Konten dari Pengguna
Soal-soal yang Tak Akan Muncul di Buku Sekolah tentang G30S dan Pasca-G30S
28 Juli 2025 21:12 WIB
·
waktu baca 28 menit
Kiriman Pengguna
Soal-soal yang Tak Akan Muncul di Buku Sekolah tentang G30S dan Pasca-G30S
Kumpulan soal 40 pilihan ganda dan 5 esai tentang G30S 1965 berbasis 10 buku akademik, membahas propaganda, gender, keterlibatan asing, dan rekonsiliasi untuk melatih analisis sejarah kritis mendalam.Dian Purba
Tulisan dari Dian Purba tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Peristiwa Gerakan 30 September 1965 dan pembantaian massal yang mengikutinya merupakan salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah Indonesia abad ke-20. Tragedi ini bukan sekadar episode politik, melainkan juga proses sosial, budaya, dan psikologis yang meninggalkan luka mendalam bagi jutaan rakyat. Berbagai karya akademik dan investigasi jurnalis yang terbit puluhan tahun kemudian membuka lapisan demi lapisan kebohongan resmi yang dibangun oleh rezim Orde Baru. Melalui dokumen militer, kesaksian penyintas, serta studi perbandingan genosida, para penulis berusaha menyingkap kebenaran yang selama ini dibungkam.
Sepuluh buku yang menjadi rujukan soal-soal ini menampilkan spektrum narasi yang luas. Geoffrey Robinson dalam The Killing Season: A History of the Indonesian Massacres, 1965–66 (2018) membedah bagaimana kekerasan terencana dilakukan oleh negara dan bagaimana intervensi asing ikut membentuk jalannya peristiwa. Jess Melvin dalam The Army and the Indonesian Genocide: Mechanics of Mass Murder (2018) menghadirkan temuan arsip militer Aceh yang membuktikan peran langsung Angkatan Darat dalam koordinasi pembunuhan massal. Sementara itu, John Roosa melalui Dalih Pembunuhan Massal Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto (2008) dan Buried Histories: The Anticommunist Massacres of 1965–1966 in Indonesia (2020) menunjukkan manipulasi fakta dalam narasi resmi kudeta serta menelusuri mekanisme penghilangan paksa di Jawa dan Bali.
Dimensi propaganda dan konstruksi kebencian diuraikan mendalam oleh Saskia Wieringa dan Nursyahbani Katjasungkana dalam Propaganda and the Genocide in Indonesia: Imagined Evil (2019). Buku ini menjelaskan bagaimana citra “komunis amoral” disebar melalui media dan budaya populer untuk membenarkan kekerasan. Wieringa juga dalam Sexual Politics in Indonesia (2002) mengungkap fitnah seksual terhadap Gerwani yang dimanfaatkan untuk merusak legitimasi perempuan dalam gerakan kiri. Penelitian ini membuka sisi gender dari tragedi 1965 yang jarang disorot.
Perspektif korban dan dimensi memori turut diangkat oleh McGregor, Pohlman, dan Melvin dalam The Indonesian Genocide of 1965: Causes, Dynamics and Legacies (2018). Buku ini menggabungkan studi lapangan dengan analisis akademik lintas disiplin, membahas situs-situs memori, trauma intergenerasional, serta inisiatif rekonsiliasi. Sementara Joshua Oppenheimer melalui disertasi Show of Force: film, ghosts and genres of historical performance in the Indonesian genocide (2004) dan film-filmnya The Act of Killing (2012) serta The Look of Silence (2014) menantang publik dengan pendekatan performatif: menghadirkan pelaku untuk memerankan ulang kekejaman mereka sendiri.
Keseluruhan referensi ini menyajikan kerangka lengkap: dari analisis struktur kekuasaan, dinamika lokal, propaganda, hingga pengalaman korban. Soal-soal yang disusun berikut tidak hanya menguji hafalan, tetapi juga pemahaman mendalam, kemampuan menganalisis sumber, serta menilai perbedaan tafsir historiografis. Tingkat kesulitan soal dirancang tinggi untuk mendorong pembaca berpikir kritis terhadap narasi dominan yang selama ini diterima begitu saja.
Dengan latar inilah, 40 soal pilihan berganda dan 5 soal esai berikut disusun. Setiap soal merujuk pada temuan-temuan kunci dari sepuluh buku tersebut dan dirancang untuk menguji pemahaman konseptual, interpretasi historiografis, serta kemampuan menghubungkan peristiwa G30S dengan konteks sosial-politik Indonesia maupun global pada era Perang Dingin.
40 Soal Pilihan Berganda
1. Pada awal 1960-an, konsep Nasakom (Nasionalisme, Agama, Komunisme) yang digagas Sukarno menjadi fondasi koalisi politik nasional. PKI memanfaatkan konsep ini untuk memperluas pengaruhnya, termasuk melalui organisasi massa besar seperti SOBSI (buruh), BTI (tani), dan Gerwani (perempuan). Sementara itu, militer memandang konsep ini berbahaya karena memperkuat posisi PKI di luar kendali mereka.
Mengapa PKI mampu memanfaatkan Nasakom untuk memperluas pengaruhnya menjelang G30S?
A. Karena PKI menggunakan Nasakom untuk merekrut dukungan militer konservatif yang sebelumnya menolak komunisme.
B. Karena Nasakom memungkinkan PKI bergabung secara legal dalam pemerintahan Sukarno sekaligus menghindari tuduhan sebagai pemberontak setelah 1948.
C. Karena Nasakom membuat PKI bersekutu dengan kelompok Islam konservatif untuk melawan agenda nasionalis sekuler.
D. Karena Nasakom secara otomatis menghapus semua konflik ideologis di Indonesia, menjadikan PKI diterima luas tanpa oposisi.
E. Karena Nasakom menciptakan struktur negara satu partai di mana PKI menjadi partai tunggal yang berkuasa.
2. Setelah peristiwa 30 September 1965, militer Indonesia bergerak cepat menumpas PKI dan simpatisannya. Dalam historiografi resmi Orde Baru, ini digambarkan sebagai respons spontan terhadap “kudeta” PKI. Namun, sejarawan seperti Roosa dan Melvin menemukan indikasi bahwa militer sudah memiliki jaringan teritorial kuat dan skenario operasi sebelum G30S terjadi.
