Konten dari Pengguna
Generasi 1990-an dan 2000-an yang Tumbuh Bersama Dunia dengan Televisi Swasta
27 Oktober 2025 15:35 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Generasi 1990-an dan 2000-an yang Tumbuh Bersama Dunia dengan Televisi Swasta
Generasi 1990-an dan 2000-an adalah "Anak Semua Bangsa". Mereka besar bersama Anime Jepang, serial kolosal Tiongkok, Telenovela Amerika Latin, Film India, dan Drama Korea.Dendy Raditya Atmosuwito
Tulisan dari Dendy Raditya Atmosuwito tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Terdapat suatu waktu, sebuah masa yang kini terasa seperti mimpi, di penghujung abad kedua puluh dan gerbang abad kedua puluh satu. Sebuah sore hari di Indonesia, ketika anak-anak pulang sekolah atau baru selesai mengaji, dan keluarga-keluarga berkumpul di depan sebuah kotak ajaib. Televisi, pada masa itu, bukanlah sekadar perabot elektronik. Ia adalah pelabuhan, sebuah jendela yang tembus pandang ke lorong-lorong waktu dan ruang, membawa dunia langsung ke ruang tamu kita yang sederhana.
Di masa itu, sebelum algoritma media sosial mengurung kita dalam "ruang gema" (echo chamber) yang sempit, layar kaca kita adalah sebuah menu gado-gado global yang luar biasa kaya. Kita, generasi yang tumbuh di era 1990-an hingga awal 2000-an, mungkin tidak menyadarinya saat itu. Kita hanya menikmatinya sebagai hiburan. Namun, secara diam-diam, kita sedang menjalani sebuah proses pendidikan kosmopolitan yang paling intensif. Kita tidak hanya sedang menonton televisi, kita sedang menyerap dunia.
Kita, yang tumbuh di era itu, adalah sebuah generasi hibrida. Sebuah generasi yang dibentuk oleh fondasi nilai-nilai lokal, namun referensi kulturalnya melampaui batas-batas negara. Kita adalah "Anak Semua Bangsa" yang sesungguhnya, meminjam istilah indah Pramoedya Ananta Toer, bukan karena kita membaca buku-buku Eropa seperti Minke, tetapi karena dunia datang kepada kita melalui gelombang antena UHF.
Coba kita ingat-ingat menu harian kita. Pagi hari di akhir pekan, kita sarapan sambil menyerap etos ganbatte (pantang menyerah) dari Jepang. Kita belajar filosofi setia kawan dari One Piece, menghafal jurus Kamehameha dari Dragon Ball, dan meresapi dilema moral para pilot Gundam. Dari mereka, kita tidak hanya mengimpor mainan robot-robotan, kita mengimpor etika kerja, disiplin, dan gagasan bahwa kerja keras bisa menantang takdir.
Layar berganti. Kita tidak lagi hanya di daratan Tiongkok, kita ikut dalam pengembaraan spiritual ke Barat. Serial Kera Sakti yang ditayangkan televisi swasta kita menjadi semacam ngaji falsafah yang dibungkus komedi kungfu. Kita tidak sedang menonton pertarungan. Kita sedang menyaksikan metafora perjalanan batin manusia. Kita belajar bahwa "Sun Go Kong" (Akal kita yang brilian, sakti, namun arogan) harus tunduk pada "Biksu Tong" (Hati nurani kita yang polos namun punya niat lurus). Kita melihat diri kita dalam "Ti Pat Kai" (Nafsu perut dan syahwat kita) yang selalu mengeluh dan ingin menyerah. Dan kita berharap punya kesetiaan "Wu Ching" (Ketekunan atau laku kita) yang diam-diam memikul beban. Kita hafal di luar kepala liriknya: "Kera Sakti... Liar, nakal, brutal...". Dari mereka, kita belajar tentang kebijaksanaan, dan bahwa perjalanan spiritual paling berat adalah mengelola tim disfungsional yang ada di dalam diri kita sendiri.
Siang hari, ruang keluarga kita mungkin dikuasai oleh drama dari belahan dunia yang lain, Amerika Latin. Telenovela, dengan segala intrik dan hiperbolanya, menjadi tontonan wajib. Kita dibuat gemas oleh keluguan Marimar, tersentuh oleh perjuangan Esmeralda, atau ikut bernyanyi bersama Amigos x Siempre. Ini bukan lagi soal etos kerja atau filsafat yang berat. Ini adalah pelajaran tentang gairah. Tentang cinta yang membara, amarah yang meledak-ledak, tangisan yang dramatis, dan intrik keluarga yang lebih rumit dari benang kusut. Dari para Senorita dan Senor itu, kita belajar tentang sisi lain kemanusiaan: emosi yang mentah dan tak terduksi.
Lalu, pada malam-malam tertentu, televisi berubah menjadi panggung ekstravaganza dari India. Kita terpapar pada kemegahan Bollywood. Shah Rukh Khan dan Kajol mengajarkan kita bahwa cinta adalah alasan yang sah untuk menari di tengah hujan di bawah pohon, atau berlari melintasi padang rumput dengan sari terentang. Kita belajar tentang pentingnya ikatan keluarga, tentang konflik antara tradisi dan modernitas, dan tentu saja, tentang musik dan tarian sebagai ekspresi emosi yang paling jujur.
Dan tepat di pengujung era itu, gelombang baru datang dari Korea. Ini adalah Hallyu pertama. Ini bukan lagi soal gairah Latin atau tarian India yang meriah. Ini adalah perkenalan kita pada melankoli yang estetik. Lewat Endless Love dan Winter Sonata, kita belajar tentang cinta yang tertahan, tentang rindu yang disampaikan lewat tatapan mata, dan tentang palet warna yang muram namun indah.
Apa yang dihasilkan dari menu budaya campur aduk ini? Lahirlah sebuah generasi yang unik. Sebuah generasi yang referensi batinnya tidak tunggal, tidak monolitik. Di kepala kita, nilai-nilai Bushido Jepang bisa duduk semeja dengan melodrama Amerika Latin. Filosofi Tiongkok bisa berdialog dengan perayaan emosi ala Bollywood. Kita bisa memahami semangat juang Son Goku sekaligus kepasrahan melankolis Choi Ji-woo.
Kita menjadi generasi yang paling siap menghadapi globalisasi, bahkan sebelum kita mengerti apa arti kata globalisasi itu sendiri. Kita tidak mengalami gegar budaya (culture shock) ketika K-Pop meledak hari ini, karena kita adalah angkatan pertama yang menyerap Hallyu. Kita tidak asing dengan etos kerja Jepang, karena kita telah dilatih oleh anime sejak kecil.
Identitas kita adalah sebuah mozaik. Kita, generasi 1990-an & 2000-an adalah "Anak Semua Bangsa". Kita dibesarkan oleh seorang ibu pertiwi, namun kita diasuh oleh begitu banyak ibu angkat dari seluruh penjuru dunia, yang datang setiap hari melalui layar kaca.

