Konten dari Pengguna
Jan Aritonang (Januari 1952–21 November 2025): “Yes, There is a Batak History"
21 November 2025 18:01 WIB
·
waktu baca 10 menit
Kiriman Pengguna
Jan Aritonang (Januari 1952–21 November 2025): “Yes, There is a Batak History"
Reid bertanya: "Is there a Batak history?" Jan Aritonang menjawab, "Yes, there is a Batak history."Dian Purba
Tulisan dari Dian Purba tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kepergian Pdt. Prof. Dr. Jan Sihar Aritonang pada 21 November 2025 adalah kehilangan besar bagi dunia ilmu pengetahuan—bukan hanya bagi masyarakat Batak dan gereja, tetapi juga bagi seluruh penulisan sejarah Indonesia modern. Saya tak pernah memiliki kesempatan untuk bersua dengannya secara fisik. Perjumpaan dengannya murni bersifat intelektual, sebuah ikatan yang tercipta dari lembar demi lembar buku yang Aritonang goreskan.
Ikatan itu bahkan berubah menjadi suatu keharusan ketika saya mulai menjejakkan kaki di Tarutung, “jantung” Tapanuli yang kental dengan sejarah Batak dan sejarah kekristenannya. Di sini, jejak penginjilan awal Rheinische Missions-Gesellschaft (RMG) begitu terasa; sejarah tak lagi hanya berupa teks bisu, melainkan hidup di setiap sudut jalan, di dinding-dinding tua bangunan gereja, dan di udara lembap yang dihirup. Di sanalah saya sadar, karya Aritonang bukanlah sekadar buku referensi dari rak perpustakaan, melainkan kitab wajib untuk memahami denyut nadi Tarutung dan Batak itu sendiri. Seringnya karya Aritonang saya baca—hingga berulang kali—adalah kesaksian paling jujur tentang kedalaman dan keandalan risetnya, yang mampu menjelaskan semua yang saya lihat dan rasakan di sana.
Warisan Aritonang bukanlah sekadar cerita masa lalu; karyanya adalah petunjuk penting untuk memahami jati diri dan tantangan bangsa ini. Aritonang tidak hanya menulis tentang sejarah Batak, tetapi juga tentang bagaimana pertemuan budaya dan agama membentuk karakter keindonesiaan itu sendiri. Jika belajar sejarah adalah cara kita memahami masa kini, maka kepergian Jan Aritonang adalah pengingat betapa pentingnya pekerjaan yang Aritonang wariskan: merangkai potongan-potongan sejarah lokal menjadi gambaran besar yang utuh.
Tiga Jejak Sejarah Aritonang
1. Gereja Batak: Melawan Cerita Misionaris
Jan Aritonang memulai penelitiannya dari bidang yang paling dekat dengannya: sejarah gereja Batak. Melalui penelitian doktoralnya, "The Encounter of the Batak People with Rheinische Missions-Gesellschaft in the Field of Education (1861-1940)" (2000), Aritonang melakukan perombakan total atas cerita yang selama ini terlalu didominasi oleh sudut pandang misionaris. Aritonang menolak melihat pembentukan HKBP hanya sebagai keberhasilan program Misi Jerman (RMG), melainkan sebagai hasil dari sebuah "perjumpaan" atau interaksi aktif antara dua pihak yang membawa tujuan berbeda.
Sudut pandang "perjumpaan" ini secara tajam membalikkan cara pandang sejarah. Aritonang menempatkan masyarakat Batak bukan lagi sebagai penerima pasif yang 'diselamatkan' atau 'diajari,' melainkan sebagai pelaku budaya dan sosial yang aktif. Kemajuan yang dicapai di bidang pendidikan didorong oleh keinginan kuat orang Batak sendiri, terutama para raja huta, sintua, dan guru. Mereka melihat sekolah bukan sekadar alat penyebaran agama, tetapi sebagai kunci menuju "hamajuon" (kemajuan) dan peningkatan derajat sosial.
Kritik tajam Aritonang terletak pada keberaniannya membongkar anggapan kolonial di balik kerja Misi. Aritonang menunjukkan bahwa pandangan RMG sering kali terjebak pada pemikiran yang meremehkan, menganggap tradisi Batak (parmalim atau kepercayaan leluhur) sebagai kegelapan yang harus diganti dengan 'cahaya' Barat dan Kristen. Sikap ini, yang melihat Batak sebagai bangsa tanpa sejarah atau kemampuan untuk maju, secara tidak langsung membenarkan penguasaan cerita oleh pihak Misi. Aritonang melawan anggapan ini dengan bukti arsip yang menunjukkan bahwa Batak sudah memiliki sistem pengetahuan (hadatuon) dan tatanan adat yang kompleks.
