Konten dari Pengguna
Refleksi Hari Santri Nasional 2025: Santri Penjaga Akhlak di Era Teknologi
22 Oktober 2025 14:30 WIB
·
waktu baca 7 menit
Kiriman Pengguna
Refleksi Hari Santri Nasional 2025: Santri Penjaga Akhlak di Era Teknologi
Refleksi Hari Santri 2025: Santri menjadi benteng moral di era digital, memadukan kitab kuning dan teknologi untuk menjaga kemanusiaan di tengah kemajuan AI.dian hasdiana
Tulisan dari dian hasdiana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah dunia yang semakin sibuk oleh layar, notifikasi, dan deru teknologi, santri menjadi simbol ketenangan. Mereka belajar dalam kesunyian, berdoa dengan kesungguhan, dan menambang nilai di tengah masyarakat yang sering kali kehilangan makna. Hari Santri bukan sekadar mengenang masa lalu atau kisah heroik pesantren dalam perjuangan kemerdekaan. Lebih dari itu, momentum ini adalah ajakan untuk meneguhkan kembali peran pesantren sebagai penjaga moral di tengah badai teknologi dan disrupsi nilai.
Kini, tantangan santri tak lagi sebatas kitab dan hafalan. Dunia digital menuntut mereka menembus sekat algoritma dan banjir informasi yang tak pernah berhenti. Generasi muda hidup di zaman di mana benar dan salah sering kali kabur, terutama di era post truth. Ketika opini lebih dipercaya daripada fakta. Pesantren kembali memegang peran penting. Bukan lagi hanya tempat mengaji. Tapi ruang untuk menempa manusia yang tangguh secara spiritual sekaligus cerdas menghadapi dunia modern.
Santri harus menjadi kunci jawaban di tengah dunia teknologi yang semakin tak terkendali. Mereka perlu ikut menciptakan inovasi baru yang berlandaskan nurani, bukan sekadar algoritma. Sebab, dibalik gemerlap kemajuan digital, tersembunyi bahaya yang dapat meruntuhkan sendi kemanusiaan.
Peretasan yang melumpuhkan kepercayaan. Malware yang menghancurkan sistem, hingga kebocoran data yang menelanjangi privasi. Lebih menakutkan lagi, manipulasi pikiran melalui kecerdasan buatan kini semakin sulit dibedakan dari suara akal sehat manusia.
Dunia butuh santri yang tidak hanya cerdas secara teknis, juga jernih secara spiritual. Mereka yang berlandaskan iman dan akhlak akan mampu membedakan batas antara inovasi dan keserakahan. Antara kecerdasan dan kebohongan, antara teknologi yang menolong dan teknologi yang menyesatkan. Bila generasi tanpa moral menguasai AI, maka masa depan bisa berubah dari kemajuan menjadi kehancuran. Di titik inilah, peran santri menjadi pertahanan terakhir bagi kemanusiaan.
Dari Kitab Kuning ke Coding
Pesantren sejatinya adalah benteng moral bangsa. Tempat nilai-nilai kejujuran, kesederhanaan, dan kebersamaan tetap hidup di tengah dunia yang makin individualistis. Ketika sebagian generasi muda terseret euforia digital dan kehilangan arah, santri justru ditempa untuk menundukkan ego, menghargai proses, dan menjaga kesucian niat. Pesantren tidak hanya mendidik cara berpikir, tetapi juga cara berperilaku. Ia bukan sekadar melahirkan cendekiawan, tapi membentuk manusia beradab.
Namun dunia kini bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Teknologi seakan menjadi penentu arah peradaban. Di sinilah pesantren dihadapkan pada tantangan baru. Bagaimana menyiapkan santri agar tidak hanya menjaga moral, tetapi juga menjadi bagian dari revolusi teknologi itu sendiri. Krisis moral yang menjerat Gen Z dari kecanduan media sosial hingga kaburnya etika digital menuntut pesantren untuk melangkah lebih jauh. Santri harus memahami bahasa zaman tanpa kehilangan jati dirinya.
Pesantren harus berani mempertemukan kitab kuning dengan coding, dzikir dengan data science, dan tafsir nilai dengan artificial intelligence (AI). Bayangkan jika suatu hari nanti lahir Mark Zuckerberg, Elon Musk, Bill Gates, atau Zhang Yiming versi pesantren! Inovator yang bukan hanya menciptakan teknologi, tetapi menanamkan etika dan spiritualitas di dalamnya.
Dunia tidak perlu takut pada AI jika yang mengendalikannya adalah tangan-tangan beriman. Itulah cita-cita besar pendidikan pesantren di era digital. Melahirkan generasi yang mampu membaca zaman sekaligus memastikan masa depan tetap berpihak pada kemanusiaan.
Kurikulum Teknologi dan Literasi AI
Untuk menyiapkan santri menghadapi masa depan, pesantren perlu mulai menanamkan literasi kecerdasan buatan (AI) dalam kurikulumnya. Tujuannya bukan sekadar menjadikan santri ahli teknologi. Juga agar mereka memahami cara kerja dan etika di baliknya. Teknologi adalah alat manfaat atau mudaratnya tergantung siapa yang mengendalikan.
