Konten dari Pengguna

Manurung: Percakapan Kembali Goenawan Mohamad dengan Luka Sejarah yang Berbisik

Dian Purba
Dosen IAKN Tarutung, Peneliti Toba Initiatives
18 September 2025 17:55 WIB
·
waktu baca 11 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Manurung: Percakapan Kembali Goenawan Mohamad dengan Luka Sejarah yang Berbisik
Manurung adalah sebuah “percakapan kembali” dan "jawaban" Goenawan atas kritik bahwa sastra pasca-1965, termasuk yang dibuat oleh kelompok Manifes Kebudayaan, gagal memberikan suara bagi korban.
Dian Purba
Tulisan dari Dian Purba tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Manurung: Sebuah Montase karya Goenawan Mohamad. Foto: Dian Purba.
zoom-in-whitePerbesar
Manurung: Sebuah Montase karya Goenawan Mohamad. Foto: Dian Purba.
Goenawan Mohamad, salah satu tokoh dalam sejarah intelektual dan sastra Indonesia, dikenal sebagai seorang esais dan penyair. Karyanya yang terbaru, Manurung: Sebuah Montase, adalah sebuah persembahan yang ambisius, sebuah novel yang memilih jalan perlawanan terhadap konvensi naratif demi membedah salah satu luka sejarah tergelap bangsa: tragedi 1965 dan nasib para eksil politik. Namun, keberanian artistik ini juga menjadi pedang bermata dua. Novel ini, di satu sisi, adalah sebuah karya yang mendalam dan provokatif, tetapi di sisi lain, ia adalah karya yang menjauhkan diri dari pembacanya, menempatkan keindahan prosa di atas konektivitas emosional. Membaca Manurung bukan hanya membaca sebuah cerita, melainkan memasuki sebuah laboratorium psikologis yang dingin dan sepi, di mana trauma dan ingatan adalah subjek utamanya.
Keindahan yang Menghalangi dan Narasi yang Menjauhkan
Kritik paling fundamental terhadap novel ini adalah gayanya yang puitis dan fragmentaris, sebuah pilihan sadar yang secara bersamaan menjadi kekuatan artistik dan kelemahan naratifnya. Goenawan Mohamad tidak berupaya membangun narasi linier yang mengalir; sebaliknya, ia merangkai novel ini dari potongan-potongan ingatan, mimpi, dan refleksi batin tokoh utamanya, Manurung. Struktur "montase" ini—seperti judulnya—meniru cara kerja pikiran manusia yang dipenuhi trauma, di mana masa lalu dan masa kini saling tumpang tindih tanpa batas yang jelas.
Prosa yang digunakan terasa padat, penuh metafora, dan sering kali lebih menyerupai puisi atau esai liris. Kalimat-kalimatnya pendek, lugas, namun memiliki bobot emosional yang kuat. Kekuatan dari gaya ini adalah kemampuannya menciptakan atmosfer yang melankolis dan introspektif. Pembaca dipaksa untuk merangkai sendiri "citra" dan potongan-potongan cerita, menempatkan mereka pada posisi yang sama dengan Manurung yang berusaha memahami masa lalunya.
Namun, di sinilah letak masalahnya. Bagi pembaca yang terbiasa dengan novel yang memiliki plot, karakter yang berkembang, dan resolusi konflik, Manurung bisa terasa sangat sulit. Ketiadaan alur ‘konvensional’ dan fokus yang minim pada peristiwa eksternal membuat novel ini terasa stagnan. Pilihan Manurung untuk lebih pasif dan merenung alih-alih mengambil tindakan, membuat narasi terasa kurang dinamis. Hasilnya: pembaca kesulitan membangun koneksi emosional yang kuat dengan tokoh-tokohnya. Karakter-karakter seperti Evinka, Isidor, atau bahkan adik Manurung, Yosef, terasa lebih sebagai instrumen naratif atau konsep filosofis daripada manusia yang utuh. Mereka kurang memiliki detail fisik atau kebiasaan sehari-hari yang konkret, sehingga terasa jauh dan abstrak.