Mengapa militer mampu bergerak begitu cepat dan masif pasca-G30S?
A. Karena militer mendapat dukungan langsung dari CIA yang mengirim pasukan tempur ke Jawa Tengah.
B. Karena militer sudah lama membangun jaringan komando teritorial yang memungkinkan mobilisasi cepat, serta memanfaatkan kekosongan kekuasaan setelah Sukarno melemah.
C. Karena PKI secara sukarela menyerahkan diri setelah G30S gagal.
D. Karena semua kekuatan politik lain (Islam, nasionalis) secara otomatis mendukung PKI sehingga militer tak mendapat perlawanan.
E. Karena Perang Dingin tidak berpengaruh sehingga militer bebas bertindak tanpa tekanan internasional.
3. Peristiwa pembunuhan para jenderal TNI di Lubang Buaya menjadi titik balik propaganda Orde Baru. Narasi resmi menyebut PKI sebagai dalang tunggal, sementara Sukarno dituduh membiarkan peristiwa itu terjadi. Pascareformasi, narasi ini dikaji ulang; bukti menunjukkan adanya kesimpangsiuran fakta, manipulasi kesaksian, dan ketidakhadiran dokumen kunci.
Apa dampak dari kesimpangsiuran fakta ini terhadap cara memahami G30S?
A. Memaksa sejarawan untuk menerima narasi Orde Baru sebagai satu-satunya kebenaran yang tersedia.
B. Membuka ruang bagi interpretasi baru, menggabungkan arsip asing, kesaksian korban, dan konteks Perang Dingin untuk menantang narasi tunggal negara.
C. Membuktikan bahwa PKI sepenuhnya tidak terlibat dan bahwa Sukarno adalah dalang tunggal.
D. Menunjukkan bahwa propaganda Orde Baru netral dan berdasarkan forensik murni.
E. Menghapus pentingnya pendekatan multidisipliner dalam historiografi Indonesia modern.
4. Salah satu perdebatan besar dalam studi 1965 adalah keterlibatan asing, khususnya Amerika Serikat dan Inggris. Bukti arsip menunjukkan bahwa kedua negara ini mendukung militer Indonesia dengan intelijen dan propaganda anti-PKI, meskipun tidak terlibat langsung dalam eksekusi pembantaian. Orde Baru, sebaliknya, menghapus narasi keterlibatan asing ini untuk menekankan konflik internal.
Mengapa memahami keterlibatan asing penting dalam studi tragedi 1965?
A. Karena tanpa konteks global, tragedi tampak sebagai konflik lokal semata dan mengaburkan motivasi geopolitik Barat.
B. Karena bukti keterlibatan asing membuktikan PKI sama sekali tidak bersalah.
C. Karena keterlibatan asing membuat tragedi 1965 identik dengan perang dunia kedua.
D. Karena narasi keterlibatan asing dipakai Sukarno untuk menjustifikasi hubungan dekatnya dengan CIA.
E. Karena keterlibatan asing menghapus seluruh peran aktor lokal dalam pembantaian.
5. Gerwani sebagai organisasi perempuan kiri dihancurkan pasca-1965 melalui fitnah seksual Lubang Buaya. Propaganda ini bukan hanya melumpuhkan Gerwani, tetapi juga menghancurkan gerakan perempuan progresif Indonesia secara keseluruhan. Pascareformasi, upaya merehabilitasi nama Gerwani masih terhambat stigma sosial dan narasi Orde Baru yang membekas.
Apa makna studi tentang Gerwani dalam memahami politik gender tragedi 1965?
A. Menunjukkan bagaimana propaganda berbasis gender digunakan untuk melegitimasi kekerasan negara dan menghapus partisipasi perempuan dalam politik.
B. Membuktikan bahwa Gerwani sepenuhnya tidak berpolitik dan hanya fokus pada isu domestik keluarga.
C. Mengungkap bahwa gerakan perempuan selalu netral dalam konflik ideologi.
D. Membuktikan bahwa fitnah Lubang Buaya diakui kebenarannya oleh PBB.
E. Menjelaskan bahwa gerakan perempuan progresif selalu didukung penuh oleh militer.
6. Salah satu cara Orde Baru mengonsolidasikan kekuasaan pasca-1965 adalah melalui propaganda visual. Film Pengkhianatan G30S/PKI yang wajib ditonton setiap tahun menjadi instrumen utama pembentukan ingatan kolektif. Film ini memvisualisasikan kekejaman PKI di Lubang Buaya dan kepahlawanan TNI, namun mengabaikan pembantaian massal pascaperistiwa itu. Pascareformasi, film ini diperdebatkan: sebagian menganggapnya dokumen sejarah, sebagian lain melihatnya sebagai alat indoktrinasi.
Mengapa film ini dianggap sangat efektif sebagai alat propaganda Orde Baru?
A. Karena film ini berbasis pada bukti forensik netral yang diakui dunia internasional.
B. Karena film ini diproduksi dengan narasi heroik dan tayangan wajib di sekolah, membentuk persepsi generasi muda selama tiga dekade.
C. Karena film ini menampilkan kesaksian korban PKI tanpa sensor.
D. Karena film ini hanya diputar sekali pada tahun 1984, tanpa pengulangan tahunan.
E. Karena film ini dipakai PKI untuk merehabilitasi citranya di mata masyarakat Indonesia.
7. Dalam narasi resmi Orde Baru, G30S digambarkan sebagai “kudeta PKI” terhadap negara. Namun, penelitian kontemporer menunjukkan adanya dinamika kompleks: konflik internal militer, peran Biro Khusus PKI, dan manipulasi narasi setelah kejadian. Historiografi modern menantang simplifikasi ini, menyoroti “kesemrawutan fakta” dan keterlibatan aktor lain.
Mengapa narasi “kudeta PKI” dinilai bermasalah menurut sejarawan kontemporer?
A. Karena narasi ini mengabaikan keterlibatan faksi militer dan aktor lain yang memanfaatkan peristiwa untuk merebut kekuasaan.
