Konten dari Pengguna

Nara Shikamaru: Bayangan Yang Menopang Cahaya

Dendy Raditya Atmosuwito
Penulis Esai dari Bantul Yogyakarta
23 Oktober 2025 13:26 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Nara Shikamaru: Bayangan Yang Menopang Cahaya
Shikamaru memperlihatkan bahwa nilai seorang manusia bisa diukur dari kemampuannya untuk mengambil jeda, berpikir, dan memahami. Ia adalah bayangan yang menopang cahaya.
Dendy Raditya Atmosuwito
Tulisan dari Dendy Raditya Atmosuwito tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Nara Shikamaru Melihat Awan
zoom-in-whitePerbesar
Nara Shikamaru Melihat Awan
Sebagai penonton lakon-lakon kehidupan, kita punya kecenderungan alami untuk menyorot mereka yang paling berkilau. Kita, misalnya, terpesona pada Naruto dengan semangat api dan cadangan chakra dari Kurama seukuran samudra. Kita terpukau pada Sasuke dengan tatapan matanya yang dingin dan kekuatan yang didapat dari kebencian mendalam. Mereka adalah pusat panggung, para "aktor" utama yang menggerakkan cerita dengan kekuatan dan idealisme mereka.
Lalu, di sudut yang sedikit temaram, ada satu sosok yang seringkali kita lupakan. Sosok yang, jika boleh memilih, lebih suka berbaring menatap awan sambil bergumam "mendokusai" (merepotkan). Dialah Nara Shikamaru. Shikamaru adalah antitesis dari riuh rendah dunia shinobi. Jika yang lain mengandalkan kekuatan, ia mengandalkan pikiran. Jika yang lain berteriak, ia berhitung. Ia adalah seorang manusia strategi, seorang mastermind yang melihat dunia sebagai papan Shogi raksasa, ketika setiap langkah memiliki konsekuensi sepuluh langkah ke depan.
Jika kita meminjam kerangka pikir permainan Shogi, maka Konoha adalah sebuah papan permainan. Naruto mungkin adalah bidak Hisha (Benteng) yang menerjang lurus atau Kaku (Gajah) yang bergerak diagonal dengan kekuatan penghancur. Namun, Nara Shikamaru adalah pemainnya. Ia adalah sosok yang duduk di luar papan, menatap keseluruhan medan, menggerakkan bidak-bidak itu. Ia adalah arsitek di balik sebuah pertempuran.
Shikamaru adalah perwujudan sempurna dari seorang ahli strategi. Ia tidak pernah berada di garis depan untuk beradu Rasengan. Ia berada di belakang, di dalam tenda komando, atau di atas bukit, mengamati medan. Ia menjalankan fungsi-fungsi seorang perencana strategis dengan sempurna. Pertama, ia melakukan analisis situasi ("Oke, kita melawan Akatsuki, apa kekuatan mereka, apa kelemahan kita?"). Kedua, ia merumuskan tujuan ("Ini merepotkan, tapi kita harus melawan untuk melindungi masa depan Konoha"). Ketiga, ia merencanakan strategi gerakan (Formasi Ino-Shika-Cho, atau strategi briliannya menjebak Hidan). Keempat, ia melakukan evaluasi dan adaptasi, terus-menerus mengkalkulasi ulang rencananya begitu ada variabel baru yang muncul di papan permainan.
Kekuatan terbesarnya, Kagemane no Jutsu atau jurus bayangan, adalah metafora untuk seorang ahli strategi. Bayangan tidak memiliki kekuatan destruktif. Ia tidak bisa meledak. Ia hanya mengikat, mengendalikan, dan memanipulasi. Kekuatan bayangan bergantung penuh pada cahaya dan pada eksistensi objek lain. Shikamaru menggunakan kekuatan lawan untuk mengalahkan lawan itu sendiri. Ia tidak melawan arus, ia membelokkan arus itu. Ini adalah puncak efisiensi, prinsip dasar dari setiap strategi: mendapatkan hasil maksimal dengan ongkos minimal. Inilah mengapa ia selalu mengeluh "merepotkan". Keluhan itu adalah ekspresi dari seorang ahli strategi yang dipaksa bekerja di dunia yang tidak efisien, dunia yang boros energi.
Para pengamat menghubungkan mentalitas Shikamaru ini dengan filsafat Stoikisme. Ia adalah seorang Stoik sejati di tengah dunia yang emosional. Ia fokus pada apa yang bisa ia kendalikan (pikirannya, strateginya, bidak Shogi-nya) dan menerima dengan lapang dada apa yang tidak bisa ia kendalikan (kematian gurunya, Asuma, atau sifat impulsif Naruto). Namun, ia bukan pasrah. Kematian Asuma tidak membuatnya meraung-raung membabi buta. Duka itu ia olah. Ia kelola menjadi data, menjadi variabel baru dalam kalkulasinya untuk mengalahkan Hidan. Ia mengubah duka menjadi strategi. Ini bukan sikap dingin atau tak berperasaan, ini adalah sikap matang yang membedakan seorang pemikir dari seorang reaksioner.
Peran inilah yang membuatnya semakin vital seiring berjalannya waktu. Dunia Naruto dan Boruto menjadi semakin kompleks. Masalah tidak lagi hitam putih antara "kebaikan" dan "kejahatan". Dunia menjadi abu-abu, penuh intrik politik, kemajuan teknologi, dan ancaman alien yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan "semangat pantang menyerah" atau jurus terkuat.
Dalam Boruto: Two Blue Vortex, ketika Naruto (sang idealis, sang simbol) dilenyapkan, dunia secara alami beralih kepada siapa? Kepada Shikamaru. Ia terpaksa menjadi Hokage. Ini adalah skenario yang paling ia benci, puncak dari segala "kerepotan". Namun, di sinilah letak ironi sekaligus kehebatannya. Ia berani mengambil keputusan yang paling pahit, yang paling tidak populer, seperti memerintahkan Boruto (anak sahabatnya sendiri) diburu dan dibunuh, demi kalkulasi strategis yang lebih besar untuk keselamatan desa.
Shikamaru memperlihatkan bahwa nilai seorang manusia bisa diukur dari kemampuannya untuk mengambil jeda, berpikir, dan memahami bahwa dalam setiap pertempuran, yang terpenting bukan hanya adu kuat, melainkan juga adu cerdik. Ia adalah bayangan yang menopang cahaya.
Trending Now