Konten dari Pengguna

Hikayat Pinang Merah

Suhendri Cahya Purnama
Editor Penerbit Daarut Tauhiid (MQS). Penulis Lepas di Kota Bandung.
12 November 2025 14:45 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Hikayat Pinang Merah
Kenangan mudik di Mempawah yang hangat berubah lucu saat istri terpikat pohon pinang merah, pohon cantik yang menyimpan kisah horor masa kecil tentang “penghuni” di balik batang merahnya.
Suhendri Cahya Purnama
Tulisan dari Suhendri Cahya Purnama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
https://tamandigital.faperta.unand.ac.id
zoom-in-whitePerbesar
https://tamandigital.faperta.unand.ac.id
Setahun lalu, saat mudik Lebaran ke Mempawah—kota kecil yang tenang seperti siang hari di perpustakaan—aku dan istri memutuskan untuk jalan-jalan santai. Tidak ada agenda besar, tidak ada “checklist destinasi”, hanya dua manusia yang sedang mencari angin dan kenangan.
Kami menyusuri jalan-jalan kecil kota, yang seakan masih ingat setiap langkah masa kecilku. Di pasar, ia membeli topi. Aku menemaninya sambil pura-pura mengerti soal model dan warna (“Yang ini cocok, yang itu juga cocok, yang mana pun sebenarnya selalu cocok baginya”). Setelah itu kami duduk santai di steher—bangunan kecil di tepian Sungai Mempawah—tempat yang seperti sengaja diciptakan Tuhan untuk orang-orang yang ingin berpura-pura jadi fotografer. Aku pun memotretnya di sana, dengan sungai berarus lambat sebagai latar, dan wajahnya yang jauh lebih terang dari langit siang.
Kami lalu melangkah ke taman kota. Ada anak-anak bermain, suara air mengalir pelan, dan pedagang yang menjual makanan yang entah kenapa selalu lebih enak saat dimakan di kota kecil. Kami membeli makanan ringan dan makan di sana, ditemani angin yang membawa aroma sungai dan nostalgia masa remaja.
Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba istriku berhenti di dekat terminal kota. Ia menatap sebuah pohon dengan mata berbinar. Sebuah pohon tinggi dengan buah-buah merah berguguran di tanah.
“Cantik sekali ya,” katanya sambil memunguti satu buah. “Apa namanya? Aku mau tanam di Bandung nanti.”
Aku menelan ludah. Ini dia, momen di mana cinta diuji bukan oleh orang ketiga, tapi oleh pohon.
“Itu... pinang merah,” jawabku hati-hati.
“Wah, bagus namanya!” serunya gembira, tanpa sadar aku sedang berjuang menjaga ekspresi agar tetap normal.
https://tamandigital.faperta.unand.ac.id
Dalam budaya Mempawah, pinang merah bukan pohon biasa. Ia adalah... semacam rumah dinas bagi penghuni dunia lain. Dari kecil, aku tumbuh dengan peringatan: jangan main dekat pohon pinang merah kalau malam, nanti dibawa kuntilanak! Sampai sekarang, setiap melihatnya di kejauhan, aku masih refleks menjauhinya.
Tapi istriku menatap pohon itu seperti menemukan keindahan baru di dunia. Dan aku hanya bisa tersenyum, meski di kepala terbayang bayangan putih rambut panjang yang nongkrong di dahan pohon itu.
Aku jadi sadar sesuatu pada siang itu: setiap tempat punya cerita, setiap orang punya tafsir. Bagiku, pinang merah adalah simbol misteri yang ditakuti. Bagi istriku, ia hanyalah pohon cantik dengan buah merah mengilap bak permata, dan mungkin calon penghuni di teras rumah.
Kami pun berjalan lagi. Ia masih membawa beberapa buah pinang merah di tangannya, sambil bertanya, “Nanti bisa tumbuh di Bandung nggak, ya?”
Aku menjawab, “Bisa aja. Tapi... jangan tanam dekat kamar tidur.”
Ia menatapku curiga. “Kenapa?”
Aku hanya tersenyum, “Biar nanti aku bisa tidur nyenyak.”
Begitulah hikayat pinang merah: kisah tentang cinta, nostalgia, dan bagaimana satu pohon bisa membuat seorang suami dewasa tiba-tiba kembali jadi anak kecil yang takut gelap.
Kadang hidup memang seperti itu. Yang satu melihat keindahan, yang lain melihat kuntilanak. Tapi aku percaya, selama aku dan istri selalu berjalan berdampingan, semua jadi lucu, bukan menyeramkan.
Trending Now