Konten dari Pengguna

Naruto dan Pain: Sebuah Dialog tentang Derita, Benci, dan Saling Memahami

Dendy Raditya Atmosuwito
Penulis Esai dari Bantul Yogyakarta
18 Oktober 2025 20:50 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Naruto dan Pain: Sebuah Dialog tentang Derita, Benci, dan Saling Memahami
Dialog antara Naruto dan Pain sejatinya belum usai. Ia terus berlangsung di dalam diri kita setiap hari, setiap kali kita dihadapkan pada pilihan antara membalas sebuah luka atau mencoba memahaminya.
Dendy Raditya Atmosuwito
Tulisan dari Dendy Raditya Atmosuwito tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Naruto vs Pain
zoom-in-whitePerbesar
Naruto vs Pain
Selalu ada panggung-panggung sunyi yang disiapkan sejarah untuk dialog-dialog paling menentukan. Seringkali, panggung itu adalah sebuah lanskap reruntuhan. Di sanalah, di tengah kawah yang menjadi nisan bagi desanya sendiri , Konoha, Uzumaki Naruto berdiri. Di hadapannya bukan sekadar musuh, melainkan sebuah tesis berjalan, sebuah filsafat yang menjelma dalam enam sosok berwajah dingin. Ini bukan lagi sebuah pertarungan, melainkan sebuah sidang, sidang antara kemarahan yang lugu dan sebuah logika perdamaian yang begitu lurus hingga menjadi bengkok dan mengerikan.
Lalu mengalunlah pertanyaan paling purba dari mulut Naruto kepada Pain: Kenapa? Sebuah pertanyaan yang mewakili setiap jiwa yang tercabut, setiap batu yang hancur, dan terutama, setiap kenangan tentang sang guru, Jiraiya, sosok pengasuh bagi Naruto yang dibunuh Pain. Itu adalah pertanyaan seorang anak manusia yang menuntut pertanggungjawaban dari langit. Namun, langit itu menjawab dengan suara yang tenang dan terukur, dengan dalil yang membuat kita semua terhenyak. “Untuk menciptakan perdamaian dan membawa keadilan,” kata Pain. Tunggu dulu, sebentar. Sejak kapan keadilan dan perdamaian harus ditebus dengan pembantaian massal? Sejak kapan cita-cita agung butuh tumbal darah sebanyak itu? Di sinilah kita mulai curiga, bahwa jargon-jargon besar seringkali hanya menjadi topeng bagi keputusasaan yang paling dalam.
Pada titik inilah tragedi di Konoha tersebut menemukan lapisannya yang paling kelam, sebuah ironi yang membuat hati terasa ngilu. Naruto dan Nagato, sang pengendali Pain, sejatinya bukanlah dua orang asing yang bertemu di medan perang. Mereka adalah saudara seperguruan, dua ahli waris dari mahaguru yang sama, Jiraiya. Dari sumber mata air yang sama itulah keduanya minum. Jiraiya menanamkan benih yang sama pada keduanya: sebuah mimpi tentang dunia tanpa kebencian, di mana manusia bisa saling memahami. Namun, benih itu jatuh di dua ladang yang berbeda. Di ladang jiwa Nagato yang telah telanjur diracuni oleh trauma perang, benih itu tumbuh menjadi pohon keyakinan yang bengkok dan berbuah pahit. Sementara di ladang jiwa Naruto, benih itu, entah bagaimana, berhasil menemukan cahaya. Pertarungan mereka, dengan demikian, bukan lagi sekadar duel, melainkan sengketa tafsir atas warisan sang guru.
Pain, atau lebih tepatnya Nagato, sang jiwa yang bersembunyi di baliknya, adalah murid paling tekun dari sekolah penderitaan. Ia mengajukan sebuah dalil yang kita kenal sebagai “Lingkaran Kebencian”. Ia berbisik bahwa sejarah tak lain adalah gema dari balas dendam yang bersahut-sahutan. Satu luka menuntut luka baru, satu tangis melahirkan tangis berikutnya. Dan kita, yang membaca sejarah peradaban, tahu bahwa bisikan itu ada benarnya. Dari perang suku hingga perang dunia, logika ini terus berulang. Nagato tidak sedang mengarang, ia hanya membaca sejarah dengan terlampau jujur, lalu menyerah padanya. Ia menjadi produk sempurna dari kekejaman dunia yang ingin ia hapuskan.
Maka lahirlah paradoks yang paling menyedihkan itu. Demi mengakhiri penderitaan, Nagato justru menjadi agen penderitaan terhebat. Demi menyelamatkan kemanusiaan, ia menanggalkan kemanusiaannya sendiri lapis demi lapis. Ia bahkan menggunakan jasad sahabatnya sebagai salah satu bonekanya, sebuah metafora tragis tentang bagaimana sebuah cita-cita luhur dapat menggerogoti dan mengosongkan jiwa pelakunya hingga yang tersisa hanyalah sebuah prinsip tanpa hati. Ia lupa, bahwa manusia bukanlah sekadar variabel dalam sebuah kalkulasi besar menuju perdamaian utopis.
Namun, dalam setiap sistem logika yang paling rapat sekalipun, selalu ada satu titik lemah, sebuah locus minoris. Dalam argumen Pain yang kokoh, titik lemah itu bukanlah kekuatan yang lebih besar, melainkan sesuatu yang lebih kecil dan rapuh: ingatan. Ingatan Naruto tentang wajah Jiraiya yang tersenyum. Ingatan tentang ikatan-ikatan yang ia jalin dengan susah payah sepanjang hidupnya yang sepi. Di hadapan logika kebencian yang universal, Naruto hanya punya modal yang personal dan partikular. Ternyata, itulah letak kekuatannya. Ia tidak mencoba membantah tesis Pain dengan tesis lain, ia hanya menolak untuk menjadi bagian dari dalil itu.
Di sinilah kita melihat warisan sejati Jiraiya. Ia bukan seorang jenderal atau raja. Ia adalah seorang pengembara, seorang penulis cerita yang sedikit aneh, seorang guru yang mewariskan bukan jurus pamungkas, melainkan sebuah keyakinan yang mungkin dianggap rapuh dan tak bisa diraih. Keyakinan bahwa “akan datang suatu masa, saat manusia dapat benar-benar memahami satu sama lain”. Ini adalah sebuah wasiat yang terdengar naif di tengah dunia yang begitu bising oleh deru senjata. Namun, wasiat inilah yang menjadi sauh bagi Naruto, mencegahnya terseret arus keputusasaan yang sama yang telah menenggelamkan Nagato.
Pada akhirnya, kemenangan Naruto bukanlah sebuah kemenangan fisik. Kemenangan sejatinya terjadi saat ia memilih untuk duduk dan mendengarkan kisah pilu di balik mata kebencian lawannya. Ia tidak menawarkan solusi, ia hanya menawarkan telinga dan hati. Dan dalam keheningan dialog itu, seluruh bangunan filsafat Pain runtuh. Karena kebencian hanya bisa tumbuh dalam ruang hampa pemahaman. Saat pemahaman itu hadir, kebencian kehilangan udaranya. Dialog antara Naruto dan Pain sejatinya belum usai. Ia terus berlangsung di dalam diri kita setiap hari, setiap kali kita dihadapkan pada pilihan antara membalas sebuah luka atau mencoba memahaminya. Pilihan itu, pada akhirnya, adalah pilihan kita sendiri.
Trending Now