Melalui pembelajaran sederhana seperti prompt engineering, cara memberi perintah yang tepat kepada sistem AI, santri bisa belajar berpikir runtut, kritis, dan kreatif. Pendekatan ini bisa disatukan dengan tradisi berpikir mendalam dalam kitab kuning. Keduanya sama-sama melatih logika, kedalaman, dan kebijaksanaan.
AI boleh membantu menjawab pertanyaan, tetapi santri yang beriman akan tahu mana jawaban yang benar, mana yang bijak, dan mana yang layak diikuti. Jika pesantren mampu memadukan nilai spiritual dengan keterampilan teknologi, ia akan melahirkan generasi santri yang modern namun tetap berpijak pada kemanusiaan.
Tantangan Kebijakan dan Peran Negara
Pesantren tidak bisa berjalan sendiri menghadapi derasnya arus digital dan perubahan sosial yang begitu cepat. Kementerian Agama RI melalui EMIS (2025) mencatat, Indonesia memiliki lebih dari 344.000 pesantren dengan 7 juta santri. Angka ini menunjukkan potensi besar dalam membangun ekosistem pendidikan karakter yang kuat. Namun potensi itu hanya bermakna jika pesantren mampu beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan ruh moralitasnya.
Pemerintah harus menghadirkan kebijakan yang berpihak pada pendidikan berbasis nilai, dengan merancang kurikulum moral nasional yang fleksibel. Memberikan ruang bagi pesantren menjaga keunikan lokalnya, sekaligus tetap terhubung dengan kemajuan teknologi.
Insentif dan dukungan digitalisasi perlu diperluas agar pesantren kecil tidak tertinggal. Banyak pondok di pelosok negeri masih berjuang dengan koneksi internet terbatas, tenaga pengajar yang belum melek digital, dan fasilitas belajar yang sederhana. Padahal, di situlah calon pemimpin masa depan bangsa sedang ditempa.
Pemerintah tidak cukup hadir dengan program simbolik, melainkan harus menyiapkan langkah konkret. Subsidi infrastruktur digital, pelatihan guru, dan kemitraan dengan kampus atau industri teknologi.
Namun, kebijakan sehebat apa pun akan kehilangan makna bila tidak disertai perhatian pada kesejahteraan pengasuh dan infrastruktur pesantren. Di balik kuatnya moral santri, ada Kiai dan ustaz yang mengajar dengan penuh kesetiaan, sering kali dalam keterbatasan. Negara wajib memastikan mereka hidup layak, aman, dan terlindungi. Sebab moralitas bukan hanya tentang ajaran, tetapi juga tentang menjaga martabat manusia yang mengajarkan kebaikan.
Paradigma Baru Pesantren
Pesantren kini ditantang untuk membuka diri terhadap dunia luar tanpa kehilangan jati dirinya. Di era kolaborasi, pesantren tidak bisa lagi berdiri sendiri di menara gading nilai. Ia perlu menjalin komunikasi hangat dengan para stakeholder, pembuat kebijakan, dan orang tua santri. Dari dialog semacam itu, pesantren bisa memperoleh banyak insight positif tentang bagaimana membangun sistem pendidikan yang tetap bernilai, namun relevan dengan kebutuhan zaman.
Lebih dari itu, pesantren perlu membangun budaya yang tidak alergi terhadap kritik. Kritik bukan serangan, melainkan cermin untuk memperbaiki diri. Lembaga besar justru tumbuh dari keberanian menerima masukan dan melakukan pembenahan tanpa merasa terancam.
Paradigma baru ini juga mengajak pesantren berpikir lebih modern. Isu viral tentang santri yang “ngesot” atau menunduk berlebihan di hadapan kiai seharusnya menjadi refleksi bersama. Penghormatan tidak harus diwujudkan dengan merendahkan diri, karena nilai takzim sejati lahir dari hati yang tulus, bukan dari gestur yang berlebihan.
Banyak ulama besar telah mengkaji hal ini dan berseliweran di jagat maya. Menghormati guru tetap wajib, tetapi dilakukan dengan cara yang manusiawi dan penuh kesadaran spiritual. Di sinilah keseimbangan itu diuji. Antara adab dan martabat, antara tradisi dan nalar modern. Pesantren yang berani membuka diri, menerima kritik, dan menata tradisinya tanpa kehilangan nilai sejatinya, sedang menapaki jalan baru menuju kebesaran yang lebih bermakna.
Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia
“Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia” bukan sekadar tema peringatan Hari Santri Nasional. Ia adalah panggilan moral bagi santri dan pesantren untuk menjaga kemerdekaan lahir dan batin bangsa dari penjajahan baru berupa hoaks, kebencian digital, dan teknologi tanpa arah nilai. Di era big data, AI, dan inovasi yang melesat tanpa henti, santri dan pesantren dipanggil bukan hanya menjadi penonton, melainkan penjaga ruh bangsa.
Dengan memadukan iman, ilmu, dan akhlak, santri diyakini mampu memastikan bahwa kemajuan teknologi tidak mencabut akar kemanusiaan. Inilah makna sejati mengawal kemerdekaan melindungi bangsa dari kehilangan jati diri, sekaligus membawa Indonesia menjadi bangsa yang bukan hanya kuat di dalam negeri, tetapi juga memberi pencerahan bagi dunia.
Selamat Hari Santri Nasional 2025.
Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia.

