Konten dari Pengguna
Menjadi Sosok yang Baik, Tidak Hanya Bagi Doi, tapi juga Bagi Negara
19 Desember 2021 13:56 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Menjadi Sosok yang Baik, Tidak Hanya Bagi Doi, tapi juga Bagi Negara
Menjadi warga negara yang baik sesungguhnya sesederhana berusaha menjadi sosok yang baik bagi si dia, yang spesial di dalam hidupmu.Della Kurnia
Tulisan dari Della Kurnia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ibaratnya seperti sebuah hubungan berpacaran, demikianlah relasi antara kita, warga negara, dan negara. Selalu ada keinginan untuk menjadi baik bagi satu sama lain demi kelancaran hubungan, meski sering kagok karena belum paham mesti bagaimana.
Pandemi dan pacaran, dua kata yang sama-sama dimulai dari huruf P
Sudah hampir dua tahun berlalu dan pandemi masih tak kunjung usai. Kebanyakan dari kita kini terlampau jenuh karena rindu beraktivitas di luar rumah—rindu berkumpul dengan sanak saudara, atau sekadar kongkow bersama teman di kedai kopi langganan. Perlahan kepatuhan akan anjuran 7M dan protokol kesehatan ikut longgar. Lama-lama masker hanya jadi aksesoris biasa. Kerumunan juga mulai muncul lagi. Padahal pandemi masih berlangsung, bahkan varian-varian baru telah ditemukan.
Mestinya ini bukan lagi perkara sulit. Sedari kecil, kita sudah begitu akrab bukan dengan nilai-nilai gotong royong? Dulu waktu kecil, memang, kita akrab dengan gotong-royong yang model berkumpul hari Minggu pagi dengan peralatan tempur lengkap demi kinclongnya kompleks. Namun, nilai gotong-royong sebenarnya lebih dari itu. Dengan bersama-sama menaati prokes, kita sesungguhnya sedang bergotong-royong untuk menangani persebaran virus ini.
Anggaplah seperti sedang mengalami masalah dalam sebuah hubungan. Kalau hanya salah satu saja yang berusaha, 'kan, tidak ada gunanya lagi hubungan itu dilanjutkan? Begitulah kita dan negara, mesti bisa saling mendukung supaya tujuan dicapai.
Kalau masih banyak dari kita yang ngeyel, seketat apa pun kebijakan oleh pemerintah tetap saja tidak akan efektif. Kepatuhan ini pun sebenarnya adalah cara bagi kita agar dapat melindungi diri sendiri dan orang-orang yang kita sayang, selain memang sebagai warga negara yang baik, sudah kewajiban kita untuk tunduk pada hukum dan aturan pemerintah.
Lebih dari itu, kita juga adalah agen perubahan dan agen kontrol sosial. Ini artinya kita mesti bisa cepat tanggap dengan perubahan, termasuk ketika berada dalam kondisi yang emergency seperti sekarang ini. Tiba-tiba dibatasi pergerakannya, tiba-tiba mesti melakukan semuanya hanya melalui layar monitor, tiba-tiba mesti terbiasa dengan encok di pinggang karena terlalu lama duduk menatap layar. Sebab, sekali lagi, tiap protokol kesehatan yang kita lakukan sejatinya adalah tindakan yang ditujukan untuk menjaga satu sama lain.
Terdengar sepele memang, tapi ternyata hal demikian adalah salah satu upaya yang bisa kita lakukan mengamalkan Pancasila—dengan mengutamakan kepentingan umum dibanding beberapa individu saja. Lewat kontrol sosial demikian, kita akan layak mendapat titel sebagai agent of change, sebab berhasil membuat perubahan berarti meski lingkupnya hanya di sekitar saja.
(Ah, bayangkan bila kita semua memahami ketentuan protokol kesehatan yang menggerahkan itu sebagai suatu aksi seheroik dan senasionalis ini. Apa mungkin persebaran virus bisa jauh lebih ditekan?)
Menjadi sosok yang baik, tidak hanya bagi doi, tetapi juga bagi negara
Sudah pernah dengar tentang civic virtue atau kebajikan kewarganegaraan?
Sederhananya, konsep itu bicara tentang sejauh mana kita mau mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi. Terdengar seperti nilai gotong-royong kita, 'kan? Nah, menurut Quigley dan Bahmueller, kebajikan kewarganegaraan (civic virtue) punya setidaknya dua unsur, yaitu sikap perilaku dan komitmen kita sebagai warga negara. Sama seperti bagaimana sebuah relasi berpacaran hanya akan berjalan lancar bila kita dan pasangan saling mendukung dan berkomitmen, demikian juga seluruh upaya menangani pandemi ini. Perlu ada komitmen yang ditunjukkan lewat perilaku taat prokes. Jelas akan sangat sulit jika hanya negara yang berupaya untuk menekan persebaran virus lewat seruan-seruan prokesnya, tetapi kita masih saja bertingkah semaunya.
Pada akhirnya, komitmen berdisiplin menerapkan prokes sebenarnya menjadi kunci utama menghadapi pandemi Covid-19. Sama seperti bagaimana komitmen juga adalah kunci dari kelancaran hubungan dengan si doi.
Memang virus tidak langsung hilang dalam sekejap mata hanya karena kita berdisiplin, tetapi pasti akan ada perbedaan signifikan pada hasil upaya kita menangani pandemi.

