Konten dari Pengguna

Minggu Pagi dan Jejak Jajanan Aci di Pasar Tumpah Leles

Agus Kusdinar
Konten Kreator. Penggiat Wisata, Seni, dan Budaya. SWJ Ambassador 2023.
14 Desember 2025 16:21 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Minggu Pagi dan Jejak Jajanan Aci di Pasar Tumpah Leles
Pasar tumpah Leles di Garut menjadi ruang hidup jajanan aci khas Sunda. Dari cilok hingga cuangki, kuliner sederhana ini menyimpan rasa, nostalgia, dan cerita keseharian yang tetap bertahan.
Agus Kusdinar
Tulisan dari Agus Kusdinar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pedagang Cilok Goang di JA Leles-Garut/Foto : Dok. Pribadi (Agus Kusdinar)
zoom-in-whitePerbesar
Pedagang Cilok Goang di JA Leles-Garut/Foto : Dok. Pribadi (Agus Kusdinar)
Minggu pagi selalu punya cara sendiri untuk memperlambat waktu. Saat jalanan belum dipenuhi kendaraan dan udara masih terasa bersih, pasar tumpah di Leles (JA Leles), Garut, mulai menggeliat. Di antara lapak sederhana dan gerobak dorong, jajanan berbahan aci hadir sebagai penanda kehidupan pagi: murah, akrab, dan penuh kenangan.
Tujuan kedatangan sederhana: mencari jajanan tradisional Sunda berbahan dasar aci atau tepung tapioka. Bahan murah, mudah didapat, dan sejak lama menjadi fondasi berbagai kuliner rakyat yang bertahan lintas generasi.
Sesampainya di lokasi, deretan pedagang menyambut dengan pilihan jajanan aci yang beragam. Ada cilok, cilok goang, cireng, cibay, hingga olahan lain yang sebelumnya pernah dibahas dalam berbagai tulisan tentang jajanan tradisional khas Sunda. Semua tersaji apa adanya, tanpa konsep mewah, namun justru di situlah kekuatannya.
Cilok, si bulat kenyal penuh kenangan
Pedagang Cilok Keliling menggunakan roda/Foto : Dok. Pribadi (Agus Kusdinar)
Cilok bisa dibilang legenda jajanan aci. Dahulu, penjualnya identik dengan ibu-ibu yang memikul tampah berisi cilok dan siraman bumbu kacang. Cilok dimasukkan ke plastik kecil atau ditusuk menggunakan sapu lidi. Makan cilok sambil berdiri di depan sekolah, ditemani angin siang dan canda teman sebaya, menjadi potongan memori yang sulit dilupakan.
Kini, cilok hadir dengan wajah yang lebih modern. Penjual menggunakan gerobak roda, penyajiannya memakai cup, bumbu dipisahkan, dan tusuk sate disiapkan agar praktis disantap sambil berjalan. Meski tampilannya berubah, rasa cilok tetap sama: kenyal, gurih, dan akrab di lidah. Setiap gigitannya seolah membawa kembali ke masa kecil.
Cilok goang, pedas segar khas Garut
Pedagang Cilok Goang di JA Leles-Garut/Foto : Dok.Pribadi (Agus Kusdinar)
Cilok goang adalah varian cilok yang berasal dari Garut. Ciri utamanya terletak pada bumbu goang, yakni sambal mentah berbahan cabai rawit, bawang putih, garam, dan kencur yang diulek kasar. Pedasnya tajam, aromanya segar, dan sensasinya langsung menghentak lidah.
Cilok goang dijual dengan berbagai cara. Ada yang berkeliling, ada pula yang mangkal menggunakan tenda sederhana, bahkan disajikan layaknya di warung bakso atau kafe kecil. Harganya sangat terjangkau, rata-rata seribu rupiah per butir. Dengan lima butir cilok goang, pembeli sudah bisa menikmatinya dalam mangkuk lengkap dengan bumbu khasnya.
Cuangki, bakso hemat penyelamat akhir bulan
Cuangki dikenal sebagai bakso sederhana yang akrab dengan kondisi dompet menipis. Biasanya dijual keliling dengan cara dipikul, dan banyak pedagangnya berasal dari Garut. Dengan harga sekitar lima ribu rupiah, satu mangkuk cuangki berisi bakso kecil, tahu, cuangki, dan sedikit mi hangat sudah cukup mengganjal perut.
Lebih dari sekadar makanan murah, cuangki menghadirkan hubungan sosial yang hangat. Penjual sering hafal wajah pelanggan tetapnya, terutama anak-anak sekolah. Kedekatan itulah yang membuat cuangki punya tempat khusus dalam ingatan banyak orang.
Tahu bulat, jajanan viral yang digoreng dadakan
β€œTahu bulat, digoreng dadakan!” Seruan ini sudah menjadi bagian dari lanskap suara kampung dan perumahan. Penjual tahu bulat biasanya menggunakan mobil pikap dengan pengeras suara atau gerobak roda yang bisa masuk ke gang sempit. Karena digoreng dadakan, aromanya langsung menggoda siapa pun yang lewat.
Popularitas tahu bulat sempat menembus batas daerah dan menjadi tren nasional. Dari jajanan sederhana, tahu bulat membuktikan bahwa kreativitas dalam penyajian mampu mengangkat kuliner tradisional ke level yang lebih luas.
Cilung dan basreng, favorit anak sekolah dan camilan sejuta umat
Pedagang Cilung di depan SDN Talagasari Kadungora-Garut/Foto : Dok. Pribadi (Agus Kusdinar)
Cilung atau aci gulung hampir selalu ada di depan sekolah. Adonan aci dituang tipis, digulung dengan tusuk sate, lalu digoreng di wajan kecil. Disajikan dengan saus dan bumbu tabur, cilung menjadi simbol kebahagiaan sederhana anak sekolah.
Sementara itu, basreng atau bakso goreng hadir sebagai camilan renyah yang cocok dinikmati kapan saja. Digoreng kering dan diberi bumbu pedas atau gurih, basreng kini juga berkembang dengan berbagai inovasi kemasan dan level kepedasan.
Pedagang Cilok Goang di JA Leles-Garut/Foto : Dok. Pribadi (Agus Kusdinar)
Jajanan berbahan aci ini bukan sekadar makanan. Ia adalah potret budaya Sunda yang hangat, sederhana, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Minggu pagi di pasar tumpah Leles menjadi pengingat bahwa kuliner tradisional berbahan aci masih bertahan, mudah ditemukan, terjangkau, dan tetap relevan di tengah gempuran makanan modern.
Trending Now