Konten dari Pengguna

Menghidupkan Semangat Adiwiyata lewat Pembelajaran Kultural Responsif

Dela Novi Ardani
Mahasiswa Pendidikan Sosiologi, Universitas Negeri Jakarta
18 Oktober 2025 11:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Menghidupkan Semangat Adiwiyata lewat Pembelajaran Kultural Responsif
Menanam pohon itu penting, tapi menanam kesadaran jauh lebih berharga. Inilah cara menghidupkan kembali semangat Adiwiyata melalui pembelajaran yang berpihak pada budaya siswa. #userstory
Dela Novi Ardani
Tulisan dari Dela Novi Ardani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Buku Membaca belajar Sekolah Hijau. Sumber: StockSnap Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Buku Membaca belajar Sekolah Hijau. Sumber: StockSnap Pixabay

Adiwiyata yang Perlu Dihidupkan Kembali

Adiwiyata merupakan gagasan pendidikan yang bertujuan membentuk sekolah berbudaya lingkungan dengan menanamkan nilai kepedulian terhadap alam dalam seluruh aktivitas pendidikan. Program ini memiliki visi membangun warga sekolah yang berkarakter ekologis melalui kebiasaan sehari-hari yang mencerminkan tanggung jawab dan cinta terhadap lingkungan.
Meskipun memiliki dasar filosofi yang kuat, praktik di lapangan sering kali menunjukkan bahwa penerapan Adiwiyata masih terbatas pada kegiatan seremonial, seperti penanaman pohon atau lomba kebersihan. Padahal, hakikat Adiwiyata tidak berhenti pada kegiatan fisik, tetapi menuntut perubahan paradigma dan perilaku ekologis yang menyatu dalam budaya sekolah. Semangat tersebut memerlukan pembaharuan cara pandang agar pendidikan lingkungan hidup bukan hanya sekadar proyek administratif, melainkan juga proses pembelajaran yang bermakna, berkesinambungan, dan kontekstual.
Upaya menghidupkan kembali semangat Adiwiyata perlu dimulai dari ruang kelas, tempat di mana guru berperan penting dalam membentuk pemahaman dan sikap peserta didik. Pendidikan lingkungan hidup tidak cukup hanya disampaikan dalam bentuk teori, tetapi harus dihadirkan dalam proses belajar yang menyentuh nilai, budaya, dan pengalaman nyata siswa.
Salah satu pendekatan yang dapat menjembatani kebutuhan tersebut adalah pembelajaran kultural responsif atau Culturally Responsive Teaching (CRT). Pendekatan ini berorientasi pada upaya menjadikan budaya peserta didik sebagai bagian integral dari pembelajaran, termasuk dalam konteks pendidikan lingkungan. Dengan mengaitkan nilai-nilai lokal dan kearifan masyarakat sekitar, guru dapat menumbuhkan kesadaran ekologis yang berakar pada identitas budaya peserta didik.

Makna Pembelajaran Kultural Responsif dalam Pendidikan Lingkungan

Ilustrasi murid dan guru. Foto: Thinkstock
Pembelajaran kultural responsif merupakan pendekatan pedagogis yang berlandaskan pada pengakuan terhadap keberagaman budaya sebagai sumber belajar. Konsep ini menempatkan pengalaman, bahasa, dan nilai budaya peserta didik sebagai bagian dari proses pembelajaran yang harus diakui dan dihargai.
Dalam kerangka ini, guru berperan sebagai penyampai pengetahuan dan fasilitator yang mampu membangun jembatan antara konten akademik dengan konteks sosial budaya tempat siswa hidup. Melalui pendekatan ini, peserta didik tidak sekadar memahami materi secara kognitif, tetapi juga secara afektif dan reflektif karena materi yang mereka pelajari memiliki keterkaitan langsung dengan realitas yang mereka alami.
Dalam konteks pendidikan lingkungan, pembelajaran kultural responsif berarti menghadirkan isu-isu ekologis dengan mengaitkannya pada nilai-nilai budaya yang ada di masyarakat. Misalnya, kebiasaan gotong royong membersihkan lingkungan, larangan adat untuk menebang pohon di daerah tertentu, atau tradisi menjaga sumber mata air dapat dijadikan sumber belajar yang relevan.
Dengan demikian, nilai-nilai pelestarian lingkungan tidak dianggap sebagai hal baru, tetapi sebagai kelanjutan dari warisan budaya yang telah hidup di tengah masyarakat. Melalui proses ini, siswa belajar bahwa menjaga alam bukan semata tuntutan kurikulum, melainkan merupakan bagian dari identitas budaya dan moralitas sosial yang diwariskan oleh leluhur mereka.

