Konten dari Pengguna

Siklon Senyar & Rahasia Selat Malaka: Ketika Atmosfer Tumpahkan Miliaran Ton Air

Deni Septiadi
Peneliti Petir dan Atmosfer BMKG
5 Desember 2025 12:30 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Siklon Senyar & Rahasia Selat Malaka: Ketika Atmosfer Tumpahkan Miliaran Ton Air
Siklon Senyar bukan sekadar badai. Ia adalah sinyal perubahan yang mengingatkan kita bahwa atmosfer tropis Indonesia kian dinamis. #userstory
Deni Septiadi
Tulisan dari Deni Septiadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Siklon Senyar. Foto: BEST-BACKGROUNDS/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Siklon Senyar. Foto: BEST-BACKGROUNDS/Shutterstock
Sudah lebih dari seminggu sejak Siklon Tropis Senyar meredup dan punah, tetapi jejak atmosferiknya justru kini semakin jelas. Para peneliti meteorologi melihat Senyar bukan hanya sebagai badai tropis pertama yang mengalami genesis di lorong sempit Selat Malaka, tetapi sebagai fenomena yang membuka babak baru pemahaman kita tentang cuaca ekstrem di Benua Maritim Indonesia (BMI).
Salah satu anomali terbesar Senyar adalah tempat kelahirannya. Selat Malaka bukanlah “laboratorium ideal” badai tropis. Kanal sempit selebar kurang dari 300 km ini terjepit di antara Pegunungan Barisan dan Semenanjung Malaysia. Namun ketika terjadi penguatan aliran monsun baratan, angin dari Samudra Hindia dipaksa memasuki ruang sempit ini. Geometri seperti itu menimbulkan channeling effect; angin akan melambat, konvergensi meningkat, dan vortisitas relatif bertambah menjadi fondasi utama terbentuknya pusaran (vortex).
Pada kasus Senyar, vortisitas absolut di lapisan 850–700 hPa mencapai 4–6 × 10⁻⁵ s⁻¹ — nilai yang sangat tinggi untuk lintang 5–7°LU. Angka ini menunjukkan penguatan rotasi inti badai, karena besarnya vortisitas relatif yang ditambah oleh kontribusi Coriolis. Kombinasi ini menghasilkan pusaran yang cukup kuat untuk menopang struktur siklon, meskipun Senyar tumbuh di selat sempit yang secara klimatologi tidak mendukung. Dengan dukungan angin 70–80 km/jam dan tekanan pusat 998–1000 mb, struktur Senyar memenuhi seluruh kriteria siklon tropis.
Namun demikian, dinamika angin bukan satu-satunya faktor. Atmosfer Indonesia pada akhir November dipenuhi uap air dalam jumlah yang luar biasa. Total Precipitable Water (TPW) mencapai 55–60 kg/m², lebih dari 150% nilai klimatologis normalnya. Catatan BMKG dan Citra Satelit, cakupan hujan ekstrem yang luas mencapai 200-400 mm per hari, artinya atmosfer berpotensi menjatuhkan lebih dari 8–10 miliar ton air dalam sehari di wilayah Sumatra, setara dengan jutaan kolam renang olimpiade. Inilah sebabnya banjir dan longsor meluas, bahkan di wilayah yang sebelumnya tidak tercatat sebagai titik rawan ditambah kerusakan ekologis yang masif.
Awan Cumulonimbus (Cb) yang menjadi “tulang punggung” badai tropis tidak muncul mendadak. Evolusinya mengikuti hierarki konveksi yang dijelaskan oleh Maddox (1980): single-cell → multi-cell → mesoscale convective system yang bertahan minimal 6 (enam) jam. Senyar menunjukkan pola ini secara sempurna, klaster awan konvektif bertahan lebih dari 12 jam, berputar, lalu berubah menjadi bibit siklon sebelum mencapai status sempurna secara penuh.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menganalisis perkembangan signifikan Bibit Siklon Tropis 95B yang teridentifikasi sejak 21 November 2025 di perairan timur Aceh, Selat Malaka. Foto: Dok. BMKG
Anomali Senyar makin menonjol bila dibandingkan siklon tropis yang pernah memengaruhi Indonesia seperti Dahlia, Cempaka, Kenanga, hingga Seroja—semuanya tumbuh di laut terbuka yang luas. Jika melihat sejarah, hanya satu badai yang pernah mendekati keunikannya, yakni Tropical Storm Vamei (2001) di Laut Natuna. Namun Vamei terbentuk di perairan yang jauh lebih terbuka dan tidak diapit dua massa daratan besar. Senyar adalah satu-satunya siklon tropis yang genesis-nya terjadi di kanal sempit Selat Malaka, sehingga layak disebut sebagai salah satu badai tropis paling anomali dalam sejarah meteorologi Indonesia.
Atmosfer saat itu juga diperkeruh oleh kondisi global yaitu MJO fase basah, IOD negatif lemah, serta tanda-tanda aktivitas gelombang tropis seperti Kelvin wave. Dalam radius 2000 km di sekitar Senyar juga muncul beberapa vortex dan low-pressure area yang memperkuat konvergensi regional. Interaksi sistem-sistem ini membuat seluruh suplai uap air dari Samudra Hindia, Laut Cina Selatan, dan ITCZ seakan diarahkan menuju satu titik: Selat Malaka.
Senyar bukan sekadar satu badai; ia adalah sinyal perubahan. Ia mengingatkan kita bahwa atmosfer tropis Indonesia semakin dinamis dan responsif terhadap kombinasi monsun, pemanasan laut, dan gangguan tropis berskala global. Di negara dengan dominasi bencana hidrometeorologi lebih dari 80% setiap tahun, membaca pola ini bukan lagi kebutuhan akademik tetapi keharusan untuk keselamatan bersama.
Trending Now