Dengan demikian, thrifting tidak hanya mendoping ekonomi mikro, tetapi juga berkontribusi pada penghematan biaya sosial-lingkungan yang harus ditanggung oleh negara.
Meskipun potensinya besar, ekosistem thrifting di Indonesia masih menghadapi tantangan seperti isu impor, ilegal, higienitas dan originalitas barang, serta regulasi yang masih abu-abu. Ke depan, untuk memaksimalkan fungsi “doping”nya, edukasi kepada konsumen, standardisasi kualitas, dan sinergi dengan pemerintah untuk merumuskan regulasi yang melindungi tanpa mematikan inovasi menjadi langkah-langkah krusial. Thrifting telah membuktikan dirinya lebih dari sekadar tren. Ia adalah sebuah budaya populer yang resilien, sebuah respons cerdas atas tantangan ekonomi dan lingkungan, dan sebuah jaring pengaman sosial yang tumbuh organik dari bawah. Ia adalah doping ekonomi yang manjur, disuntikkan oleh semangat kreativitas dan keinginan untuk bertahan, melintasi zaman dan fluktuasi ekonomi. Maka, merangkul dan memberdayakan ekosistemnya bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan.
Trending Now