Dengan menyoroti peran penting hadatuon (sistem pengetahuan tradisional) dan adat, Aritonang membuktikan bahwa masyarakat Batak telah memiliki landasan budaya yang siap dan termotivasi untuk mengambil unsur-unsur modernisasi dari sekolah misi. Jadi, bukan Misi yang menciptakan keinginan untuk maju, melainkan Misi menyediakan alat yang kemudian disesuaikan oleh Batak sendiri untuk mencapai tujuan hamajuon mereka. Inilah inti kritik Aritonang: keberhasilan Misi sebagian besar karena mereka gagal memahami (atau mengakui) kemampuan dan inisiatif dari masyarakat Batak.
Karya Aritonang memberikan pemahaman mendalam pada perkembangan gereja. Aritonang menganalisis bagaimana pendidikan yang diperkenalkan Misi justru membangkitkan kesadaran diri dan kemampuan berpikir lokal, yang pada akhirnya menuntut gereja untuk berdiri sendiri. Ketegangan antara keinginan Misi dan cita-cita lokal inilah yang menjadi awal kelahiran gereja Batak yang dewasa dan mandiri. Penelitian arsipnya di Jerman dan Belanda (melalui studi sumber mendalam) menegaskan bahwa sejarah gereja tidak terpisah dari sejarah politik identitas lokal.
Dengan demikian, Jan Aritonang berhasil menegaskan HKBP (dan GKPI, di mana Aritonang menjadi pendetanya) sebagai lembaga yang memiliki sejarahnya sendiri, terlepas dari cerita besar kolonial. Aritonang memberikan dasar pemikiran yang kuat bagi jati diri gereja Batak, memastikan bahwa cerita pembentukannya berakar kuat pada bumi Toba sekaligus terbuka terhadap penafsiran sejarah yang kritis.
2. Bangsa Batak: Pendidikan sebagai Modal Politik
Peran Aritonang meluas melewati batas sejarah gereja; Aritonang secara otomatis menjadi salah satu perangkai utama dalam penulisan "Sejarah Batak" modern. Analisisnya tentang pendidikan misi menunjukkan bahwa sekolah-sekolah Kristen adalah pemicu penting yang membentuk kesadaran "bangso Batak" yang lebih luas, melampaui sekat-sekat suku dan marga tradisional.
Aritonang menunjukkan bahwa dengan menyeragamkan bahasa, menyediakan pemahaman budaya bersama, dan menciptakan kelompok terpelajar, Misi—meski tidak sengaja—telah menanam modal sosial dan intelektual bagi munculnya gerakan kebangsaan di daerah. Kelompok Batak yang terdidik inilah yang kemudian pindah ke kota-kota besar di luar Tapanuli dan siap berperan aktif dalam panggung politik nasional Indonesia.
Dengan membedah peran pendidikan dan tokoh-tokoh lokal secara rinci, Aritonang memberikan jawaban nyata atas pertanyaan sejarah yang penting: bagaimana Batak, sebagai kelompok budaya yang beragam, dapat terintegrasi begitu cepat dan kuat ke dalam narasi kebangsaan Indonesia? Jawabannya terletak pada kemampuan sosial yang terbangun melalui sistem pendidikan yang Aritonang teliti secara detail.
Pendidikan Misi, dalam pandangan Aritonang, menjadi semacam "modal sosial" yang mampu dikonversi menjadi "kekuatan politik" di tingkat nasional. Kelompok-kelompok Batak terdidik yang merantau ke Jawa dan kota-kota besar lainnya membawa serta literasi tinggi, kemampuan berorganisasi, dan kesadaran identitas kolektif yang dipicu sekolah Misi. Inilah yang membedakan Batak dari banyak kelompok etnis lain di Indonesia, memungkinkan mereka untuk mengisi berbagai pos strategis di masa revolusi dan pasca-kemerdekaan. Aritonang, dengan analisisnya, memastikan bahwa kontribusi kultural Batak terhadap Indonesia tidak dipandang sebagai kebetulan, melainkan sebagai hasil historis yang terukur dari perjumpaan pendidikan.
