Konten dari Pengguna

Kuliah di Atas Bukit

Dian Purba
Dosen IAKN Tarutung, Peneliti Toba Initiatives
21 September 2021 13:39 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tulisan dari Dian Purba tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Mahasiswa IAKN Tarutung mengikuti kuliah umum. Foto: koleksi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Mahasiswa IAKN Tarutung mengikuti kuliah umum. Foto: koleksi pribadi
"Apa penyebab seorang yang sudah lama menganut agama Kristen berubah dan mau menjadi dukun?" Pertanyaan Kasno Panjaitan, mahasiswa semester V jurusan Sosiologi Agama IAKN Tarutung ini menghentak saya. "Apakah pertanyaan kamu itu berasal dari dalam kepala saja, pertanyaan yang kamu ciptakan sendiri, atau itu datang dari hasil pengamatanmu?" jawab saya menimpali.
Kasno lalu bercerita. Di kampung halamannya, di Porsea, Kabupaten Toba, Sumatera Utara, dia menemukan fenomena itu. Rasa herannya timbul karena "di Tanah Kristen" tersebut pembalikan dari zaman misionaris dulu justru terjadi setelah 120 tahun lebih agama Kristen tiba di Tanah Batak.
Saya berhenti sejenak. Tidak langsung memberikan jawaban. Kepala saya tiba-tiba meledak sebuah ide. Ide, yang barangkali tidak akan pernah diduga Kasno sebelumnya. Saya lalu menemukan diri dan menjatuhkan jawaban. "Jujur Kasno," saya katakan, "saya tidak memiliki jawaban sederhana untuk pertanyaanmu. Pertanyaanmu itu teramat kompleks untuk dijawab sekadarnya dan terlalu berlebihan bila jawaban untuk itu berhenti di ruangan zoom ini."
Semester depan, semester VI, mereka sudah harus menyerahkan judul calon skripsi. Kasno, dengan demikian, sudah memulai sesuatu yang barangkali akan mengantarkannya menjadi sarjana sosial dari IAKN Tarutung. "Terjadi pembalikan," saya menyambung. "Ternyata, setelah hampir semua masyarakat Toba memeluk agama Kristen, ternyata kamu menemukan seseorang beralih dari Kristen menjadi dukun. Untuk keperluan kuliah ini saya akan jawab secara umum saja. Namun, tolong simpan pertanyaan ini. Simpan untuk calon skripsimu." Bahkan, saya tambahkan, meneliti peristiwa itu akan menghantarmu mendapatkan gelar doktor.
Nova Samosir, orang kedua yang mengejutkanku siang itu. "Di kampung kami, ada beberapa keluarga pulang dari tanah rantau. Mereka meninggalkan kampung halaman sudah sepuluh tahun. Namun, karena pandemi, mereka memutuskan untuk pulang kampung." Dia kemudian melanjutkan, "Selama di kota, ikatan sosial yang dulunya diperoleh di kampung halaman sedikit demi sedikit menjadi longgar. Bisa jadi ikatan sosial yang ditinggalkan di kampung halaman berubah menjadi ikatan sosial dalam bentuk yang lain karena di kota, barangkali, tidak ditemukan struktur masyarakat seperti di desa. Pertanyaan saya: bagaimana kemudian keluarga itu menghadapi kampung halamannya kembali setelah merantau selama sepuluh tahun? Bagaimana mereka merajut kembali ikatan sosial yang sudah longgar karena ditinggalkan selama merantau?"
Pertanyaan itu begitu memikat. Pertanyaan yang berangkat dari pemahaman mendasar tentang kampung halamannya. Pertanyaan yang bersumber dari penggabungan pengamatan dengan pembacaan teori yang mumpuni. "Kasno sudah menemukan bahan untuk diteliti menjadi skripsi. Demikian juga dengan kamu, Nova," jawab saya.
Sudah hampir dua tahun mereka kuliah online. Selama dua tahun ini kami nyaris tidak pernah bertatap muka. Ketika mereka datang ke kampus karena rindu sudah menumpuk, di saat itu saya malah sedang di kampung halaman memegang cangkul. Satu-satunya tempat kami bertemu, ya itu, di ruangan zoom.
Masa-masa menjadi mahasiswa, bagi semester V, akan memasuki tahapan mahaberat. Sedemikian beratnya sehingga mereka akan berpikir terlalu berat dan terlalu jauh kira-kira topik apa yang akan diteliti di skripsi. Kasno Panjaitan dan Nova Samosir hampir selama dua tahun ini tinggal di kampung halaman. Dan pertanyaan seksi mereka, justru, berasal dari ketidakhadiran mereka di kampus selama pandemi. Mereka melebur di sana dan mereka dirangkul sempurna kampung halamannya. Efek lain pandemi dan hasil temuan luar biasa yang dirangkum dalam pertanyaan.
Desa mendapat banyak perhatian selama pandemi. Di desa tinggal petani, yang ternyata menjadi masyarakat paling tangguh bertahan. Teman sekampung Nova memutuskan pulang ke kampung karena di kota mereka sudah kehabisan stok untuk bertahan hidup. Dengan demikan, desa memanggil mereka dengan sempurna dengan semua ikatan, organisasi, dan jaringan sosial yang masih kuat.
Nova Samosir kemudian bertanya: Seberapa lama desa akan mempertahankan kedesaannya? Nova melihat, desa sudah bagian dari komunitas global. "Apa yang ada di kota, ada di desa: gaya pakaian, gaya berbahasa, bahkan makanan di desa sudah semakin mengkota," ujar Nova.
Semester depan, kemungkinan besar, mereka akan kembali ke kampus. "Tabungan data" sudah menumpuk di kepala. Mereka melihat desa mereka sudah dan akan terus berubah. Semester depan mereka akan kembali ke kampus. Kampus IAKN Tarutung berada di atas bukit. Kota Tarutung terlihat jelas di bawah sana, sementara Salib Kasih, ikon kekristenan di Tanah Batak, tampak menjulang. Ketinggian kampus semestinya tidak menjadikan mahasiswa melihat masalah sosial dari posisi menari gading. Kampus di atas bukit menjadi simbol betapa ilmu harus menjulang tinggi sementara ketajaman melihat masalah sosial mesti mendasar dan mengakar.
Trending Now