Konten dari Pengguna
Ketika Teori Spivak Hidup Kembali: Subaltern di Era Demokrasi Semu
28 Oktober 2025 15:26 WIB
Ā·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Ketika Teori Spivak Hidup Kembali: Subaltern di Era Demokrasi Semu
Artikel ini mengulas bagaimana teori Spivak (subaltern) masih relevan di era modern. Melalui kasus Laras Faizati, tulisan ini menyoroti pembungkaman suara perempuan dan kritik terhadap demokrasiDeswinta
Tulisan dari Deswinta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pertanyaan teori Spivak tentang āCan the Subaltern Speak?ā kembali relevan di tengah demokrasi yang hanya tampak bebas di permukaan. Kasus Pembungkaman Laras Faizati jadi cerminnya.
Teori Spivak tentang subaltern menyoroti bagaimana kelompok tertindas, terutama perempuan di dunia pascakolonial yang sering kali tidak memiliki ruang untuk berbicara, atau ketika mereka berbicara, suara mereka tidak benar-benar didengar. Dalam esainya Can the Subaltern Speak?, Spivak menegaskan bahwa perempuan tertindas tidak sekadar ātidak bersuaraā, tetapi lebih parah: sistem kekuasaanlah yang terus-menerus menafsirkan ulang ucapan mereka, hingga maknanya berubah atau hilang sama sekali. Dengan kata lain, suara perempuan bukan hanya dibungkam, tapi juga dikendalikan dan diatur agar sesuai dengan kepentingan yang berkuasa.
Kritik teori Spivak ini sebetulnya mengguncang gagasan kita tentang ākebebasan berbicaraā di masyarakat modern. Ia menunjukkan bahwa kebebasan itu sering kali semu, sebab siapa yang boleh berbicara dan bagaimana mereka didengar masih ditentukan oleh struktur sosial, politik, dan gender. Dalam konteks ini, kolonialisme tak pernah benar-benar pergi, ia hanya berganti wujud menjadi sistem wacana yang tetap meminggirkan suara perempuan dan rakyat kecil.
Realitas ini masih sangat terasa di era sekarang. Meski hidup di tengah kemajuan teknologi dan demokrasi digital, suara perempuan tetap kerap diabaikan atau bahkan dianggap ancaman. Mereka yang berbicara soal ketimpangan sosial, kekerasan negara, atau keadilan gender sering dilabeli ātidak sopanā, ātidak tahu tempatā, bahkan āberbahayaā. Di sinilah relevansi Spivak terasa tajam: diamnya perempuan bukanlah pilihan, melainkan akibat dari sistem yang menolak mendengar mereka.
Kasus Laras Faizati menjadi bukti nyata bahwa subaltern belum benar-benar bisa bicara. Laras, seorang perempuan kritis yang bersuara dalam demonstrasi Agustus 2025 yang menjadi tahanan jaksa dan akan ditahan di rutan bambu apus, justru dikriminalisasi karena menyuarakan kepeduliannya terhadap kondisi bangsa. Dalam surat yang ia tulis dari balik tahanan, Laras menulis dengan nada tegas namun penuh ketenanganāia menceritakan bahwa dirinya dan rekan-rekan lain dianggap ākriminalā hanya karena menyuarakan kekecewaan dan rasa sayang terhadap negeri ini. Ia meminta doa dan dukungan, tapi juga mengingatkan publik bahwa perjuangan mereka bukan sekadar untuk kebebasan pribadi, melainkan agar suara rakyatāterutama perempuanātidak lagi dibungkam. Laras menyampaikan harapan agar negara ini belajar mendengar, bukan menakuti mereka yang bersuara.
Surat itu bukan sekadar pesan personal; ia adalah bentuk perlawanan simbolik terhadap sistem yang berusaha menutup mulut perempuan. Laras berbicara dari ruang yang paling dibatasiādan justru di situlah suara subaltern paling keras terdengar. Dalam kata-katanya, kita melihat keberanian seorang perempuan yang menolak diam, sekaligus luka karena negara yang seharusnya melindungi justru menindas.
Melalui Laras, kita melihat bagaimana Spivak masih relevan: perempuan yang berani melawan tetap harus menghadapi sistem yang berupaya mendefinisikan ulang keberanian itu sebagai ancaman. Kolonialisme kini mungkin hadir dalam bentuk yang lebih halusāmelalui hukum, media, atau opini publik, tapi esensinya sama: membungkam yang berbeda.
Kini, pertanyaannya bukan lagi ābisakah subaltern berbicara?ā, tapi āapakah kita siap mendengarkan ketika mereka berbicara?ā. Karena suara yang dibungkam bukan hanya kehilangan kata, tapi juga kehilangan hak untuk menentukan makna atas dirinya sendiri.

