Konten dari Pengguna

Jalan Sunyi Seorang Penulis

Suhendri Cahya Purnama
Editor Penerbit Daarut Tauhiid (MQS). Penulis Lepas di Kota Bandung.
30 November 2025 10:00 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Jalan Sunyi Seorang Penulis
Sebuah renungan tentang pilihan hidup menjadi penulis: menjalani kesunyian untuk melahirkan karya yang abadi, jauh dari sorak dan pujian.
Suhendri Cahya Purnama
Tulisan dari Suhendri Cahya Purnama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi penulis. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi penulis. Foto: Shutter Stock
Menulis itu pekerjaan yang tidak butuh panggung. Ia lahir dari ruang kepala yang senyap, seperti benih yang memilih gelap tanah sebelum tumbuh. Kita menuliskannya tanpa sorak-sorai, tanpa kamera yang menunggu ekspresi, hanya ditemani detak hati yang pelan dan pikiran yang sering tidak mau kompromi.
Jalan penulis bukan jalan selebriti yang dipayungi lampu sorot, juga bukan jalan politisi yang hidup dari tepuk tangan dan janji yang bersuara keras. Jalan ini sunyi, bahkan kadang terlalu sunyi sampai kita bertanya: siapa sebenarnya yang akan membaca semua ini? Tidak ada kilau rupiah yang menetes setiap kali kata menyatu. Banyak penulis mati dalam hening, dimakamkan tanpa headline, ditangisi oleh keluarga, bukan oleh jurnalis budaya.
Tapi di balik sepi itu, ada keramaian lain. Di dalam kepala penulis, dunia tidak pernah tidur. Ada karakter yang menggerutu menuntut hidup, ada mimpi yang ingin dijelmakan, ada pertanyaan yang meminta jawaban. Imajinasi riuh seperti pasar malam, sementara wajah sang penulis tampak tenang seperti hujan dinihari.
Dan pada akhirnya, tulisan itu bukan hanya warisan untuk anak-istri yang mungkin tak terlalu peduli pada tanda baca. Ia adalah pesan botol yang dilempar ke waktu. Bisa ditemukan di masa depan oleh seseorang yang belum lahir hari ini. Bisa menyentuh hati yang tidak kita kenal, atau mengubah pikiran orang yang tidak pernah kita temui.
Di situlah letak kesuciannya: ia tidak mengejar pujian, tapi mewariskan pandangan. Ia tidak memburu sorak, tapi menyelamatkan perasaan. Maka biarlah jalan ini tetap sunyi. Biarlah langkahnya pelan. Dari kesunyian itulah, dunia bisa lahir berkali-kali.
Aku memilih jalan ini bukan karena mudah, bukan karena menjanjikan sesuatu, tapi karena aku tak sanggup hidup tanpa dunia yang bisa kutinggalkan lewat kata. Selama imajinasi masih gaduh di kepalaku, selama ada cerita yang ingin hidup, aku akan terus berjalan di jalan sunyi seorang penulis.
Trending Now