B. Karena narasi ini sudah dibantah oleh pengadilan internasional PBB sejak 1966.
C. Karena narasi ini dibangun sepenuhnya berdasarkan arsip PKI tanpa data militer.
D. Karena narasi ini fokus pada Perang Dunia II, bukan Perang Dingin.
E. Karena narasi ini sepenuhnya netral dan tidak memihak.
8. Pembantaian 1965–66 menewaskan ratusan ribu orang. Salah satu cirinya adalah keterlibatan masyarakat sipil (milisi, kelompok agama) dalam kekerasan. Militer memanfaatkan jaringan lokal untuk mempercepat eksekusi, sehingga sulit membedakan antara “spontanitas rakyat” dan “operasi terencana negara.” Pascareformasi, fakta ini menimbulkan perdebatan tanggung jawab kolektif.
Apa implikasi utama keterlibatan masyarakat sipil dalam pembantaian?
A. Membuktikan bahwa kekerasan sepenuhnya spontan tanpa kendali negara.
B. Menunjukkan sinergi antara militer dan jaringan sipil, sehingga tanggung jawab moral dan hukum menjadi lebih kompleks.
C. Menandakan bahwa PKI sendiri yang memobilisasi rakyat untuk membunuh lawan politiknya.
D. Membuktikan bahwa pembantaian hanya terjadi di Jakarta tanpa meluas ke daerah.
E. Menegaskan bahwa kekerasan sepenuhnya dipicu propaganda asing tanpa faktor domestik.
9. Istilah Dalih Pembunuhan Massal, Roosa merujuk pada cara militer menggunakan G30S sebagai pembenaran untuk pembersihan besar-besaran terhadap PKI. Peristiwa 30 September menjadi titik awal legitimasi operasi penumpasan yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
Mengapa konsep “dalih” ini penting dalam memahami kekerasan 1965?
A. Karena menunjukkan bahwa pembantaian sudah direncanakan dan G30S dijadikan justifikasi untuk konsolidasi kekuasaan militer.
B. Karena membuktikan bahwa PKI tidak pernah ada di Indonesia.
C. Karena menjelaskan mengapa PBB mendukung penuh PKI dalam konflik tersebut.
D. Karena membuktikan bahwa propaganda Orde Baru netral.
E. Karena membuktikan bahwa konflik 1965 murni perang agama tanpa konteks politik.
10. Pulau Buru terkenal sebagai kamp kerja paksa bagi tahanan politik 1965. Ratusan orang ditahan tanpa pengadilan, dipaksa bekerja di kondisi keras, dan diisolasi dari keluarga. Pascareformasi, Pulau Buru menjadi simbol trauma dan perlawanan memori korban.
Apa makna Pulau Buru dalam studi kekerasan 1965?
A. Simbol pengasingan Sukarno dan perlawanan nasionalis.
B. Bukti sistematisnya represi Orde Baru terhadap tahanan politik, bukan sekadar konflik spontan.
C. Pusat propaganda PKI untuk membangun kekuatan baru setelah 1965.
D. Situs perundingan rahasia Indonesia–AS tentang perang Vietnam.
E. Monumen resmi korban yang diresmikan Orde Baru pada 1970-an.
11. Salah satu dampak jangka panjang tragedi 1965 adalah stigma “anak PKI”. Keturunan korban mengalami diskriminasi administratif (kolom ET, eks tapol), kesulitan akses pendidikan, pekerjaan, dan politik. Stigma ini bertahan bahkan setelah reformasi.
Mengapa stigma ini begitu sulit dihapus?
A. Karena PBB menetapkannya sebagai status hukum internasional.
B. Karena negara Orde Baru menginstitusikan stigma melalui dokumen resmi dan propaganda, membentuk memori kolektif selama puluhan tahun.
C. Karena jumlah keturunan korban terlalu sedikit sehingga tidak signifikan secara sosial.
D. Karena PKI bangkit kembali setelah reformasi dan memicu ketakutan baru.
E. Karena stigma ini hanya berlaku di kalangan militer, bukan masyarakat umum.
12. Pascareformasi, muncul upaya rekonsiliasi: Komnas HAM menyelidiki pelanggaran, LSM mengadakan tribunal rakyat, dan korban mulai bersuara. Namun, upaya ini menghadapi hambatan politik dan sosial, termasuk retorika “bahaya laten komunis”.
Mengapa rekonsiliasi 1965 sulit tercapai hingga kini?
A. Karena semua bukti fisik pembantaian hilang total.
B. Karena resistensi militer dan elite politik serta ketakutan anti-komunis yang terus dimobilisasi untuk menolak pembukaan arsip dan pengakuan negara.
C. Karena korban menolak rekonsiliasi dan memilih diam.
D. Karena PKI kembali menjadi partai resmi dan menolak semua dialog.
E. Karena Indonesia sudah mengadili pelaku di pengadilan internasional.
13. Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya adalah pusat propaganda Orde Baru. Monumen ini menonjolkan narasi heroik TNI dan kekejaman PKI, tanpa ruang bagi narasi korban sipil.
Mengapa monumen ini diperdebatkan pascareformasi?
A. Karena simbol propaganda negara yang menghapus suara korban sipil dan mendukung legitimasi pembantaian massal.
B. Karena dibangun oleh PKI sebagai simbol perlawanan.
C. Karena memuat bukti forensik netral yang mengakhiri semua kontroversi sejarah.
D. Karena telah dihapus dari kurikulum sejak 1998.
E. Karena diakui UNESCO sebagai warisan dunia.
14. Salah satu perdebatan historiografi 1965 adalah klasifikasi tragedi sebagai genosida. Definisi Konvensi 1948 fokus pada etnis/agama, sedangkan korban 1965 adalah kelompok politik (PKI).
Mengapa klasifikasi ini penting?
A. Karena menentukan apakah Indonesia dapat dituntut di pengadilan internasional dan memengaruhi pengakuan moral atas korban.
B. Karena jika disebut genosida, berarti PKI tidak bersalah sama sekali.
C. Karena klasifikasi ini hanya relevan untuk konflik di Eropa.
D. Karena istilah genosida otomatis menghapus semua narasi politik.
E. Karena genosida tidak pernah diakui oleh hukum internasional.
15. Konteks Perang Dingin sangat memengaruhi tragedi 1965. Amerika Serikat, Inggris, dan Australia mendukung militer Indonesia, sementara PKI dekat dengan Tiongkok dan Uni Soviet. Narasi Orde Baru menutupi keterlibatan asing untuk menekankan konflik internal.