Selain itu, novel ini sangat bergantung pada pengetahuan pembaca akan konteks sejarah, khususnya peristiwa politik 1965 di Indonesia dan gejolak di Eropa Timur pada 1968. Tanpa pemahaman mendalam tentang periode tersebut, banyak petunjuk dan simbol dalam novel—seperti Musim Semi Praha atau nasib para eksil—akan kehilangan maknanya. Ini membuat novel terasa eksklusif, seolah hanya dapat dinikmati sepenuhnya oleh pembaca tertentu yang sudah akrab dengan sejarah tersebut.
Trauma Eksil: Antara Realitas Historis dan Penderitaan Batin
Di balik kesulitan naratif yang disengaja dalam Manurung, terletak sebuah eksplorasi yang sangat mendalam dan pedih tentang trauma historis. Goenawan Mohamad tidak hanya sekadar menggunakan sejarah sebagai latar belakang estetik, melainkan mentransformasi sejarah itu sendiri menjadi karakter utama yang membentuk, menggerakkan, dan bahkan merusak jiwa para tokohnya. Tokoh Manurung adalah perwujudan sempurna dari pengalaman kolektif para eksil politik pasca-1965, yang terperangkap di luar negeri, paspornya dicabut, dan terputus dari tanah air. Kisahnya melampaui statistik yang dingin dan narasi resmi yang sering kali mendehumanisasi.
Alih-alih menyajikan peristiwa G30S sebagai rentetan fakta yang terurut, Goenawan Mohamad menggambarkannya sebagai bayangan yang menghantui. Sejarah bukanlah sesuatu yang terjadi di masa lalu, melainkan kekuatan yang hidup dan terus-menerus memengaruhi Manurung di Berlin, puluhan tahun setelah tragedi itu. Ingatan tentang kematian ayahnya di penjara dan nasib adiknya, Yosef, adalah luka terbuka yang tidak pernah sembuh. Trauma ini bersemayam dalam alam bawah sadar Manurung, memanifestasikan diri dalam mimpi-mimpi yang berulang, kecemasan yang tak beralasan, dan rasa bersalah yang mencekik. Dengan demikian, sejarah menjadi karakter yang paling dominan, sebuah entitas yang tidak terlihat tetapi kehadirannya sangat terasa, membentuk setiap pilihan dan pikiran Manurung.
Salah satu keunggulan terbesar novel ini adalah penyorotan tajam pada konsep trauma transgenerasional. Manurung secara fisik tidak berada di Jakarta pada tahun 1965, ia adalah seorang eksil yang terpaksa tinggal di Eropa. Namun, jarak geografis ini tidak sedikit pun mengurangi beban psikologis yang ia tanggung. Ia mewarisi beban sejarah dari ayahnya, menjadikannya "korban" dari peristiwa yang tidak ia alami secara langsung. Goenawan Mohamad menunjukkan bahwa luka yang paling dalam bukanlah luka fisik dari kekerasan, tetapi luka emosional yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya: sebuah warisan penderitaan yang tak terucapkan. Manurung hidup dalam ketakutan dan kegelisahan, bukan karena apa yang ia lakukan, melainkan karena ia adalah anak dari seseorang yang dianggap "musuh negara."
Narasi Orde Baru tentang peristiwa 1965 berupaya menjustifikasi kekejaman dengan mereduksi korban menjadi sekadar "anggota organisasi terlarang" yang anonim dan berbahaya. Manurung secara radikal menentang narasi ini. Goenawan Mohamad menempatkan trauma sebagai inti cerita, memberikan wajah manusia pada statistik yang sering kali tak terjangkau. Ayah Manurung dan adiknya, Yosef, bukanlah sekadar nama dalam daftar korban; mereka adalah manusia dengan kisah hidup, hubungan keluarga, dan takdir yang tragis. Melalui monolog batin dan ingatan yang terfragmentasi, novel ini menunjukkan penderitaan emosional yang dialami oleh para korban dan keluarga mereka. Dengan berfokus pada pengalaman subjektif Manurung, novel ini mengajak pembaca untuk berempati dan melihat sejarah bukan dari kacamata politik, tetapi dari perspektif individu yang hancur. Ini adalah sebuah upaya untuk memulihkan kemanusiaan yang telah dirampas oleh kekerasan budaya Orde Baru.
