Konten dari Pengguna

Bencana Kedua Mengitari Korban Pascabanjir di Sumatera

Desi Sommaliagustina
Dosen, Penulis dan Peneliti Universitas Dharma Andalas, Padang
8 Desember 2025 10:30 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Bencana Kedua Mengitari Korban Pascabanjir di Sumatera
Dalam setiap bencana banjir di Indonesia, fase paling berbahaya sering kali bukan ketika air mengalir deras. Bahaya sesungguhnya kerap datang setelah itu: saat kebutuhan kesehatan mulai terabaikan.
Desi Sommaliagustina
Tulisan dari Desi Sommaliagustina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Ibu Dirawat di Rumah Sakit. Foto: wutzkohphoto/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Ibu Dirawat di Rumah Sakit. Foto: wutzkohphoto/Shutterstock
Bencana banjir dan longsor besar yang menelan Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat beberapa hari terakhir telah surut di sebagian wilayah. Namun bagi para korban, cerita belum berakhir. Justru setelah lumpur mengendap dan posko pengungsian mulai penuh, ancaman baru muncul, bayangan penyakit yang mengitari mereka tanpa suara.
Dalam setiap bencana banjir di Indonesia, fase paling berbahaya sering kali bukan ketika air mengalir deras. Bahaya sesungguhnya kerap datang setelah itu: saat kebutuhan kesehatan mulai terabaikan dan penyakit menular berkembang cepat di lingkungan yang rapuh.
Di berbagai posko di Sumut dan Sumbar, relawan mencatat keluhan yang sama: diare, gatal-gatal, demam, batuk berkepanjangan, infeksi kulit, hingga tanda-tanda awal leptospirosis. Keluhan ini muncul hanya beberapa hari setelah warga mengungsi. Beberapa anak mengalami muntah dan diare akibat air minum yang tidak steril; sementara orang dewasa mulai mengeluhkan batuk dan sesak napas setelah tidur berdesakan di ruangan lembap.
Kondisi ini bukan hal baru. Bencana banjir selalu memicu pola yang berulang; air bersih menghilang, sanitasi rusak, genangan muncul di mana-mana, dan tempat tinggal berubah menjadi area padat berisiko tinggi.

Pascabanjir: Penyakit, Air Bersih dan Genangan Air

Begitu banjir merendam pemukiman, sumur warga lumpuh total. Air keruh bercampur lumpur menjadi satu-satunya yang tersisa. Sebagian warga mendapat bantuan air mineral, tetapi jumlahnya tidak merata. Bagi yang tinggal jauh dari pusat kota atau posko besar, mereka masih mengandalkan air yang belum tentu aman.
Inilah pintu masuk diare dan infeksi saluran cerna yang paling cepat menyebar, terutama di antara anak-anak dan lansia. Posko pengungsian adalah penyelamat, tetapi juga bisa menjadi ruang penyebaran penyakit. Ruang besar yang diisi puluhan keluarga tanpa ventilasi cukup memudahkan penyebaran ISPA, influenza, bahkan pneumonia. Hawa lembap dan serba basah memperburuk keadaan.
Para ibu mengeluhkan anak mereka sulit tidur karena batuk. Beberapa posko bahkan kekurangan masker, peralatan medis sederhana, dan stok obat dasar seperti oralit atau antiseptik kulit.
Banjir boleh surut, tetapi genangan tertinggal di mana-mana; halaman rumah, parit, bekas galian, kebun, hingga sela-sela puing bangunan. Semua ini adalah tempat berkembangbiaknya nyamuk.
Di banyak daerah, DBD biasanya melonjak 1โ€“2 minggu setelah banjir. Ini adalah ancaman yang hampir tak terhindarkan jika pengendalian vektor tidak dilakukan sejak dini.
Ketika habitat tikus rusak, mereka mencari tempat baru, sering kali dekat dengan manusia. Air banjir yang bercampur urine tikus bisa menyebabkan leptospirosis. Penyakit ini terlihat โ€œbiasaโ€ di awal, seperti demam dan lemas, tetapi bisa mengarah ke gagal ginjal bila terlambat ditangani.
Relawan kesehatan di beberapa titik melaporkan warga mulai menunjukkan gejala awal yang mengarah ke penyakit ini.

Bencana Kedua Pascabanjir

Untuk mencegah bencana kedua ini berubah menjadi wabah, respons kesehatan harus segera diprioritaskan, bukan ditempatkan di urutan keempat atau kelima setelah logistik dan bantuan sandang.
Pertama, pasokan air bersih harus terjadwal, bukan sekadar sekali-dua kali datang lalu hilang. Warga harus tahu kapan air tiba, bagaimana mensterilkannya, dan mana yang boleh dikonsumsi.
Kedua, setiap posko besar wajib memiliki layanan kesehatan yang aktif. Bukan hanya datang sesekali, tetapi benar-benar standby untuk pemeriksaan harian, konsultasi, dan penanganan awal.
Ketiga, edukasi langsung ke tenda-tenda pengungsi perlu dilakukan. Cara cuci tangan, merebus air, menjaga jarak jika sakit, memisahkan area tidur anak, atau membersihkan luka. Hal kecil yang bisa mencegah masalah besar.
Keempat, pengendalian nyamuk dan kebersihan lingkungan harus segera dilakukan. Fogging, pembagian kelambu, dan pembersihan genangan menjadi prioritas cepat sebelum siklus nyamuk berkembang.
Kelima, pemerintah daerah harus memetakan keluhan kesehatan secara harian. Jika ada peningkatan demam, muntah, atau kasus ISPA di satu titik, intervensi harus dilakukan saat itu juga.
Kita sering terfokus pada fase dramatis dari sebuah bencana: evakuasi, ketinggian air, viral di media, dan foto-foto kerusakan. Tetapi fase yang lebih menentukan justru setelah itu. Ketika kamera mulai berkurang dan berita mulai digeser isu lain, korban di posko masih bertahan dalam kondisi yang tidak nyaman dan rentan penyakit.
Yang perlu diingat. Banjir adalah bencana alam. Tapi penyakit pascabanjir adalah bencana kelalaian. Ribuan korban yang telah selamat dari arus deras tidak boleh dibiarkan menghadapi ancaman yang sebenarnya bisa dicegah.
Sumatera baru memasuki fase pemulihan, tetapi ancaman kesehatan di depan mata ini harus ditangani dengan serius. Pemerintah daerah, relawan, dinas kesehatan, dan masyarakat perlu bergerak serempak agar โ€œbencana keduaโ€ tidak memakan korban.
Korban banjir sudah kehilangan rumah, harta, dan rasa aman. Jangan biarkan mereka kehilangan lebih banyak hanya karena kita terlambat bertindak.
Trending Now