Konten dari Pengguna

Kenikmatan Sementara, Kerusakan Jangka Panjang

Davina Najmah Mumtaz
Mahasiswi S1 Gizi Universitas Airlangga
14 Desember 2025 13:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Kenikmatan Sementara, Kerusakan Jangka Panjang
Self reward adalah hal yang wajar bagi remaja untuk memberi apresiasi atas pencapaian dan usaha, tapi saat ini banyak yang memilih makanan manis dan fast food sebagai bentuk reward. #userstory
Davina Najmah Mumtaz
Tulisan dari Davina Najmah Mumtaz tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi makanan cepat saji Foto: dok.shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi makanan cepat saji Foto: dok.shutterstock
Self reward atau penghargaan terhadap diri sendiri adalah hal yang wajar di kalangan remaja yang berfungsi sebagai cara memberi apresiasi atas usaha dan pencapaian, baik setelah melewati tugas berat, ujian, atau tantangan lainnya. Memberi hadiah kepada diri sendiri menjadi sumber motivasi dan penyemangat agar remaja dapat terus berprestasi.
Namun, pola self reward yang popular saat ini di kalangan remaja justru mengarah pada konsumsi makanan dan minuman manis, seperti es krim, cokelat, soda, serta fast food, seperti burger, pizza, dan kentang goreng.
Fenomena ini berkembang seiring berkembangnya kemudahan akses teknologi dan budaya instan yang membuat makanan cepat saji menjadi solusi utama dalam merayakan keberhasilan, sekaligus mencari kenyamanan emosional dengan cepat tanpa perlu usaha yang besar. Penekanan pada kenikmatan instan ini menyimpan risiko signifikan yang membayangi kesehatan fisik dan mental para remaja.
Konsumsi makanan dan minuman tinggi gula serta fast food yang kaya kalori, lemak jenuh, dan garam secara berlebihan telah menjadi faktor utama lonjakan angka overweight dan obesitas di kalangan anak dan remaja secara global. Laporan WHO mengungkapkan bahwa prevalensi overweight pada anak usia 5-19 tahun melonjak dari hanya 8% pada tahun 1990 menjadi 20% pada tahun 2022.
Ilustrasi Obesitas. Foto: Shutterstock
Obesitas pada usia ini meningkatkan risiko diabetes tipe 2, gangguan metabolisme, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, stroke, hingga berbagai kanker yang muncul lebih dini. Konsekuensi jangka panjang lainnya termasuk menurunnya kualitas hidup dan produktivitas kaum muda di masa depan.
Di Indonesia, data Kementerian Kesehatan tahun 2023 mencatat prevalensi overweight pada anak usia 5-12 tahun mencapai 19,7%, dan pada remaja usia 13-15 tahun mencapai 16%. Penyebab utama adalah pergeseran pola makan yang menggantikan makanan bergizi seimbang dengan junk food serta minuman manis yang popular sebagai bentuk self reward.
Kondisi ini berpotensi membebani sistem layanan kesehatan nasional dan menghambat daya saing generasi muda Indonesia. Perubahan kebiasaan yang keliru terhadap self reward ini perlu mendapat perhatian serius karena pengaruhnya sangat luas.
Selain berdampak pada kesehatan fisik, penggunaan makanan cepat saji dan minuman manis sebagai self reward berpotensi menciptakan ketergantungan emosional yang dikenal dengan emotional eating. Pola ini membuat remaja kesulitan membedakan kebutuhan nutrisi tubuh dengan keinginan yang muncul akibat tekanan emosional atau stress belajar.
Ilustrasi makanan di restoran. Foto: Shutterstock
Ketika rasa puas dan penghargaan hanya diperoleh melalui makanan tertentu, hubungan sehat dengan makanan menjadi terganggu, sehingga berisiko menyebabkan perilaku makan kompulsif yang merugikan kesehatan secara psikologis maupun fisik.
Berbagai studi menunjukkan bahwa konsumsi fast food dan minuman manis yang berlebihan berkaitan erat dengan peningkatan risiko depresi, kecemasan, serta penurunan performa akademik akibat gangguan emosi dan stress yang tidak terselesaikan secara sehat.