Oleh karena itu, Aritonang menempatkan dirinya sejajar dengan sejarawan besar Batak lainnya. Aritonang menawarkan pandangan yang melampaui sekadar catatan silsilah, melainkan sebuah analisis berbasis arsip tentang bagaimana lembaga (gereja dan sekolah) berinteraksi dengan perubahan sosial untuk membentuk identitas politik yang berani dan maju, sebuah syarat penting bagi partisipasi Batak di panggung Indonesia merdeka.
3. Indonesia: Narasi Perjumpaan Agama
Pencapaian intelektual Jan Aritonang yang paling ambisius terlihat dalam proyek-proyek sejarah berskala nasional. Sebagai editor bersama Karel Steenbrink untuk buku besar A History of Christianity in Indonesia (2008), Aritonang diakui sebagai sejarawan nasional kekristenan, memastikan bahwa cerita sejarah gereja di Indonesia dipertimbangkan dalam kajian akademik dunia.
Namun, karya yang paling menonjol adalah Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia (2004). Melalui buku ini, Aritonang berani membahas hubungan yang sering kali rumit dan penuh konflik antara dua komunitas agama terbesar di Indonesia. Aritonang melangkah keluar dari batasan penulisan sejarah gereja yang cenderung tertutup dan memasuki ranah publik yang penuh tantangan, yaitu studi hubungan antaragama.
Dalam analisisnya, Aritonang dengan tegas menolak penyederhanaan bahwa konflik antaragama hanyalah masalah keyakinan. Aritonang menunjukkan bahwa konflik dan kerukunan Kristen-Islam sangat terikat erat dengan masalah politik, kekuasaan, dan kondisi sosial-ekonomi dari masa kolonial hingga Reformasi. Aritonang melihat perjumpaan ini sebagai sebuah cerita yang tak terhindarkan, yang membentuk dasar toleransi dan ketegangan di Indonesia.
Keberaniannya menyoroti pergumulan—bukan hanya pertemuan—adalah inti ketajaman karyanya. Aritonang menyediakan dasar sejarah yang kaya untuk menganalisis mengapa dan bagaimana pergesekan antaragama muncul. Dalam konteks Tanah Batak, Aritonang menempatkan kristenisasi Batak bukan sebagai peristiwa tunggal, tetapi sebagai bagian dari tarik-menarik antara pengaruh Islam (terutama dari Minangkabau melalui Perang Padri) dan datangnya Misi Kristen Eropa. Persaingan pengaruh ini adalah gambaran kecil dari dinamika Kristen-Islam di Indonesia. Warisan terbesarnya di sini adalah memberikan panduan sejarah bagi semua pihak untuk memahami bahwa kerukunan atau konflik di Indonesia selalu memiliki akar yang dalam, kompleks, dan perlu diteliti secara kritis.
Metode Aritonang: Menemukan Suara di Balik Arsip
Cara kerja Jan Aritonang dalam menulis sejarah, terutama dengan konsep "perjumpaan" yang Aritonang kembangkan, merupakan tanda penting perubahan dari sejarah yang sekadar mencatat peristiwa unik menuju penulisan sejarah yang menggunakan kerangka ilmiah untuk menjelaskan sebuah fenomena. Aritonang menyadari bahwa sejarah yang baik harus mampu melampaui sekadar uraian tentang apa yang terjadi (sejarah yang berfokus pada hal unik), dan mulai mencari pola, tatanan, dan sebab akibat yang lebih luas (sejarah yang berfokus pada hal umum).
Oleh karena itu, Aritonang tidak sekadar mencatat tanggal Misi datang; Aritonang menggunakan konsep "perjumpaan" sebagai alat analisis untuk membongkar dinamika budaya, politik, dan agama. Konsep ini memungkinkan Aritonang untuk membedah bagaimana dua pihak—seperti agama dan budaya lokal—berinteraksi dan menciptakan "sesuatu yang baru atau perubahan," sebuah langkah maju dari sekadar rekaman waktu menjadi penjelasan sejarah yang didukung pemikiran sosial.
Komitmen Aritonang terhadap kajian yang melihat konteks menyeluruh adalah bukti bahwa Aritonang memandang sejarah sebagai ilmu yang luas. Aritonang selalu menempatkan peristiwa gerejawi dalam bingkai yang lebih besar: situasi politik kolonial, gelombang nasionalisme, hingga kebijakan agama. Ini adalah praktik melihat sejarah tidak hanya sebagai rentetan peristiwa yang memanjang dalam waktu (melihat proses), melainkan sebagai irisan yang terikat dengan tatanan sosial, politik, dan ekonomi pada masanya (melihat struktur).
