Konten dari Pengguna

Dari Jari Mengklik hingga Jiwa Merenung

Nanda Pratama
Universitas Muhammadiyah Jambi
27 Agustus 2023 5:44 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Dari Jari Mengklik hingga Jiwa Merenung
ditengah revolusi digital media sosial membuat batas kebenaran menjadi rancu, sehingga dalam menjalani hidup perlu adanya kebijaksanaan
Nanda Pratama
Tulisan dari Nanda Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi kukang raksasa dan manusia purba Foto: Alex McClelland/Bournemouth University
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kukang raksasa dan manusia purba Foto: Alex McClelland/Bournemouth University
Dekade 1980-an menandai awal dari sebuah perubahan besar dalam perjalanan manusia. Revolusi digital merebak dengan laju yang tak terbendung, mengubah cara kita hidup, berkomunikasi, bahkan memandang dunia. Bagai ombak yang tak henti memecah pantai, revolusi ini memulai perjalanan dari jari-jari yang mengklik, menciptakan manusia baruβ€”Homo Digitalis.
Dahulu, komputer adalah barang eksklusif yang hanya bisa ditemui di lembaga besar dan negeri. Namun, perlahan ia mekar menjadi komoditas publik. Sebuah transformasi yang berawal dari jari, seperti nama aslinya yang berasal dari digitalis, bahasa Latin untuk jari.
Jari-jari ini yang menggerakkan dunia digital, menghubungkan kita dengan segala hal yang diinginkan. Mulai dari perut yang lapar hingga perasaan yang terluka, dari keinginan untuk makanan lezat hingga rindu akan cinta.
Namun, di tengah kemudahan dan kenyamanan, muncul tantangan besar. Manusia digital terperangkap dalam labirin kebingungan. Antara kebenaran dan kebohongan, fakta dan fiksi, semuanya tampak tercampur aduk.
Ia hanya cenderung memilih informasi yang sejalan dengan pandangannya, membuka jalan bagi kemunculan fanatisme dan kebencian di dunia maya. Tanpa sadar, kita menjadi cyborg, seperempat manusia, tiga perempat mesin.
Ilustrasi informasi digital. Foto: Shutter Stock
Tradisi dan keyakinan lama terlupakan di bawah hiruk-pikuk informasi digital. Budaya modern tumbuh subur dengan teknologi dan ilmu pengetahuan sebagai akar utamanya. Pendiriannya pun bergeser, tak lagi bergantung pada siapa ia di dunia nyata, melainkan seberapa aktif ia di dunia maya. Sebuah pernyataan kuat dari F Budi Hardiman yaitu "Aku klik maka Aku ada."
Di era demokrasi, ketidakgemaran membaca merentangkan pintu untuk disesatkan. Media sosial dirancang untuk merayu perhatian dangkal, menuntun kita pada permukaan yang hanya menghanyutkan.
Secara aneh, sementara teknologi pembelajaran berkembang, kecerdasan semakin terpinggirkan. Hidup mengalir dalam cengkeraman dunia digital, membawa kita menjauh dari keheningan yang merangkul kehidupan.
Namun, tak semua harap hilang. Fenomenologi mengajarkan kita untuk melihat apa adanya. Tanpa penilaian, kebenaran pun bisa terungkap. Puasa digital muncul sebagai solusi. Media sosial ditinggalkan, sementara hubungan nyata dibangun dalam tatap muka. Saatnya untuk merenung lebih dalam, menggali kebenaran di balik sekadar klik.
Teknologi boleh berkembang, tetapi kebijakan ada pada tangan kita. Dalam era algoritma canggih, manusia tetap berdaya mengambil kendali. Dengan sadar, kita bisa berkata "tidak", meredam hiruk-pikuk gawai, dan merangkul dunia nyata sekali lagi. Kita adalah Homo Digitalis, tetapi kita juga masih Homo Sapiens yang mampu berpikir dan merasakan. Puasa digital membuka pintu menuju kembali pada diri sejati, meraih keheningan yang mungkin telah terlupakan.
Trending Now