Di tengah budaya digital dan media sosial yang sering mengglorifikasi makanan ini sebagai simbol kebahagiaan instan dan gaya hidup keren, remaja semakin sulit menemukan dan mengadopsi cara bagaimana perilaku self reward dapat menjadi jebakan emosional yang mengikis keseimbangan jiwa dan raga.
Ilustrasi self healing. Foto: U__Photo/Shutterstock
Fenomena self reward melalui makanan cepat saji tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial dan budaya masa kini, terutama di lingkungan perkotaan dan Generasi Z. Terbatasnya waktu, tekanan pergaulan, dan pengaruh media sosial yang kuat membuat remaja cenderung memilih cara reward yang praktis dan mudah diakses. Lingkungan sekolah dan komunitas teman sebaya mempopulerkan kebiasaan ini dan menghalangi perubahan perilaku menuju pola self reward yang lebih sehat.
Situasi ini menjadi tantangan besar karena reward—yang pada hakikatnya dapat memperkuat semangat dan karakter—berubah menjadi perilaku konsumsi yang berlebihan dan tidak berkelanjutan. Hal ini juga menggambarkan urgensi untuk mengintegrasikan edukasi gizi dan kesehatan emosional dalam kurikulum pendidikan serta peran aktif keluarga dalam mengarahkan remaja memilih pola hidup sehat yang berimbang.
Peralihan menuju pola self reward yang sehat dapat dilakukan secara bertahap dengan menerapkan kebiasaan baru yang realistis dan menyenangkan agar mudah diadopsi remaja. Salah satu langkah praktis adalah membatasi porsi makanan cepat saji dan memilih alternatif lebih sehat, seperti salad, buah, atau minuman rendah gula.
Ilustrasi anak makan makanan manis. Foto: Dmitry Lobanov/Shutterstock
Mengganti frekuensi konsumsi makanan manis dengan aktivitas non-makanan yang memberi kepuasan emosional—misalnya jalan santai selama 15 menit, mendengarkan musik favorit, menulis jurnal pribadi, membaca buku, atau melakukan hobi yang disukai—juga dapat membantu menjaga kestabilan emosi dan mengurangi ketergantungan pada makanan sebagai reward.
Edukasi gizi dan kesehatan mental dari keluarga, sekolah, serta media massa sangat berperan penting untuk meningkatkan kesadaran akan dampak negatif konsumsi berlebihan fast food dan minuman dengan kandungan gula. Wadah komunitas atau kelompok studi yang mendukung gaya hidup sehat dan aktivitas produktif dapat menjadi lingkungan positif untuk menumbuhkan kebiasaan self reward yang sehat.
Pemanfaatan teknologi—seperti aplikasi pengingat (habit tracker) atau jurnal digital—juga dapat dimanfaatkan untuk memotivasi dan mencatat pencapaian, sehingga remaja memiliki alat bantu dalam membangun pola reward yang bernilai lebih tinggi.
Pemahaman mengenai hubungan antara self reward yang hanya memberikan kenikmatan instan melalui makanan manis dan fast food dengan jangka panjang dampak pada kesehatan fisik dan mental menjadi kunci penting untuk membangun kesadaran di kalangan remaja.
Ilustrasi keluarga. Foto: Shutterstock
Dengan dukungan keluarga, sekolah, masyarakat, dan sinergi edukasi efektif, pola self reward yang sehat dan bermakna bukan hanya sebuah pilihan gaya hidup, melainkan investasi strategis demi kualitas hidup dan produktivitas generasi mudah ke depan.
Self reward yang seimbang dan membangun adalah reward yang memperkuat jiwa dan raga sekaligus, bukan sekadar memanjakan lidah dan perasaan sesaat tanpa memperhatikan konsekuensi kesehatan.
Dengan transformasi kebiasaan yang dilakukan secara bertahap dan konsisten, remaja dapat lebih siap dan tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan, serta memberikan kontribusi positif bagi bangsa dan negara.
Mewujudkan budaya penghargaan diri yang sehat dan produktif adalah langkah bersama untuk melahirkan generasi muda yang tidak hanya cerdas dan berprestasi, tetapi juga sehat jasmani dan rohani dalam menghadapi masa depan penuh peluang dan tantangan.
Trending Now