Konten dari Pengguna

Ketika TikTok Menjadi “Psikolog”: Self-Diagnosis di Kalangan Mahasiswa Gen Z

Dian Nayla Putri
Mahasiswi Ilmu Komunikasi, Universitas Sebelas Maret
30 Desember 2025 23:12 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Ketika TikTok Menjadi “Psikolog”: Self-Diagnosis di Kalangan Mahasiswa Gen Z
TikTok kini tak hanya menjadi ruang hiburan bagi mahasiswa Gen Z, tetapi juga sumber informasi kesehatan mental. Opini sains populer ini mengulas fenomena self-diagnosis gangguan mental.
Dian Nayla Putri
Tulisan dari Dian Nayla Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi bermain Smartphone. Foto: leungchopan/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bermain Smartphone. Foto: leungchopan/Shutterstock
Bagi mahasiswa Gen Z, TikTok bukan hanya sekadar aplikasi untuk mencari hiburan. Tetapi, platform ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari: menjadi teman begadang, menjadi sumber informasi, bahkan menjadi tempat untuk mencari jawaban atas kegelisahan diri. Dalam hitungan menit, seseorang bisa berpindah dari video yang berisi hiburan, tips produktivitas, hingga konten Kesehatan mental.
Maka tak heran jika belakangan banyak mahasiswa yang mulai mengenal istilah ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), anxiety, atau burnout bukan dari ruang kelas ataupun buku psikologi, melainkan dari video singkat yang lewat di beranda TikTok atau yang biasa disebut For You Page.
Secara sekilas, tren ini terlihat positif. Dari yang dulunya isu kesehatan mental dianggap tabu dan jarang dibicarakan, sekarang mulai mendapat ruang, orang-orang kini menjadi lebih terbuka untuk membicarakannya. Mahasiswa tidak lagi malu untuk mengakui jika mereka lelah, cemas, atau kewalahan ketika menghadapi tuntutan akademik.
Di tengah tekanan IPK, organisasi, magang, tuntutan untuk selalu produktif, atau bisa juga hingga kisah asmara, keterbukaan ini terasa begitu melegakan. Setidaknya, mahasiswa tidak lagi merasa sendirian dalam menghadapi beban tersebut.
Namun, di balik meningkatnya kesadaran tersebut, muncul pula fenomena lain yang patut untuk dikritisi, yaitu self-diagnosis. Banyak konten TikTok yang menyajikan narasi sederhana seperti, “kalua kamu sering merasa susah focus, bisa jadi kamu mengidap ADHD” atau “kalau kamu cepat lelah secara emosional, itu merupakan tanda kalau kamu anxiety.”
Konten seperti ini sering dikemas dengan bahasa yang membuat audiens merasa relate dan diambil dari contoh sehari-hari, sehingga terasa sangat dekat dengan pengalaman mahasiswa.
Ilustrasi TikTok. Foto: STR/AFP
Sebagai mahasiswa yang akrab dengan beban ekspektasi, tugas, dan organisasi, wajar jika kita merasa “terwakili” dengan konten tersebut. Dan tanpa disadari, label “gangguan mental” pun mulai kita tempelkan pada diri sendiri. Apa yang awalnya hanya rasa Lelah atau stress sementara, kini perlahan dianggap sebagai kondisi medis tertentu.
Padahal, dalam kajian psikologi, diagnosis gangguan mental bukanlah perkara cocoklogi. Terdapat proses yang membutuhkan asesmen mendalam, observasi berkelanjutan, dan standar ilmiah yang jelas. Gejala yang terasa relate di TikTok bisa saja merupakan respons wajar terhadap tekanan akademik, kurang tidur, atau tekanan sosial (hal-hal yang hamper dialami oleh semua mahasiswa).
Masalah lain muncul ketika self-diagnosis justru menambah kecemasan. Alih-alih memahami diri sendiri, Sebagian mahasiswa malah menjadi terlalu fokus pada label yang ditempelkan, merasa “bermasalah”, atau bahkan sampai membenarkan perilaku tidak sehat atas nama gangguan mental. Nah, di titik ini, TikTok tidak lagi membantu, tapi justru malah membingungkan.
Algoritma media sosial juga berperan besar dalam kehidupan sehari-hari. Semakin sering seseorang menonton konten bertema kesehatan mental, akan semakin banyak pula konten serupa yang muncul di beranda TikTok kita. Akibatnya, kita merasa seolah-olah semua masalah hidup berakar pada gangguan mental tertentu, padahal realitasnya jauh lebih kompleks.
Sebagai mahasiswa Gen Z yang dikenal kritis dan melek teknologi, seharusnya kita tidak berhenti pada sekadar merasa relate dengan apa yang kita tonton. Kesadaran akan Kesehatan mental juga perlu diiringi dengan literasi sains dan sikap reflektif. TikTok bisa menjadi pintu awal untuk mengenali diri kita sendiri, tetapi bukan sebagai ruang diagnosis final yang dapat kita percaya sepenuhnya.
Pada akhirnya, peduli kesehatan mental bukan berarti langsung memberi label pada diri sendiri. Lebih dari itu, kita juga harus memahami kapan kita harus beristirahat, kapan kita perlu untuk berbagi cerita, dan kapan kita harus mencari bantuan professional. Jangan sampai keinginan untuk lebih sadar dan lebih tau, justru membuat kita terjebak dalam informasi yang belum tentu benar.
Trending Now