Konten dari Pengguna

Tentang Suara yang Tak Terdengar dan Tangan yang Mau Menggenggam

Devita Candra K Dewi
Devita Candra adalah mahasiswi Pendidikan IPA Universitas Jember. Ia tertarik menulis tentang isu-isu yang sedang ramai diperbincangkan, dan sedang belajar menuangkan pemikirannya sebagai cara untuk ikut berbagi sudut pandang.
16 Juni 2025 13:05 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Tentang Suara yang Tak Terdengar dan Tangan yang Mau Menggenggam
Setelah pandemi berlalu, banyak orang terlihat baik-baik saja, namun menyimpan luka yang tak terlihat. Artikel ini membahas dampak psikologis jangka panjang pandemi COVID-19, pentingnya empati sosial
Devita Candra K Dewi
Tulisan dari Devita Candra K Dewi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
diakses melalui Foto oleh Pixabay dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/orang-yang-bersandar-di-dinding-236151/
zoom-in-whitePerbesar
diakses melalui Foto oleh Pixabay dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/orang-yang-bersandar-di-dinding-236151/
Setelah pandemi COVID-19 melanda, isu kesehatan mental menjadi semakin penting diperhatikan. Meskipun aktivitas masyarakat kembali normal, tak sedikit individu yang masih bergumul dalam tekanan psikologis, meski dari luar tampak baik-baik saja.
Menurut psikiater Dr. dr. Hervita Diatri, Sp.KJ (K), pandemi tidak hanya berdampak pada aspek fisik, tapi juga memicu lonjakan masalah kesehatan jiwa. “Ada yang sebelumnya sehat, lalu mulai terganggu secara psikis. Ada juga yang sebelumnya memang sudah hidup dalam kekerasan atau masalah sosial lain, dan kondisinya jadi makin berat,” ujarnya dalam sebuah webinar yang digelar awal tahun ini.
Bahkan, data yang dikutip dari Hervita menyebutkan bahwa dalam lima bulan pertama pandemi, 1 dari 5 anak muda usia 15–29 tahun di Indonesia pernah berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Angka itu meningkat menjadi 2 dari 5 setelah satu tahun pandemi, dan mencapai 1 dari 2 orang di tahun awal 2022. Ini menunjukkan bahwa kesehatan mental pascapandemi merupakan masalah serius yang tidak boleh diabaikan.
Namun ironisnya, stigma terhadap isu kesehatan mental masih tinggi. Banyak yang menganggap depresi sebagai bentuk kelemahan, bukan beban yang nyata. “Padahal, untuk bisa mengakui diri sedang tidak baik-baik saja dan mencari bantuan, itu perlu keberanian luar biasa,” tambah Dr. Hervita.
Sikap masyarakat terhadap individu yang mengalami gangguan jiwa masih jauh dari ideal. Alih-alih mendapat dukungan, banyak penyintas justru merasa dihakimi, dikucilkan, bahkan disalahkan. Fenomena ini menunjukkan betapa pentingnya menghidupkan kembali nilai-nilai luhur dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia.
Dalam konteks ini, nilai kemanusiaan yang adil dan beradab sebagaimana termuat dalam sila kedua Pancasila menjadi sangat relevan. “Menjadi manusia yang beradab tidak selalu berarti memberikan solusi besar, kadang cukup dengan hadir, mendengar, dan tidak menghakimi,” ujar psikolog klinis M. Rizal Fadillah dari Lembaga Psikologi Sosial Nusantara.
Lebih dari itu, pendekatan kolektif yang menumbuhkan empati dan solidaritas sosial merupakan cerminan dari nilai persatuan Indonesia. Bahwa kita hidup bersama sebagai satu bangsa, dan seharusnya saling menjaga satu sama lain—bukan hanya saat bencana datang, tapi juga dalam keseharian ketika ada yang merasa terpuruk sendirian.
Kesehatan mental juga merupakan bagian dari hak asasi manusia (HAM). Dalam Pasal 28H ayat (1) UUD 1945, disebutkan bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, termasuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Artinya, negara wajib hadir dalam menyediakan akses bantuan psikologis yang merata dan bebas stigma.
“Kalau kita bicara HAM, maka hak untuk merasa aman, sehat secara mental, dan bebas dari diskriminasi itu bagian yang tak terpisahkan,” kata Direktur Eksekutif Komnas Perempuan Andy Yentriyani. Menurutnya, pendekatan keadilan sosial tidak bisa berhenti pada angka-angka, tapi harus menjangkau perasaan manusia yang sedang berjuang.
Sementara itu, gerakan solidaritas masyarakat seperti layanan konseling gratis, ruang aman bercerita, dan kampanye kesehatan jiwa mulai tumbuh di berbagai daerah. Misalnya, Komunitas Peduli Sesama di Yogyakarta menyediakan layanan peer support melalui media sosial untuk siapa pun yang ingin berbagi cerita tanpa takut dihakimi.
Meski begitu, tantangan masih banyak. Kurangnya fasilitas kesehatan mental, distribusi tenaga profesional yang tidak merata, serta keterbatasan literasi menjadi kendala besar. Oleh karena itu, peran pemerintah, masyarakat, dan institusi pendidikan sangat dibutuhkan untuk membentuk ekosistem peduli mental yang inklusif dan manusiawi.
Di tengah hiruk pikuk dunia modern, perhatian pada kondisi batin orang lain seringkali terabaikan. Padahal, seperti dikatakan Rizal, "Kita nggak harus jadi siapa-siapa untuk orang lain. Kadang cukup duduk bersama dan bilang: ‘Kalau kamu butuh, aku di sini ya.’ Itu sudah bentuk nyata nilai kemanusiaan."
Trending Now