Metode "perjumpaan" Aritonang, yang didukung oleh studi sumber asli yang sangat teliti di arsip-arsip Misi, berfungsi untuk menghasilkan cerita sejarah yang memuat banyak suara. Konsep ini secara tegas menuntut sejarawan untuk membaca di antara baris dokumen-dokumen kolonial—yang cenderung bias dan Euro-sentris—demi menemukan bukti-bukti inisiatif, resistensi, dan keagenan (agency) dari pihak pribumi. Dengan demikian, Aritonang membuktikan bahwa arsip asing dapat digunakan bukan untuk mengabadikan narasi kolonial, tetapi untuk merebut kembali cerita dari masyarakat yang selama ini hanya dianggap sebagai objek sejarah, sebuah kontribusi penting bagi penulisan sejarah Indonesia pasca-kolonial.
Seluruh ketajaman analisis ini didukung oleh dasar bukti yang tak tertandingi: studi sumber mendalam (quellen studium) di arsip-arsip Misi di Eropa. Komitmen Aritonang pada tahap pencarian dan kritik sumber menunjukkan bahwa Aritonang tidak kompromi pada keakuratan data asli, sebuah syarat mutlak bagi penulisan sejarah yang dapat dipercaya. Aritonang membuktikan bahwa penulisan sejarah gereja dapat memenuhi standar akademik tertinggi, sekaligus menjadi tokoh utama dalam perubahan cara pandang penulisan sejarah Indonesia.
Warisan dan Tugas yang Tertinggal
Kepergian Jan S. Aritonang menutup babak penting dalam penulisan sejarah Indonesia, meninggalkan warisan pemikiran yang harus dilanjutkan. Aritonang telah membuktikan bahwa sejarah gereja Batak adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah Batak, dan sejarah Kekristenan Indonesia adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah Islam dan politik nasional.
Warisan yang harus diteruskan oleh generasi sejarawan gereja dan Batak berikutnya adalah keberanian menjaga pandangan kritis. Hal ini berarti meneruskan tradisi penulisan yang menggunakan kerangka analisis yang kuat—seperti konsep "perjumpaan" Aritonang—dan selalu menghubungkan peristiwa lokal dengan tatanan sosial-politik yang lebih besar. Kita tidak boleh kembali ke cerita gereja yang terbatas atau hanya membela diri, melainkan harus terus mengkaji peran agama sebagai pendorong perubahan sosial dan politik.
Secara khusus, komitmen terhadap penulisan sejarah antaragama yang berani harus terus dipegang. Aritonang telah membuka jalan untuk mengkaji sejarah perjumpaan Kristen dan Islam secara seimbang dan jujur, tanpa mengabaikan potensi konflik. Pekerjaan ini adalah tugas paling penting, mengingat dinamika hubungan agama di Indonesia modern selalu berada dalam bayangan masa lalu yang kompleks yang telah diurai oleh Aritonang.
Pada akhirnya, warisan terbesar Aritonang adalah jawabannya terhadap pertanyaan kritis Anthony Reid, "Is There a Batak History?" (2006). Esai Reid pada dasarnya menantang pandangan lama bahwa Batak adalah "people without history" karena tidak memiliki kerajaan besar layaknya Jawa atau Melayu. Melalui karya-karyanya yang berbasis arsip, Aritonang menjawab dengan tegas: Ya, ada. There is a Batak history. Sejarah Batak bukan hanya ada, tetapi ia adalah sejarah yang penuh agency, dibentuk oleh inisiatif lokal, dan memiliki modal budaya yang kuat, bahkan ketika diremehkan oleh pihak kolonial. Jan Aritonang adalah jembatan yang menghubungkan arsip lama Misi dengan penafsiran modern Indonesia; Aritonang adalah sejarawan yang mampu membawa diskusi dari studi lokal (Tanah Batak) ke panggung dunia. Kepergiannya adalah seruan untuk para penerus agar melanjutkan narasi perjumpaan ini dengan ketajaman ilmiah yang sama, menjamin bahwa suara dan sejarah Batak, gereja, dan Indonesia terus dianalisis secara kritis dan mendalam.