Mengapa konteks Perang Dingin penting dipahami dalam studi 1965?
A. Karena menjelaskan dukungan Barat terhadap militer Indonesia dan mengapa tragedi ini diabaikan di forum internasional.
B. Karena Perang Dingin hanya berpengaruh di Eropa Timur, bukan Asia Tenggara.
C. Karena PKI tidak memiliki hubungan internasional, sehingga konteks global tidak relevan.
D. Karena keterlibatan asing membuktikan bahwa militer Indonesia tidak berperan sama sekali.
E. Karena konteks global otomatis membuat konflik 1965 identik dengan Perang Dunia II.
16. Dalam Sexual Politics in Indonesia, Saskia Wieringa menegaskan bahwa Gerwani bukan hanya organisasi perempuan, tetapi juga bagian integral dari proyek politik PKI yang menggabungkan feminisme, sosialisme, dan nasionalisme. Agenda mereka mencakup reformasi hukum perkawinan, pendidikan politik perempuan, dan dukungan terhadap land reform yang didorong PKI. Namun, setelah G30S, propaganda militer melabeli Gerwani sebagai pelaku kekejaman seksual di Lubang Buaya, sehingga legitimasi gerakan perempuan kiri runtuh total.
Mengapa militer Orde Baru melihat Gerwani sebagai ancaman ganda yang harus dihancurkan?
A. Karena Gerwani menggabungkan agenda kesetaraan gender yang menantang patriarki tradisional dengan program radikal PKI seperti reforma agraria, sehingga berpotensi mengganggu tatanan sosial-ekonomi dan politik.
B. Karena Gerwani sepenuhnya netral secara politik dan fokus pada isu domestik, sehingga sulit digunakan untuk propaganda negara.
C. Karena Gerwani didukung penuh oleh Sukarno sekaligus CIA, menjadikannya target pengawasan ganda.
D. Karena Gerwani hanya aktif di kota-kota besar dan tidak memiliki basis massa yang signifikan di pedesaan.
E. Karena Gerwani sejak awal menolak hubungan dengan PKI dan lebih dekat ke ormas Islam konservatif.
17. Gerwani awalnya bernama Gerwis (Gerakan Wanita Indonesia Sedar) sebelum berubah menjadi Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia). Perubahan ini mencerminkan transformasi orientasi politik dan basis sosial organisasi dari kelompok kecil sadar politik menjadi gerakan massa perempuan terbesar di Indonesia.
Apa signifikansi perubahan nama ini bagi strategi politik Gerwani dan PKI?
A. Perubahan nama mencerminkan pergeseran dari kelompok elit terdidik pasca-kemerdekaan ke mobilisasi massa perempuan buruh dan tani, sejalan dengan strategi PKI membangun kekuatan berbasis akar rumput.
B. Perubahan nama menandakan pembubaran total organisasi lama setelah kegagalan pemberontakan PKI 1948 dan pembentukan organisasi baru tanpa afiliasi politik.
C. Perubahan nama terjadi karena tekanan diplomatik internasional untuk memisahkan Gerwani dari gerakan perempuan komunis global.
D. Perubahan nama dilakukan untuk menghindari stigma feminisme radikal di mata masyarakat Jawa yang konservatif.
E. Perubahan nama mencerminkan keinginan Gerwani menjadi organisasi eksklusif perkotaan, meninggalkan basis pedesaan yang sudah mapan.
18. Fitnah seksual Lubang Buaya menjadi inti propaganda Orde Baru pasca-G30S. Narasi ini menggambarkan Gerwani sebagai perempuan “biadab” yang menari telanjang dan menyiksa jenderal TNI sebelum membunuh mereka. Penelitian forensik kemudian membantah tuduhan mutilasi seksual ini, namun propaganda tersebut tetap hidup selama puluhan tahun melalui film wajib, buku pelajaran, dan monumen.
Mengapa fitnah seksual ini begitu efektif melegitimasi kekerasan terhadap Gerwani dan PKI?
A. Karena fitnah ini memanfaatkan norma kesucian tubuh perempuan dan kehormatan militer di masyarakat Jawa, sehingga memicu kemarahan emosional kolektif yang mendukung pembantaian.
B. Karena tuduhan ini didukung bukti forensik kuat dan pengakuan resmi dari Gerwani di pengadilan militer.
C. Karena Sukarno sendiri menggunakan narasi ini untuk memperkuat posisinya melawan militer.
D. Karena PKI sebelumnya menyebarkan propaganda serupa terhadap lawan-lawannya, sehingga masyarakat mudah mempercayainya.
E. Karena fitnah ini didukung resolusi PBB yang mengakui kejahatan seksual Gerwani sebagai fakta hukum internasional.
19. Historiografi kontemporer menunjukkan bahwa tuduhan Gerwani menyiksa jenderal di Lubang Buaya adalah konstruksi propaganda Orde Baru. Studi Wieringa mendemonstrasikan bahwa narasi ini bukan hanya rekayasa, tetapi juga strategi untuk menghancurkan solidaritas perempuan kiri dan nasionalis. Kritik ini menantang narasi resmi Orde Baru yang diajarkan selama 32 tahun di sekolah-sekolah Indonesia.
Bagaimana para sejarawan menafsirkan ulang tuduhan tersebut?
A. Sebagai fakta sejarah yang tak terbantahkan, dibuktikan oleh kesaksian forensik dan diakui secara internasional.
B. Sebagai produk propaganda negara untuk mendemonisasi gerakan perempuan kiri, menghancurkan legitimasi politik PKI, dan memobilisasi dukungan publik bagi pembersihan massal.