Berkata Dimas pada Manurung: Ayo Pulang!
Untuk benar-benar memahami posisi unik Manurung dalam kanon sastra eksil Indonesia, sangat krusial untuk membedah pendekatannya dengan novel Pulang karya Leila S. Chudori, sebuah karya yang juga mengangkat tema serupa. Meskipun keduanya mengeksplorasi tragedi 1965 dan nasib para eksil, mereka melakukannya dengan dua pendekatan naratif yang sangat kontras, sehingga menghasilkan pengalaman membaca yang berbeda secara fundamental. Keduanya bukan kompetitor, melainkan dua sisi mata uang yang saling melengkapi dalam mengabadikan luka sejarah.
Leila S. Chudori mengadopsi gaya jurnalisme sastrawi yang kaya detail dan berakar pada realitas. Novel ini memiliki plot yang lebih ‘konvensional’, dengan alur maju-mundur yang terstruktur rapi dan melibatkan sudut pandang dari berbagai karakter. Chudori membangun dunia yang konkret: dari deskripsi Restoran Tanah Air di Paris hingga hiruk-pikuk Jakarta 1998. Ia menggunakan detail sejarah, nama-nama tempat, dan peristiwa-peristiwa nyata untuk menciptakan latar yang kokoh, membuat pembaca merasa seolah-olah mereka adalah bagian dari dunia tersebut. Fokus naratifnya adalah pada dinamika sosial dan drama keluarga, yang terjalin erat dengan peristiwa sejarah. Ia menunjukkan bagaimana para eksil membangun sebuah komunitas baru yang didasarkan pada solidaritas, persahabatan, dan kerinduan yang sama.
Sebaliknya, Goenawan Mohamad secara sadar menolak narasi yang mudah diakses ini. Manurung adalah sebuah montase puitis, yang tidak mengalir secara linier. Alih-alih menceritakan, novel ini merangkai ingatan, mimpi, dan monolog batin Manurung yang terfragmentasi. Prosa yang digunakan terasa lebih mirip puisi atau esai liris, penuh metafora yang menuntut interpretasi pembaca. Tujuannya bukan untuk membangun dunia yang nyata, tetapi untuk mengeksplorasi lanskap psikologis yang hancur. Ketiadaan plot yang jelas dan minimnya interaksi sosial membuat novel ini terasa sunyi dan terisolasi, secara sempurna mencerminkan kondisi batin tokoh utamanya. Jika Pulang adalah sebuah potret tentang bagaimana trauma memengaruhi sebuah komunitas, Manurung adalah sebuah potret intim tentang bagaimana trauma tersebut menghancurkan jiwa seorang individu.
Pulang berfokus pada tindakan, interaksi, dan harapan. Novel ini menggambarkan bagaimana para eksil, seperti tokoh Dimas Suryo dan kawan-kawan, secara aktif berjuang untuk bertahan hidup, mendirikan bisnis, dan mempertahankan identitas mereka di pengasingan. Novel ini juga mengeksplorasi tema rekonsiliasi intergenerasional melalui hubungan Dimas dan putrinya, Lintang Utara, yang mencari kebenaran sejarah yang disembunyikan. Dalam Pulang, eksil adalah sebuah fenomena sosial yang kompleks, di mana masa lalu memengaruhi masa kini dan masa depan melalui ikatan keluarga dan persahabatan.