Sinergi antara Adiwiyata dan Pembelajaran Kultural Responsif

Ilustrasi layanan pendidikan. Foto: Kemenkeu RI
Prinsip utama Adiwiyata adalah menciptakan lingkungan pendidikan yang berkarakter ekologis, partisipatif, dan berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan semangat pembelajaran kultural responsif yang menekankan pentingnya partisipasi aktif, penghargaan terhadap keragaman, dan keterhubungan antara individu dan komunitas. Ketika dua prinsip tersebut disatukan, lahirlah paradigma pendidikan lingkungan yang lebih holistik, yaitu pendidikan yang tidak hanya mengajarkan cara menjaga alam, tetapi juga menumbuhkan kesadaran ekologis yang berakar pada budaya lokal.
Dalam penerapannya, guru dapat mengintegrasikan nilai-nilai Adiwiyata dalam kegiatan intrakurikuler dengan pendekatan kultural responsif. Proses ini dapat dilakukan dengan cara mengaitkan tema-tema pembelajaran dengan isu lingkungan yang nyata di sekitar siswa serta memanfaatkan kearifan lokal sebagai sumber belajar.
Sebagai contoh, dalam pembelajaran sains, guru dapat mengaitkan konsep daur ulang dengan kebiasaan masyarakat setempat dalam mengelola sampah. Dalam pelajaran bahasa, siswa dapat menulis cerita rakyat yang mengandung pesan pelestarian alam. Pada pelajaran seni, mereka dapat membuat karya dari bahan daur ulang yang terinspirasi oleh motif budaya daerah. Melalui kegiatan semacam ini, nilai-nilai Adiwiyata diinternalisasi secara alami karena siswa merasakan bahwa pelajaran tentang lingkungan hidup bukanlah hal yang terpisah dari kehidupan mereka, melainkan bagian dari kehidupan itu sendiri.
Selain itu, penerapan pembelajaran kultural responsif dalam Adiwiyata juga menekankan pentingnya kolaborasi. Keberhasilan program lingkungan di sekolah tidak akan tercapai tanpa keterlibatan seluruh warga sekolah dan masyarakat. Oleh karena itu, kegiatan yang mengaitkan pembelajaran dengan praktik budaya masyarakat seperti gotong royong, peringatan hari lingkungan, atau aksi bersih kampung dapat memperkuat ikatan antara sekolah dan komunitas. Kolaborasi ini menciptakan siklus pembelajaran sosial yang memperluas dampak pendidikan lingkungan dari ruang kelas menuju ruang kehidupan nyata.
Ilustrasi gaya hidup ramah lingkungan. Foto: Shutter Stock
Pendidikan lingkungan yang terintegrasi dengan pendekatan kultural responsif berpotensi melahirkan kesadaran ekologis yang lebih mendalam karena nilai-nilai yang dipelajari siswa bersumber dari realitas budaya yang mereka kenal. Kesadaran ekologis semacam ini tidak lahir dari paksaan, tetapi dari pemahaman diri dan identitas sosial. Ketika peserta didik memahami bahwa budaya mereka mengandung nilai-nilai pelestarian alam, tanggung jawab terhadap lingkungan akan muncul secara sukarela dan berkelanjutan. Dengan demikian, semangat Adiwiyata bukan hanya sebagai proyek sekolah, melainkan gerakan budaya yang menanamkan cinta terhadap alam melalui pemaknaan kembali terhadap tradisi dan pengetahuan lokal.
Guru memiliki peran kunci dalam proses ini karena guru adalah penggerak utama yang mampu menanamkan nilai, menumbuhkan kesadaran, dan membangun kebiasaan ekologis di kalangan siswa. Untuk itu, guru perlu memiliki kesadaran reflektif terhadap nilai-nilai budayanya sendiri dan keterbukaan untuk belajar dari keberagaman budaya siswa. Dengan bekal tersebut, guru dapat merancang pembelajaran yang tidak hanya mengajarkan konsep lingkungan, tetapi juga membentuk sikap empatik dan tanggung jawab ekologis.
Menghidupkan semangat Adiwiyata melalui pembelajaran kultural responsif adalah langkah strategis dalam memperkuat pendidikan lingkungan di sekolah. Adiwiyata akan benar-benar hidup apabila setiap guru mampu menanamkan nilai-nilai lingkungan dalam keseharian pembelajaran dengan memanfaatkan potensi budaya lokal. Dengan demikian, sekolah bukan hanya menjadi tempat menimba ilmu, melainkan juga menjadi ruang untuk menumbuhkan generasi yang berpikir ekologis, berperilaku arif terhadap alam, dan bangga terhadap budayanya.
Trending Now