C. Sebagai bukti keterlibatan CIA yang mengarahkan Gerwani untuk melakukan kekerasan seksual terhadap jenderal TNI.
D. Sebagai pengakuan tulus Gerwani pascareformasi bahwa mereka memang bersalah atas kejahatan tersebut.
E. Sebagai narasi populer yang tidak pernah masuk dalam kurikulum resmi Orde Baru.
20. Setelah jatuhnya Orde Baru tahun 1998, muncul wacana untuk menghapus stigma terhadap keturunan orang-orang yang dituduh terlibat PKI, sering disebut “anak PKI.” Namun upaya ini tidak berjalan mudah. Banyak keluarga korban masih melaporkan kesulitan mengakses pendidikan tinggi, pekerjaan sipil, bahkan hak politik, meski hukum formal diskriminatif sudah dicabut. Dalam kajian McGregor dan Wieringa, hambatan terbesar penghapusan stigma ini bukan hanya faktor sosial, tetapi juga struktural.
Apa yang menjadi alasan utama mengapa stigma ini tetap bertahan bahkan setelah 25 tahun reformasi?
A. Karena sejak 1965 hingga kini, PBB secara resmi memasukkan “anak PKI” sebagai kelompok terlarang yang tidak boleh memegang jabatan publik.
B. Karena Orde Baru mewariskan infrastruktur diskriminasi administratif seperti kolom “ET” (eks tapol) dalam dokumen resmi dan kurikulum pendidikan yang membentuk stigma turun-temurun.
C. Karena jumlah “anak PKI” relatif kecil sehingga isu ini jarang mendapat perhatian serius dalam kebijakan pemerintah pascareformasi.
D. Karena mayoritas keturunan PKI memilih eksil ke luar negeri, sehingga masalah stigma hanya dirasakan oleh sebagian kecil masyarakat Indonesia.
E. Karena PKI telah bangkit kembali sebagai partai legal pascareformasi dan menolak semua program rekonsiliasi nasional.
21. Penahanan massal pasca-1965 dikenal sebagai fenomena unik dalam sejarah politik Indonesia modern. Tidak seperti penahanan politik sebelumnya, yang biasanya berlangsung singkat dan menyasar elite, penahanan kali ini menjerat ratusan ribu orang dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk petani, buruh, dan guru. Sebagian besar tahanan tidak pernah diadili, bahkan banyak yang mendekam di kamp kerja paksa hingga belasan tahun.
Mengapa pola penahanan massal ini dianggap sebagai bentuk represi baru yang berbeda dari praktik politik sebelumnya?
A. Karena penahanan dilakukan dengan proses hukum transparan yang mempercepat rekonsiliasi politik nasional.
B. Karena tahanan ditahan tanpa proses pengadilan, dikirim ke lokasi terpencil seperti Pulau Buru untuk kerja paksa, dan mengalami stigma sosial bahkan setelah dibebaskan.
C. Karena penahanan hanya berfokus pada elite politik PKI di Jakarta dan tidak menyentuh akar rumput di daerah.
D. Karena proses penahanan berlangsung singkat dan seluruh tahanan segera direhabilitasi oleh rezim Orde Baru.
E. Karena penahanan diarahkan untuk melindungi korban dari amuk massa, bukan untuk menghukum mereka.
22. Pulau Buru menjadi simbol kejahatan negara dalam narasi korban 1965. Kamp kerja paksa di sana tidak hanya berfungsi sebagai tempat penahanan, tetapi juga sebagai alat rekayasa sosial untuk “mendidik ulang” tahanan politik. Kondisi kerja paksa yang keras, isolasi geografis, dan pemisahan dari keluarga meninggalkan trauma mendalam.
Apa makna Pulau Buru dalam memori kolektif korban dan kajian sejarah kontemporer?
A. Pulau Buru dikenal sebagai tempat pengasingan Sukarno sehingga menjadi simbol perlawanan nasionalis.
B. Pulau Buru menjadi ikon “gulag” Orde Baru: bukti represi sistematis terhadap tahanan politik dalam skala besar, bukan sekadar operasi militer spontan.
C. Pulau Buru berfungsi sebagai basis terakhir PKI yang melawan rezim Suharto secara bersenjata.
D. Pulau Buru menjadi lokasi perundingan rahasia antara Indonesia, Amerika Serikat, dan Tiongkok.
E. Pulau Buru diubah oleh Orde Baru menjadi museum resmi yang mengakui penderitaan korban sejak 1970-an.
23. Anak-anak korban 1965 mengalami diskriminasi struktural yang memengaruhi mobilitas sosial mereka selama puluhan tahun. Diskriminasi ini tidak hanya berbentuk stigma sosial, tetapi juga kebijakan negara yang konkret.
Bagaimana mekanisme utama diskriminasi ini berlangsung?
A. Hanya melalui penolakan masyarakat sekitar tanpa campur tangan pemerintah atau kebijakan formal.
B. Melalui pencantuman label “ET” (Eks Tapol) di dokumen resmi seperti KTP, yang otomatis menutup akses pendidikan, pekerjaan sipil, dan partisipasi politik bagi keturunan korban.
C. Melalui larangan tidak resmi PBB terhadap keturunan PKI untuk bersekolah di Indonesia.
D. Melalui kebijakan pemerintah yang justru memberikan kompensasi berlebihan kepada keturunan PKI sehingga memicu kecemburuan sosial.
E. Melalui program transmigrasi wajib bagi keturunan PKI yang ingin melanjutkan pendidikan.
24. Setelah reformasi, muncul inisiatif untuk mengubah situs-situs bekas kamp tahanan menjadi ruang memorial korban. Salah satu yang paling menonjol adalah Pulau Buru, yang sebelumnya dikenal sebagai pusat kerja paksa bagi eks-tapol.
Apa fungsi situs ini dalam wacana memori kontemporer?
A. Menjadi destinasi wisata sejarah netral yang menghapus kontroversi politik.
B. Menjadi ruang alternatif peringatan korban, memungkinkan keluarga korban melakukan ziarah dan membangun narasi tandingan terhadap propaganda Orde Baru.
C. Digunakan pemerintah untuk menegaskan kembali narasi resmi Orde Baru tentang bahaya laten komunis.
D. Digunakan oleh militer untuk melatih pasukan khusus pascareformasi.
E. Menjadi situs diplomasi internasional antara Indonesia dan negara-negara Barat.
25. Stigma “anak PKI” tidak hanya bertahan karena ingatan sosial, tetapi juga diproduksi ulang oleh negara selama Orde Baru. Propaganda anti-komunis meresap hingga ke kurikulum sekolah, film wajib tahunan, dan media massa.
