Konten dari Pengguna

Sains di Balik Resolusi: Mengapa Otak Kita Terobsesi dengan "Awal yang Baru"?

Dina Prameswari
Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS)
1 Januari 2026 21:00 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Sains di Balik Resolusi: Mengapa Otak Kita Terobsesi dengan "Awal yang Baru"?
Sains di Balik Resolusi: Mengapa otak terobsesi dengan "awal yang baru"? Simak penjelasan neurosains tentang Fresh Start Effect dan rahasia sukses mewujudkan target.
Dina Prameswari
Tulisan dari Dina Prameswari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi menyusun rencana tahun baru. Foto: Freepik
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi menyusun rencana tahun baru. Foto: Freepik
Setiap penghujung Desember, sebuah ritual masif terjadi di seluruh dunia. Jutaan orang mulai menyusun daftar keinginan yang kita kenal sebagai resolusi. Namun, pernahkah kita merenung mengapa pergantian kalender begitu sakral sehingga otak kita merasa harus menjadi sosok yang sepenuhnya baru pada tanggal 1 Januari?

Jejak Janji Babilonia dan Penanda Waktu Kognitif

Obsesi manusia terhadap perubahan pada tahun baru ternyata bukanlah tren modern. Praktik ini berakar sejak 4.000 tahun lalu pada peradaban Babilonia Kuno, di mana masyarakat berjanji melunasi utang demi keberkahan musim tanam. Tradisi ini diperkuat bangsa Romawi melalui sosok Dewa Janus, sang penjaga gerbang waktu berwajah dua yang melambangkan introspeksi masa lalu dan visi masa depan.
Secara sains, awal tahun berfungsi sebagai temporal landmark atau penanda waktu. Penanda ini membantu otak menciptakan pemisah mental antara kegagalan masa lalu dan harapan masa depan melalui fenomena yang disebut Fresh Start Effect.

Mengapa Motivasi Saja Tidak Cukup untuk Bertahan hingga Februari?

Secara psikologis, pergantian tahun memberikan ilusi bahwa kegagalan pada masa lalu telah terhapus sepenuhnya. Namun, di sinilah letak risikonya. Sering kali kita terjebak dalam False Hope Syndrome, yaitu menetapkan target yang terlalu muluk karena terbuai euforia suasana.
Riset menunjukkan bahwa mayoritas resolusi kandas pada minggu kedua Februari. Kegagalan ini biasanya terjadi karena target yang dibuat tidak spesifik dan terlalu ambisius, sehingga sistem kognitif kita merasa terbebani dan cenderung menyerah saat menghadapi rintangan pertama.

Formula SMART: Mengubah Imajinasi Menjadi Aksi Nyata

Ilustrasi metode SMART. Foto: Shutterstock
Supaya resolusi tidak sekadar menjadi ritual tahunan yang sia-sia, para ahli menyarankan pendekatan strategis berbasis riset menggunakan metode SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound). Metode ini membantu otak untuk fokus pada langkah-langkah teknis yang terukur dibandingkan imajinasi yang abstrak.
Pada akhirnya, resolusi tahun baru adalah tentang kejujuran kognitif. Perubahan besar tidak bermula dari janji yang bombastis, melainkan dari pembentukan jalur saraf baru melalui kedisiplinan kecil yang dilakukan secara konsisten. Jadi, sudahkah Anda menyiapkan satu langkah kecil yang terukur untuk tahun ini?
Trending Now