Konten dari Pengguna
Asal-Usul Nama Kadungora: Kisah Durian Muda dan Kampung yang Tak Pernah Tua
1 Desember 2025 11:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Asal-Usul Nama Kadungora: Kisah Durian Muda dan Kampung yang Tak Pernah Tua
Asal-usul nama Kadungora lahir dari legenda durian muda dan kisah kampung kecil yang penduduknya selalu pergi merantau. Agus Kusdinar
Tulisan dari Agus Kusdinar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak semua nama tempat lahir dari arsip resmi atau naskah kuno. Ada yang tumbuh dari cerita sederhana, disampaikan dari mulut ke mulut, lalu bertahan lintas generasi. Begitulah Kadungora, wilayah yang dikenal sebagai gerbang menuju Garut, dengan legenda “durian muda” dan warganya yang lebih cepat pergi merantau sebelum benar-benar menetap.
Perjalanan Menuju Kampung Kadungora
Perjalanan saya dimulai dari perlintasan kereta api Stasiun Leles. Dari sana, saya membelokkan motor butut ke kanan, pelan saja, mengikuti jalan kecil yang menurun. Sekitar 500 meter kemudian, saya tiba di sebuah kampung yang teduh. Di bawah pohon durian besar, motor saya diparkir. Seolah pohon itu menyambut, menjadi penanda bahwa saya memasuki wilayah yang menyimpan cerita lama yang masih hidup.
Kisah ini pernah saya tulis pada 2017, ketika pertama kali mendengar langsung dari warga tentang asal-usul nama Kadungora—sebuah nama yang sepintas sederhana, namun punya makna yang tak biasa.
Gerbang Garut dengan Nama yang Bikin Penasaran
Kadungora adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Garut, pintu masuk utama dari arah Bandung. Letaknya strategis: dilintasi jalan provinsi, dilewati jalur kereta, dan dekat dengan pusat aktivitas ekonomi di wilayah barat Garut.
Ada satu keunikan menarik: Stasiun Leles berdiri di wilayah administratif Kadungora, tapi namanya justru memakai nama kecamatan sebelah. Bahkan dari dulu, warga menganggap fenomena ini sebagai “keunikan alamiah” Kadungora.
Namun yang lebih unik lagi adalah nama “Kadungora” itu sendiri.
Kadu + Ngora = Durian Muda
Menurut cerita warga, nama Kadungora berasal dari dua kata dalam bahasa Sunda:
Kadu = Durian
Ngora = Muda
Jika digabungkan, menjadi “Durian Muda”.
Berbeda dengan kisah nama “Garut” yang sering dikaitkan dengan istilah kakarut (tergores), asal-usul Kadungora justru lahir dari percakapan sederhana antartetua kampung, lalu diwariskan kepada siapa pun yang bertanya.
Kampung Kecil dengan Durian yang Tak Pernah Tua
Dulu, Kadungora belum seramai sekarang. Ia hanyalah kampung kecil yang cukup jauh dari jalan utama, dihuni oleh beberapa keluarga. Menurut warga, jumlah penduduknya pun lama tidak banyak berubah.
Seorang warga bernama Dian pernah bercerita kepada saya:
“Dari dulu disebut Kadungora karena buah duren di sini jarang yang tua. Belum mateng udah jatuh. Kayak warganya, masih muda juga udah pada merantau ninggalin kampung.”
Cerita itu membuat saya tersenyum. Sesederhana itu, namun sekaligus penuh makna.
Para Perantau yang Membuat Kampung Ini Selalu ‘Muda
Kadungora adalah kampung yang teduh. Sawah mengelilingi rumah-rumah tua, pepohonan tumbuh dari halaman ke halaman. Namun, sebagaimana banyak kampung di Jawa Barat, anak-anak mudanya pergi merantau. Ada yang ke Bandung, ada yang ke Jakarta, dan sebagian besar memilih menetap di tempat baru mereka.
Karena itulah, kampung ini seperti duriannya: tak pernah benar-benar “tua”.
Cerita yang Terus Dijaga
Durian masih tumbuh di Kadungora. Anak muda masih pergi merantau. Dan cerita asal-usul nama itu masih diulang dengan cara yang sama—tanpa tulisan, tanpa arsip, tanpa dokumentasi resmi. Hanya dari suara warga yang tak ingin kisah kampungnya lenyap.
Sejarah, rupanya, tidak selalu tentang kerajaan besar, prasasti batu, atau nama-nama pahlawan. Kadang, sejarah menunggu di sebuah kampung kecil, di bawah pohon durian yang buahnya selalu jatuh sebelum matang, menunggu seseorang untuk kembali lalu mendengarkan ceritanya.