Mengapa proses reproduksi stigma ini begitu efektif?
A. Karena negara mewajibkan keluarga korban untuk mempublikasikan status politik mereka di ruang publik setiap tahun.
B. Karena propaganda negara dilakukan secara sistematis dan berulang, menormalisasi pandangan bahwa afiliasi PKI adalah dosa turun-temurun.
C. Karena PKI melakukan aksi balas dendam pascareformasi sehingga stigma tetap relevan.
D. Karena PBB mengakui stigma ini sebagai kategori hukum internasional.
E. Karena sebagian besar keturunan PKI memilih mengasingkan diri secara sukarela.
26. John Roosa menyebut penyelidikan G30S sebagai “kesemrawutan fakta.” Istilah ini merujuk pada situasi di mana bukti-bukti yang tersedia saling bertentangan, dokumen resmi hilang, dan kesaksian pelaku maupun korban kerap dimanipulasi.
Apa implikasi dari kondisi “kesemrawutan fakta” ini terhadap historiografi 1965?
A. Membuat para sejarawan menganggap peristiwa 1965 terlalu jelas sehingga tak perlu diteliti lagi.
B. Memaksa sejarawan menggabungkan berbagai sumber alternatif—arsip asing, kesaksian korban, studi forensik—untuk merekonstruksi narasi yang lebih akurat.
C. Membuktikan bahwa PKI secara eksplisit mengakui keterlibatannya dalam kudeta militer.
D. Memastikan narasi resmi Orde Baru adalah satu-satunya versi sejarah yang valid.
E. Menunjukkan bahwa historiografi pascareformasi sepenuhnya bebas dari kontroversi.
27. Istilah Pretext for Mass Murder yang digunakan Roosa menyoroti cara militer menggunakan G30S sebagai dalih politik untuk melancarkan pembantaian.
Mengapa konsep “dalih” ini penting dalam memahami mekanisme kekerasan 1965?
A. Karena menunjukkan bahwa pembantaian adalah reaksi spontan rakyat tanpa peran militer.
B. Karena mengungkap bahwa kekerasan telah direncanakan sebelumnya dan G30S hanya dijadikan justifikasi untuk menyingkirkan PKI dan mengkonsolidasikan kekuasaan.
C. Karena membuktikan bahwa PKI sepenuhnya bersih dari keterlibatan dalam G30S.
D. Karena menjelaskan mengapa PBB mendukung aksi militer Indonesia pada 1965.
E. Karena membuktikan bahwa konflik 1965 murni lokal tanpa pengaruh Perang Dingin.
28. Geoffrey Robinson dalam The Killing Season menekankan bahwa tragedi 1965–66 tidak bisa dipahami secara memadai jika dilepaskan dari konteks Perang Dingin. Ia menunjukkan bahwa dukungan logistik dan politik dari Amerika Serikat dan Inggris memainkan peran signifikan dalam memungkinkan Angkatan Darat Indonesia melakukan pembersihan massal. Namun, sebagian narasi domestik berusaha menegaskan tragedi ini sebagai “konflik internal” murni antara PKI dan Angkatan Darat tanpa intervensi asing.
Mengapa Robinson menganggap perspektif “konflik internal murni” itu bermasalah bagi studi historiografi 1965?
A. Karena tanpa mempertimbangkan konteks global, penelitian berisiko menyederhanakan kekerasan menjadi sekadar perebutan kekuasaan lokal dan mengabaikan motivasi geopolitik Barat yang mendorong pembantaian.
B. Karena Perang Dingin sebenarnya tidak memiliki dampak apa pun terhadap Indonesia, sehingga narasi lokal lebih relevan.
C. Karena keterlibatan asing hanya terbatas pada pengiriman senjata, tanpa strategi propaganda atau intelijen.
D. Karena Sukarno sudah memihak Amerika Serikat sejak awal sehingga Perang Dingin tidak relevan.
E. Karena PKI tidak memiliki hubungan internasional, sehingga tidak mungkin dipengaruhi dinamika global.
29. Istilah “Zombie Anti-Komunisme” digunakan sejumlah akademisi, termasuk Vedi Hadiz, untuk menggambarkan fenomena politik pascareformasi Indonesia. PKI secara hukum telah bubar sejak 1966, tetapi retorika anti-komunis terus hidup dan dipakai untuk menolak kebijakan rekonsiliasi serta membuka arsip militer. Fenomena ini menunjukkan bagaimana “ketakutan” bisa bertahan tanpa objek nyata.
Apa makna utama istilah “Zombie Anti-Komunisme” dalam analisis politik Indonesia kontemporer?
A. Ketakutan anti-komunis tetap hidup meski PKI sudah mati, dimobilisasi elite untuk menjustifikasi pelarangan diskusi sejarah kritis dan menghalangi proses keadilan transisional.
B. PKI benar-benar bangkit kembali pascareformasi sehingga retorika anti-komunis kembali relevan.
C. Istilah ini merujuk pada kebangkitan gerakan kiri digital yang masif di media sosial setelah 1998.
D. “Zombie Anti-Komunisme” adalah kampanye global UNESCO untuk melawan komunisme yang berfokus di Asia Tenggara.
E. Istilah ini menggambarkan keberhasilan Orde Baru menghapus total memori tentang kekerasan 1965 di kalangan generasi muda.
30. Tragedi 1965 sering diperdebatkan apakah layak dikategorikan sebagai genosida. Menurut Konvensi Genosida 1948, genosida merujuk pada niat untuk menghancurkan “sebagian atau seluruh” kelompok etnis, agama, atau ras. Namun, sebagian akademisi memperluas definisi ini untuk mencakup kelompok politik. Kasus Indonesia unik karena pembantaian massal menargetkan anggota dan simpatisan PKI, yaitu kelompok politik terbesar di luar blok Barat.
Mengapa sebagian akademisi mengklasifikasikan tragedi 1965 sebagai genosida meskipun korban utamanya adalah kelompok politik?
A. Karena jumlah korban sangat besar, mencapai ratusan ribu jiwa, sehingga otomatis memenuhi kriteria genosida menurut hukum internasional.
B. Karena interpretasi luas Konvensi 1948 memungkinkan “bagian kelompok nasional” yang didefinisikan secara politik juga dianggap sebagai sasaran genosida, terutama bila tujuan pembantaian adalah pemusnahan total.