Manurung tidak tertarik pada drama eksternal atau dinamika sosial. Novel ini adalah sebuah meditasi filosofis tentang kehilangan dan identitas. Manurung bukan tokoh yang proaktif; ia adalah seorang yang pasif, berjuang sendirian dengan hantu-hantu masa lalu. Novel ini mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan eksistensial tentang memori, nasib, dan tempat "rumah" dalam jiwa yang hancur. Penderitaannya bersifat internal dan soliter, menjadikannya perwakilan dari luka yang tak terucapkan yang tak bisa dibagi. Novel ini tidak hanya menceritakan pengalaman seorang eksil, tetapi juga merenungkan esensi dari trauma dan ingatan itu sendiri.
Secara metaforis, jika Pulang adalah sebuah mural sejarah yang megah dan penuh detail, yang menggambarkan perjuangan kolektif para eksil dengan banyak karakter dan plot yang saling terkait, maka Manurung adalah sebuah sketsa abstrak yang intens dan liris, yang berfokus pada ekspresi emosional dan fragmen memori dari satu individu. Pulang adalah novel yang lebih mudah diakses dan beresonansi secara emosional dengan audiens yang lebih luas, sementara Manurung adalah novel yang lebih menuntut secara intelektual dan artistik. Keduanya adalah novel yang penting, namun dengan cara yang berbeda. Pulang menceritakan kisah para eksil, sementara Manurung menggambarkan kondisi batin mereka, bersama-sama menciptakan potret yang paling lengkap tentang salah satu tragedi terbesar dalam sejarah Indonesia.
Sebuah Rekonsiliasi yang Ironis
Membaca Manurung dapat dilakukan dengan mengaitkannya pada buku Kekerasan Budaya Pasca 1965 karya Wijaya Herlambang. Buku ini berpendapat bahwa Orde Baru tidak hanya melakukan kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan budaya, yaitu proses melegitimasi pembantaian melalui produksi kebudayaan, seperti sastra dan film. Herlambang secara spesifik menyoroti peran kelompok Manifes Kebudayaan, yang dimotori oleh Goenawan Mohamad, dalam menentang Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), sayap kebudayaan PKI. Meskipun Manifes Kebudayaan mengusung "humanisme universal," narasi ini, setelah 1965, secara tidak langsung selaras dengan narasi anti-komunis Orde Baru.
Di sinilah letak ironi dan kompleksitas Manurung. Novel ini, yang ditulis oleh seorang tokoh yang pernah berada di pihak yang "berlawanan" dengan para korban, kini berfungsi sebagai monumen sastra yang mengukir kembali narasi yang telah dihancurkan oleh kekerasan budaya. Manurung dapat dibaca sebagai sebuah respons yang kompleks, bahkan sebagai bentuk rekonsiliasi pribadi Goenawan Mohamad dengan sejarahnya.
Novel ini secara langsung membongkar narasi resmi Orde Baru yang menjustifikasi kekerasan. Dengan menyoroti sisi humanis Manurung, ayahnya, dan adiknya, Yosef, novel ini menentang narasi Orde Baru yang mereduksi korban menjadi "ancaman negara" yang anonim. Gaya montase yang menolak narasi tunggal dan monolitik adalah sebuah pilihan artistik yang secara politis sangat kuat. Dengan berfokus pada ingatan yang terpotong-potong, Goenawan Mohamad menunjukkan bahwa trauma kolektif tidak dapat direduksi menjadi satu cerita yang rapi dan seragam, seperti yang dipaksakan oleh propaganda Orde Baru.
Melalui prosa lirisnya, Goenawan Mohamad seakan melakukan sebuah penulisan ulang historis yang halus namun mendalam. Alih-alih menulis sebuah sejarah tandingan yang faktual, ia menggunakan fiksi sebagai medium untuk mengoreksi ketidakadilan naratif. Dengan memilih narasi dari sudut pandang eksil yang kesepian dan terfragmentasi, ia secara eksplisit menolak narasi besar (grand narrative) yang heroik atau dogmatis. Penekanan pada penderitaan pribadi dan ingatan yang rapuh merupakan sebuah sikap perlawanan terhadap proyek dehumanisasi Orde Baru. Novel ini tidak mencoba menjawab "mengapa", tetapi lebih fokus pada "bagaimana" trauma itu dirasakan dan diwariskan, menjadikan penderitaan batin sebagai kebenaran yang tidak bisa dinegosiasikan.
