Konten dari Pengguna
Singkong dan Kita: Pangan Murah yang Terlalu Lama Diremehkan
19 Desember 2025 13:43 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Singkong dan Kita: Pangan Murah yang Terlalu Lama Diremehkan
Singkong murah, mudah ditanam, dan bergizi, tetapi kerap diremehkan. Opini ini mengajak melihat singkong sebagai pangan lokal yang layak diandalkan.Agus Kusdinar
Tulisan dari Agus Kusdinar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap pagi, pandangan saya selalu jatuh pada pohon singkong di samping halaman rumah, tepat di dekat kolam. Baru dua minggu lalu batang itu saya tancapkan ke tanah. Tidak ada perlakuan istimewa, tidak ada pupuk mahal, bahkan nyaris tanpa perawatan. Namun ia tumbuh dengan tenang, seolah ingin mengatakan bahwa pangan sejati tidak selalu lahir dari teknologi rumit dan biaya tinggi. Dari situ, saya mulai berpikir: mengapa singkong, yang begitu mudah ditanam dan kaya manfaat, justru sering kita pandang sebelah mata?
Singkong kerap ditempatkan sebagai โpangan kelas duaโ. Ia dianggap makanan pengganti ketika nasi tidak ada, atau sekadar camilan pengganjal lapar. Padahal, dari sisi logika pangan, singkong adalah anugerah. Benihnya mudah didapat, cukup dari batang sisa panen orang lain. Tanamannya tahan banting dan bisa tumbuh hampir di semua jenis tanah. Bandingkan dengan padi yang membutuhkan air melimpah, pupuk, pestisida, dan siklus tanam yang lebih kompleks.
Ironisnya, di saat harga beras terus naik dan menjadi sumber keresahan masyarakat, singkong justru melimpah dengan harga sangat murah. Di tingkat petani, singkong bisa dibeli kurang dari dua ribu rupiah per kilogram. Angka yang nyaris tak masuk akal jika dibandingkan dengan nilai gizinya. Pertanyaannya bukan lagi soal ketersediaan pangan, melainkan soal cara pandang kita terhadap pangan lokal.
Singkong bukan sekadar umbi rebus. Ia adalah bahan baku tepung tapioka yang menjadi tulang punggung berbagai jajanan rakyat: cilok, cireng, cilung, bakso, hingga aneka gorengan. Tanpa singkong, sebagian besar makanan murah yang akrab dengan kehidupan sehari-hari mungkin akan lenyap. Namun, kita jarang menyebut singkong sebagai pahlawan pangan. Ia hadir diam-diam, tanpa banyak klaim, tanpa gengsi.
Lebih dari itu, singkong juga kerap diremehkan sebagai sumber karbohidrat. Padahal, singkong mengandung karbohidrat kompleks, serat, dan memiliki indeks glikemik yang relatif lebih rendah dibanding nasi putih. Artinya, singkong justru lebih bersahabat bagi tubuh, terutama untuk mengontrol berat badan dan gula darah. Namun karena kebiasaan dan konstruksi sosial, banyak orang merasa belum makan jika belum menyentuh nasi. Singkong rebus di pagi hari hanya dianggap โngemilโ, bukan sarapan, meskipun perut sudah kenyang.
Di sinilah persoalannya menjadi kultural. Kita terlalu lama membangun definisi kenyang dan sejahtera berbasis nasi. Akibatnya, ketika harga beras naik, kepanikan pun muncul. Padahal, solusi ada di sekitar kita, tumbuh di pekarangan, bahkan sering kita abaikan. Singkong seharusnya tidak lagi ditempatkan sebagai simbol kemiskinan, melainkan sebagai simbol kemandirian pangan.
Opini saya semakin kuat ketika menyadari bahwa hampir tidak ada bagian singkong yang terbuang. Kulit singkong, yang sering langsung dibuang, sebenarnya bisa diolah menjadi kerupuk atau ditumis menjadi lauk sederhana. Tentu dengan proses yang benar. Ini bukan sekadar soal kreativitas dapur, tetapi juga tentang etika pangan: menghargai apa yang kita tanam dan konsumsi tanpa berlebihan membuang.
Daun singkong pun demikian. Ia bisa menjadi lalapan, tumisan, atau sayur yang lezat, dan sudah lama hadir di rumah makan tradisional. Daun yang lebih tua bahkan masih bermanfaat sebagai pakan ternak. Dalam satu tanaman, singkong menyediakan pangan bagi manusia sekaligus pakan bagi hewan. Jarang ada tanaman pangan yang seefisien itu.
Melihat semua ini, saya merasa persoalan pangan di Indonesia bukan semata-mata soal produksi, melainkan soal keberanian mengubah pola pikir. Selama kita terus menomorsatukan beras dan meminggirkan pangan lokal lain, selama itu pula kita akan terus berada dalam lingkaran ketergantungan dan kecemasan. Singkong tidak perlu dibela dengan jargon besar. Ia cukup diberi tempat yang adil di meja makan kita.
Mungkin, perubahan besar justru bisa dimulai dari hal sederhana: sebatang singkong yang ditancapkan di halaman rumah. Dari sana, kita belajar bahwa kemandirian pangan tidak selalu datang dari kebijakan rumit, tetapi dari kesediaan untuk menghargai apa yang tumbuh di sekitar kita.