C. Karena tragedi 1965 diakui resmi oleh PBB sebagai genosida sejak 1970-an.
D. Karena pelaku pembantaian secara eksplisit mengaku melakukan genosida terhadap kelompok politik di pengadilan nasional.
E. Karena tragedi 1965 terjadi pada masa perang dunia kedua sehingga otomatis masuk kategori genosida.
31. Peran Amerika Serikat dalam tragedi 1965 sering kali disalahpahami sebagai “dukungan pasif.” Namun, bukti arsip deklasifikasi CIA dan penelitian Geoffrey Robinson menunjukkan bahwa AS memberi dukungan langsung yang signifikan kepada Angkatan Darat Indonesia. Dukungan ini mencakup daftar target eksekusi, bantuan komunikasi, serta dukungan diplomatik untuk melegitimasi aksi militer Suharto.
Mengapa dukungan AS dapat dikategorikan sebagai “aktif” daripada “pasif”?
A. Karena AS mengirim pasukan tempur langsung ke Indonesia untuk membantu operasi militer terhadap PKI.
B. Karena AS menyediakan daftar target PKI, bantuan logistik, serta melobi di PBB untuk menutup kritik internasional terhadap pembantaian.
C. Karena AS menandatangani perjanjian damai dengan PKI untuk mengakhiri kekerasan.
D. Karena CIA memimpin propaganda pro-PKI di media internasional.
E. Karena AS secara terbuka mengutuk kekerasan 1965 dan mendesak penyelidikan HAM internasional.
32. Keterlibatan Inggris dan Australia dalam tragedi 1965 sering luput dari perhatian publik. Namun, arsip yang dibuka belakangan menunjukkan kedua negara ini aktif dalam perang psikologis melawan PKI. Mereka menyebarkan propaganda anti-komunis melalui radio, selebaran, dan jaringan diplomatik regional untuk mendukung operasi militer Indonesia.
Apa bentuk paling signifikan dari keterlibatan Inggris dan Australia menurut studi terbaru?
A. Netral sepenuhnya, menolak intervensi di Indonesia karena fokus pada Vietnam.
B. Penyediaan intelijen, operasi psywar, dan propaganda anti-PKI untuk melemahkan dukungan publik terhadap gerakan kiri di Asia Tenggara.
C. Perlindungan bagi pimpinan PKI yang melarikan diri ke luar negeri, terutama ke Singapura dan Malaysia.
D. Protes keras terhadap pembantaian 1965 di forum internasional, mendesak penyelidikan PBB.
E. Mediasi damai antara Angkatan Darat dan PKI untuk mencegah konflik berkepanjangan.
33. Teori Domino menjadi dasar utama kebijakan AS di Asia Tenggara selama Perang Dingin. Setelah jatuhnya Vietnam Utara ke tangan komunis, Washington khawatir bahwa negara-negara tetangga, termasuk Indonesia, akan mengikuti pola yang sama. Dengan PKI sebagai partai komunis terbesar di luar Tiongkok dan Uni Soviet, Indonesia dipandang sebagai “prize” strategis.
Bagaimana Domino Theory memengaruhi kebijakan AS terhadap Indonesia pada 1965?
A. AS menilai jika Indonesia jatuh ke komunisme, maka seluruh Asia Tenggara akan ikut jatuh, sehingga mendukung penuh militer Indonesia menghancurkan PKI.
B. AS menganggap Asia Tenggara tidak signifikan dalam Perang Dingin sehingga memilih netral terhadap konflik Indonesia.
C. AS melihat PKI sebagai partai lemah tanpa hubungan internasional, sehingga tidak perlu khawatir soal “domino.”
D. AS yakin Indonesia sudah kapitalis sejak awal, sehingga tidak ada ancaman komunisme.
E. AS memandang Perang Dingin hanya relevan untuk Eropa Timur, bukan Asia Tenggara.
34. Sikap PBB terhadap pembantaian 1965 sering dikritik sebagai bukti bias geopolitik. Meski ratusan ribu orang tewas, tidak ada resolusi resmi atau investigasi internasional yang dilakukan. Hal ini berbeda dengan tragedi genosida lain yang mendapat perhatian dunia, seperti Rwanda atau Bosnia.
Mengapa PBB memilih diam terhadap tragedi 1965?
A. Karena PBB mengirim misi investigasi resmi dan menyatakan dukungan pada korban PKI.
B. Karena PBB mengeluarkan resolusi yang memuji tindakan militer Indonesia sebagai stabilisasi politik.
C. Karena pertimbangan Perang Dingin: Indonesia dipandang sebagai kunci melawan komunisme, sehingga pembantaian diabaikan demi kepentingan geopolitik blok Barat.
D. Karena PBB memberi penghargaan HAM kepada Indonesia atas keberhasilan mengatasi krisis.
E. Karena Indonesia diusir dari keanggotaan PBB akibat pembantaian.
35. Orde Baru menggunakan narasi keterlibatan Tiongkok dalam G30S untuk membenarkan kebijakan anti-Tionghoa domestik. Setelah peristiwa 1965, pemerintah memutus hubungan diplomatik dengan Beijing dan meluncurkan kebijakan diskriminatif terhadap etnis Tionghoa di Indonesia.
Mengapa narasi ini penting bagi legitimasi Orde Baru?
A. Karena memungkinkan rezim membenarkan kekerasan anti-Tionghoa dan memutus hubungan diplomatik dengan RRT sebagai bagian dari strategi anti-komunis.
B. Karena memperkuat hubungan ekonomi bilateral dengan Beijing pasca-1965.
C. Karena membantu PKI memulihkan reputasinya di mata dunia internasional.
D. Karena memfasilitasi kerja sama rahasia Indonesia–Uni Soviet dalam bidang militer.
E. Karena memicu reformasi agraria progresif di pedesaan Jawa dan Bali.
36. Upaya rekonsiliasi pascareformasi menghadapi banyak hambatan. Komnas HAM telah melakukan penyelidikan, namun laporan mereka jarang ditindaklanjuti. Sebaliknya, wacana anti-komunis masih digunakan untuk mendiskreditkan aktivis HAM yang menuntut kebenaran.