Lebih dari sekadar kritik pribadi, Manurung adalah sebuah upaya untuk memulihkan memori budaya yang hilang. Dalam teori Herlambang, sastra dan film pasca-1965 berhasil menghapus ingatan kolektif tentang korban dan menanamkan rasa takut terhadap label "komunis." Manurung berfungsi sebagai kontra-narasi, sebuah artefak budaya baru yang menyediakan ruang untuk berduka dan mengenang. Dengan menulis novel ini, Goenawan Mohamad tidak hanya memenuhi janji "humanisme universal" yang telah lama ia gaungkan, tetapi juga secara praktis membuktikan bahwa sastra dapat menjadi instrumen keadilan historis. Ia membantu mengembalikan narasi yang telah dibungkam dan membuka jalan bagi pemahaman yang lebih bernuansa tentang kompleksitas sejarah Indonesia.
Dengan kata lain, Manurung adalah sebuah “percakapan kembali” dan "jawaban" Goenawan Mohamad atas kritik bahwa sastra pasca-1965, termasuk yang dibuat oleh kelompok Manifes Kebudayaan, yang gagal memberikan ruang bagi suara para korban. Novel ini adalah bukti bahwa sastra memiliki kekuatan untuk memulihkan ingatan, menguak trauma yang terpendam, dan menantang narasi yang berkuasa, bahkan puluhan tahun setelah tragedi terjadi.
Karya yang Berbatasan dengan Keegoisan Artistik
Manurung: Sebuah Montase adalah sebuah karya yang berani dan layak diarayakan. Ia merupakan karya yang berani. Ia adalah sebuah monumen puitis bagi trauma yang tak terungkapkan, sebuah novel yang memilih untuk mengabstraksi penderitaan demi menciptakan renungan filosofis yang mendalam. Ia layak dipuji atas keberaniannya mengeksplorasi tema-tema berat dengan pendekatan yang eksperimental. Namun, pada saat yang sama, ia berisiko mengasingkan pembaca yang mencari koneksi emosional yang lebih langsung dan narasi yang lebih ‘biasa’.
Namun, di balik keberanian artistiknya, novel ini tidak luput dari kritik bahwa gaya puitisnya berbatasan dengan keegoisan artistik. Alih-alih membangun jembatan empati, novel ini seakan menciptakan benteng dengan narasi yang seolah mengunci diri: narasi yang seakan-akan membangun dinding bagi pembaca.
Prosa yang menuntut dan terfragmentasi ini, yang menggemakan pikiran kacau Manurung, bisa diperdebatkan, yakni ia justru gagal dalam tugas fundamental sastra: mengajak pembaca merasakan apa yang dirasakan tokoh. Novel ini lebih tertarik pada bagaimana ingatan itu dirasakan daripada mengapa ingatan itu penting, menjadikannya sebuah meditasi yang dingin alih-alih sebuah kisah yang mengharukan.
Pada akhirnya, novel ini berdiri sebagai bukti bahwa sejarah tidak pernah hanya tentang fakta dan tanggal, tetapi juga tentang jiwa manusia yang terpengaruh olehnya. Meskipun Manurung bukanlah novel yang mudah atau menyenangkan untuk dibaca, ia adalah sebuah karya yang sangat penting, sebuah persembahan berani yang menantang kita untuk merenung di luar batas-batas narasi yang telah kita terima, dan untuk melihat sejarah sebagai sebuah montase yang kacau, menyakitkan, dan tidak pernah selesai.
Trending Now