Konten dari Pengguna
Jejak A. Kasoem: Dari Kampung Kecil di Garut Menjadi Pelopor Optik Indonesia
10 Desember 2025 17:00 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Jejak A. Kasoem: Dari Kampung Kecil di Garut Menjadi Pelopor Optik Indonesia
Kisah perjalanan A. Kasoem, putra desa Bojong yang menjadi pelopor optik pribumi dan membangun fondasi industri kacamata di Indonesia.Agus Kusdinar
Tulisan dari Agus Kusdinar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika saya sedang duduk dan hendak melihat layar handphone, pandangan terasa buram. Huruf demi huruf tampak blur dan menyatu sehingga saya tidak bisa membaca pesan WhatsApp yang masuk. Saya sempat memegang mata, dan barulah tersadar bahwa saya lupa memakai kacamata. .Setelah mengambil kacamata di lemari dan memakainya, layar handphone langsung terlihat jelas berkat alat bantu tersebut.
Usai merenung sejenak, pikiran saya terlempar kembali ke beberapa tahun lalu, saat anak bungsu A. Kasoem meminta saya menelusuri jejak perjalanan A. Kasoem di kampung halamannya untuk dibuatkan video dan artikel. Kenangan itu kembali muncul, menggambarkan kembali perjalanan saya dari awal hingga akhir.
Lahir pada 19 Januari 1916 di Kampung Bojong, Desa Neglasari, Kadungora, Garut, A. Kasoem yang bernama lengkap "Atjoem Kasoemβ tumbuh dari keluarga petani sederhana. Siapa sangka, dari kampung kecil inilah lahir pengusaha optik pribumi pertama di Indonesia, sosok yang kelak mengubah wajah industri kacamata di tanah air.
Perjalanan A. Kasoem dimulai ketika ia merantau ke Bandung dan bekerja di sebuah toko optik di Jalan Braga milik Kurt Schlooser, pengusaha Jerman keturunan Yahudi. Dari tempat inilah ia belajar disiplin, teknologi optik, serta manajemen bisnis. Sikap kerja kerasnya membuatnya dipercaya sebagai asisten andalan hingga akhirnya mampu membeli toko tersebut, langkah besar yang mengubah hidupnya.
Dalam perjalanan hidup, takdir mempertemukannya dengan perempuan asal Klaten yang kelak menjadi istrinya di Stasiun Kereta Api Leles. Pernikahan itu bukan hanya pertemuan dua hati, tetapi juga membuka jalan usaha yang lebih luas. Mertuanya, seorang saudagar kaya yang dermawan, memberi inspirasi sehingga A. Kasoem tumbuh sebagai pengusaha yang pandai berbagi, terutama untuk pendidikan dan aktivitas sosial keagamaan.
Mendirikan Pabrik Lensa Pertama di Indonesia
Menurut kesaksian beberapa karyawan seperti, Ujang Sukarna, pabrik itu bukan sekadar fasilitas produksi, tetapi sekolah kehidupan. Para pekerja belajar teknik optik dari nol hingga mahir, disiplin ala Jerman, dan etos kerja yang membuat banyak dari mereka kemudian membuka home industry optik di berbagai daerah. Sampai kini, jejaknya masih nyata: daerah sekitar BojongβKadungora dikenal sebagai salah satu pusat pengrajin optik rumahan di Jawa Barat.
Jejak yang Tertinggal di Garut dan Nusantara
Menurut penuturan keluarga, termasuk Bapak Yoyo (keponakan A. Kasoem), rumah masa kecil sang pelopor memang sudah berubah. Namun sumur tua dan lokasi pabrik lensa menjadi saksi sejarah bahwa dari desa sederhana itu lahir tokoh yang berjasa besar bagi bangsa.
Mantan karyawan seperti Komar dan Hamid menjadi saksi hidup bagaimana A. Kasoem membentuk generasi ahli optik Indonesia. Banyak dari mereka kini membuka usaha sendiri: penggosok lensa, pembuat box frame, perakit alat periksa mata, hingga pemilik optik di berbagai kota.
Itulah warisan paling berharga A. Kasoem: ilmu yang diturunkan, bukan hanya perusahaan yang ditinggalkan.
Optik A. Kasoem, dari Braga ke Berbagai Kota di Indonesia
Dari satu toko di Jalan Braga, usaha A. Kasoem berkembang ke kota-kota besar seperti Jakarta, Cirebon, Tasikmalaya, Yogyakarta, hingga Solo. Reputasinya membuatnya dipercaya merawat kacamata tokoh nasional, termasuk Presiden Soekarno.
A. Kasoem wafat pada 19 Juni 1979 dan dimakamkan di Kampung Bojong, Desa Neglasari. Namun dedikasi dan kontribusinya masih mengalir melalui para pengusaha optik, banyak pekerja yang pernah ia latih, dan jutaan masyarakat yang menikmati hasil inovasinya.
Mengapa Kisah Ini Penting?
Karena ia membuktikan bahwa:
* Putra desa bisa menjadi pelopor nasional
* Ilmu yang dibagikan akan menciptakan ratusan kesempatan baru
* Industri optik Indonesia tumbuh berkat tangan-tangan pribumi yang bekerja dengan disiplin dan ketekunan
A. Kasoem bukan sekadar pengusaha sukses ia adalah pembuka jalan pendidik dan pemberi manfaat bagi banyak orang.
Peristiwa kecil pagi ini lupa memakai kacamata seakan menjadi pengingat bahwa setiap perjalanan, baik yang dekat maupun jauh, membutuhkan kejernihan untuk melihat dan memahami maknanya.
Begitu pula dengan tugas menelusuri jejak A. Kasoem yang pernah saya lakukan; sebuah perjalanan yang bukan hanya merekam tempat-tempat yang ia tinggalkan, tetapi juga menyimpan pelajaran tentang dedikasi, sejarah, dan warisan kebaikan.
Kini, setiap kali kejadian sederhana mengembalikan ingatan itu, saya merasa bersyukur telah menjadi bagian kecil dalam upaya mengenang sosok yang begitu berarti bagi banyak orang.