Mengapa rekonsiliasi pascareformasi sulit diwujudkan?
A. Karena korban menolak bersaksi akibat trauma mendalam, sehingga bukti sulit dikumpulkan.
B. Karena tidak ada bukti dokumenter sama sekali mengenai pembantaian 1965.
C. Karena resistensi militer dan elite politik, serta bertahannya retorika “bahaya laten komunis” yang menghalangi pembukaan arsip dan pengakuan negara.
D. Karena PBB sudah menyelesaikan kasus ini melalui pengadilan internasional.
E. Karena PKI bangkit kembali dan menolak semua upaya rekonsiliasi.
37. Tribunal Rakyat Internasional 1965 di Den Haag (2015) tidak memiliki kekuatan hukum mengikat, tetapi penting secara simbolik. Tribunal ini mendengarkan kesaksian korban dan menyimpulkan bahwa negara Indonesia bertanggung jawab atas kejahatan terhadap kemanusiaan. Namun, pemerintah Indonesia menolak hasil tribunal ini.
Apa tujuan utama tribunal rakyat ini?
A. Mengadili pelaku pembantaian secara hukum internasional yang mengikat dan menjatuhkan hukuman langsung.
B. Memberikan pengakuan moral kepada korban dan menekan pemerintah Indonesia untuk mengakui tanggung jawab historis tanpa jalur formal PBB.
C. Membebaskan seluruh tahanan politik 1965 yang masih hidup.
D. Menuntut kompensasi materi langsung dari AS dan Inggris untuk keluarga korban.
E. Menghapus narasi Lubang Buaya dari seluruh kurikulum sekolah di Indonesia.
38. Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya dibangun Orde Baru untuk memperingati para jenderal yang tewas dalam G30S. Namun, monumen ini dikritik pascareformasi karena dianggap hanya menampilkan narasi tunggal yang memuliakan militer dan mendemonisasi PKI, tanpa mengakui korban sipil 1965.
Mengapa monumen ini problematis bagi wacana memori kontemporer?
A. Karena memonopoli narasi Orde Baru, menghapus suara korban sipil, dan memperkuat legitimasi pembantaian massal.
B. Karena dibangun oleh PKI sebagai simbol perlawanan terhadap Orde Baru.
C. Karena memuat bukti forensik netral yang menghapus semua kontroversi sejarah.
D. Karena diakui UNESCO sebagai warisan dunia sehingga tidak boleh diubah narasinya.
E. Karena sudah dirobohkan pascareformasi sehingga tidak lagi relevan dibahas.
39. Istilah “genosida” untuk tragedi 1965 masih kontroversial di Indonesia. Sebagian peneliti menggunakannya untuk menyoroti skala dan niat pemusnahan, sementara yang lain menolak karena korban adalah kelompok politik, bukan etnis atau agama.
Apa inti perdebatan ini?
A. Apakah jumlah korban cukup besar untuk disebut genosida.
B. Apakah definisi genosida 1948 yang fokus pada etnis/agama dapat diperluas mencakup kelompok politik seperti PKI.
C. Apakah Orde Baru sudah mengakui tragedi ini sebagai genosida sejak awal.
D. Apakah PBB telah menyatakan tragedi 1965 sebagai genosida secara resmi.
E. Apakah PKI juga melakukan genosida terhadap lawannya sebelum G30S.
40. Studi terbaru seperti McGregor, Melvin, dan Roosa menekankan perlunya pendekatan multidisipliner terhadap tragedi 1965. Mereka menggabungkan arsip militer, kesaksian korban, analisis geopolitik, dan studi budaya untuk membangun historiografi baru yang menantang narasi resmi Orde Baru.
Apa pelajaran utama dari pendekatan multidisipliner ini?
A. Bahwa mempertahankan narasi Orde Baru penting demi stabilitas politik nasional.
B. Bahwa memahami tragedi 1965 menuntut integrasi berbagai sumber: arsip rahasia, kesaksian korban, konteks Perang Dingin, dan propaganda budaya.
C. Bahwa tragedi 1965 murni konflik lokal tanpa campur tangan asing.
D. Bahwa propaganda Orde Baru bersifat netral dan faktual.
E. Bahwa tragedi 1965 sudah selesai secara hukum dan tidak perlu diteliti lagi.
5 Soal Esai
1. Narasi resmi Orde Baru tentang G30S dibangun lewat film, monumen, dan kurikulum sekolah yang menonjolkan kekejaman PKI serta menghapus suara korban. Pascareformasi, sejarawan seperti Roosa dan Wieringa menantang narasi itu melalui arsip baru dan kesaksian korban. Bandingkan konstruksi narasi Orde Baru dengan historiografi pascareformasi. Bagaimana keberlanjutan narasi lama memengaruhi upaya rekonsiliasi hingga kini?
2. Sebagian akademisi menyebut tragedi 1965 sebagai genosida, tetapi definisi genosida 1948 menimbulkan perdebatan karena fokus pada etnis/agama, bukan politik. Jelaskan argumen pro dan kontra penggunaan istilah “genosida” untuk tragedi 1965. Apa dampak klasifikasi ini terhadap politik memori dan keadilan transisional?
3. Dukungan AS, Inggris, dan Australia kepada militer Indonesia menjadi bagian dari strategi Perang Dingin. Narasi resmi sering mengabaikan faktor ini demi menonjolkan konflik domestik. Bagaimana konteks Perang Dingin memengaruhi jalannya kekerasan 1965? Apa dampak pengungkapan keterlibatan asing terhadap narasi sejarah Indonesia?
4. Fitnah seksual Lubang Buaya menggambarkan Gerwani sebagai biadab, membenarkan kekerasan terhadap perempuan kiri. Analisis bagaimana propaganda berbasis gender memengaruhi legitimasi kekerasan 1965 dan dampaknya bagi gerakan perempuan pascareformasi.
5. Pulau Buru berubah dari kamp kerja paksa Orde Baru menjadi ruang ziarah korban pascareformasi. Namun, memorialisasi resmi masih terhambat. Bagaimana dinamika antara narasi korban dan negara dalam memori Pulau Buru? Apa pelajaran dari perbandingan dengan situs memori di negara lain?

