Konten dari Pengguna

Minahasa di Era Kolonial: Dari Lahan Pertanian ke Komoditas Dunia

Dinar Rizki Septiyan Putri
Mahasiswa Universitas Negeri Semarang
30 Agustus 2025 15:07 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Minahasa di Era Kolonial: Dari Lahan Pertanian ke Komoditas Dunia
Minahasa merupakan daerah penghasil komoditas beras dan kopi yang terkenal pada masa kolonial. Bagaimana ceritanya? #userstory
Dinar Rizki Septiyan Putri
Tulisan dari Dinar Rizki Septiyan Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
credit unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
credit unsplash.com
Pada awalnya, Minahasa merupakan wilayah yang cukup terisolasi dari dunia luar. Namun, keberadaan komoditas beras yang yang menjadi hasil utama pertanian membuat daerah ini mulai membuka diri dan berinteraksi dengan masyarakat luar, baik melalui jalur perdagangan maupun hubungan sosial. Melalui perdagangan beras, hubungan ekonomi dan sosial dengan wilayah lain pun mulai terjalin, sehingga Minahasa perlahan-lahan masuk dalam arus pertukaran yang lebih luas.
Sejak dekade 1660-an, Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) di Batavia yang semula kurang memperhatikan Minahasa mulai mengubah kebijakannya. Mereka membangun benteng pertahanan di Manado guna mengamankan monopoli perdagangan, sekaligus menyadari bahwa beras dari Minahasa memiliki peranan penting bagi kebutuhan ekonomi dan logistik garnisun mereka di Maluku.
Saat berkunjung ke Tondano pada 1821, Gubernur Jenderal Van der Cappelen menyebutkan bahwa budidaya padi sawah sederhana telah ada di Tondano dan Tonsawang di bagian Selatan Minahasa. Meski demikian, sebagian besar padi masih ditanam di lahan kering. Cappelen menambahkan bahwa prospek pembukaan sawah di Tondano sangat baik karena keberadaan rawa-rawa luas di sekitar Danau Tondano dapat dialihfungsikan menjadi lahan persawahan.
Pada masa itu, beras di Minahasa selalu menjadi incaran bangsa Barat untuk menutupi kelangkaan bahan pangan yang sering terjadi di Maluku. Selain beras, Minahasa juga menghasilkan teripang yang terkenal dalam perdagangan jung Tiongkok dan dipercaya bermanfaat bagi kesehatan serta vitalitas pria. Seiring perkembangannya, nilai ekonomis Minahasa semakin beragam. Komoditas yang banyak dicari tidak lagi hanya beras, tetapi juga mencakup tali gomutu (ijuk), kayu, madu, kura-kura, emas, hingga biji kopi.
Malahan, kopi Minahasa menjadi primadona di Eropa sejak abad ke-19. Harganya bahkan selalu lebih tinggi dibandingkan kopi Hindia yang banyak ditanam di Priangan dan Sumatra Barat. Namun, kejayaan itu juga meninggalkan sisi kelam. Penduduk dieksploitasi secara berkepanjangan demi kepentingan kolonial. Pada 1822, pemerintah kolonial mendatangkan tenaga dari Jawa untuk melatih petani kopi di Sulawesi Utara.
Upaya tersebut membuat produksi kopi meningkat signifikan. Namun buruknya, sejak saat itu pula pemaksaan terhadap penanaman kopi mulai diberlakukan. Pada tahun 1823, status kopi yang pada mulanya tanaman bebas diubah menjadi tanaman dikendalikan. Baron Van der Cappelen pada tahun 1824 menyatakan penanaman kopi sebagai usaha pemerintah dan hasilnya wajib untuk disetorkan kepada pemerintah. Alhasil, semua hasil Perkebunan dimonopoli oleh penguasa kolonial.
Trending Now