Konten dari Pengguna
Langkah Malam Menuju Puncak : Kisah dari Gunung Haruman
17 November 2025 16:57 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Langkah Malam Menuju Puncak : Kisah dari Gunung Haruman
Artikel ini mengulas pengalaman menjelajahi Gunung Haruman di Garut, destinasi wisata alam yang penuh legenda dan nilai sejarah, termasuk Puncak Batu Kuda dan Puncak Masigit. Melalui perjalanan malam Agus Kusdinar
Tulisan dari Agus Kusdinar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada kalanya, kita harus melangkah jauh terlebih dahulu untuk menyadari bahwa keindahan sesungguhnya tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berdiam, menunggu untuk ditemukan. Begitulah yang tersimpan di Gunung Haruman, sebuah gunung yang berada di tiga kecamatan di Garut: Kadungora, Cibiuk, dan Leuwigoong. Namun, nama Kadungora lebih sering disebut, sebab akses menuju kaki gunung berada tak jauh dari jalan provinsi, ditandai dengan sebuah tugu pesawat yang menjadi penanda arah.
Gunung Haruman memiliki satu puncak yang cukup dikenal, yaitu Puncak Batu Kuda, dan empat puncak lain yang hingga kini masih menyimpan cerita dan misterinya sendiri. Menurut sesepuh setempat, Aki Eman, Batu Kuda adalah jelmaan tunggangan Prabu Kiansantang, salah satu tokoh yang menyebarkan ajaran Islam di wilayah Garut. Batu itu dahulu menyerupai bentuk kuda, namun kini telah berubah, tertimpa waktu dan pohon yang tumbang. Meski bentuknya tidak lagi utuh, kisah yang menyertainya tetap hidup, berbisik dalam ingatan masyarakat sekitar.
Medan menuju puncak tidak mudah. Jalan setapak dan tanjakan terjal menguji keberanian. Karena waktu telah condong ke senja, kami memilih menggunakan sepeda motor. Namun, bebatuan dan tikungan tajam memaksa kami berhenti. Di tengah jalan, kami memutuskan meminta bantuan pengelola untuk menjemput kami.
Kami menunggu di Kampung Haruman 1, tepat di depan sebuah toko kacamata yang juga menjadi tempat usaha kami. Langit perlahan berubah warna. Azan Magrib berkumandang. Seusai salat, barulah Abdurohman salah satu pengelola Gunung Haruman datang bersama temannya. Perjalanan pun dilanjutkan, menembus malam.
Di tengah gelap yang hanya diterangi lampu senter, kami melewati Gunung Leutik, sebuah tempat yang juga sarat cerita. Tanjakan yang menukik memaksa kami turun dari motor dan berjalan kaki. Suara malam terdengar sangat dekat, seolah seluruh hutan sedang bernafas.
Sesampainya di titik awal pendakian Puncak Batu Kuda, kami bertemu rombongan lain yang hendak berkemah. Para pengelola mengarahkan mereka menuju puncak lain, Puncak Masigit tempat yang lebih lapang dan aman. Ketua jasa lingkungan, Cahria, mengajak kami bergabung dengan rombongan dari Majalaya.
Kami berjalan dalam gelap, menyusuri hutan yang terasa masih liar dan asli. Setiap langkah adalah dialog dengan alam. Setiap desir angin membawa cerita tua yang entah milik siapa. Setelah menemukan batu penanda Puncak Masigit, kami mendirikan tenda di sebuah lapang kecil yang tampak seperti baru dibersihkan dari ilalang.
Malam itu, Garut terlihat seperti lautan cahaya dari kejauhan. Sunyi, indah, dan menenangkan. Ada rasa yang sulit dijelaskan—seolah bumi sedang menunjukkan wajahnya yang paling jujur.
Keesokan paginya, kami melanjutkan penelusuran ke empat puncak lainnya. Di setiap puncak kami menemukan susunan bebatuan yang tampak seperti peninggalan lama hening, kokoh, menunggu untuk diteliti. Ada kemungkinan nilai sejarah dan budaya yang tersimpan di sana, menanti kajian dari para ahli.
Meski tempat-tempat itu belum banyak dikenal, pesonanya tidak dapat disangkal. Puncak Batu Kuda mungkin lebih dulu populer dengan kisah penyebaran Islam, tetapi Puncak Masigit dan puncak-puncak lainnya memiliki daya pikat yang tidak kalah penting.
Dalam perjalanan itu, aku belajar satu hal:
Daerah kita menyimpan sesuatu yang berharga, tetapi kerap terabaikan.
Keindahan itu ada.
Tinggal bagaimana kita menjaga, merawat, dan memperkenalkannya kepada dunia.

