Konten dari Pengguna
Jujur Aja, Ide Novelku Datang dari Hal Receh Begini
22 Desember 2025 10:52 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Jujur Aja, Ide Novelku Datang dari Hal Receh Begini
Dari hal receh seperti video lucu atau obrolan santai, lahir ide novel besar. Kreativitas justru sering datang saat otak sedang rileks.Suhendri Cahya Purnama
Tulisan dari Suhendri Cahya Purnama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada kalanya ide datang dengan dramatis, seperti adegan kilat menyambar pohon di tengah badai. Tapi, jauh lebih sering ia muncul dengan gaya yang lebih… remeh-temeh. Receh. Seolah kreativitas sengaja mengenakan sandal jepit dan datang tanpa mengetuk pintu.
Contohnya saat aku mulai menulis Langit Busan Tak Mengenal Sujud. Orang mungkin mengira ide itu lahir dari riset panjang, jurnal akademik, atau pengalaman hidup yang mengguncang. Padahal tidak. Benihnya justru tumbuh dari percakapan pagi yang santai dengan seorang teman lama. Teman itu kini pindah kerja ke kota lain, tapi kami sesekali masih saling menyapa lewat pesan. Dimulai dari komentarku pada salah satu statusnya, lalu menggelinding ke obrolan soal video musik Korea yang sedang viral, yakni Yoo Se Yoon - Don't Skip the Interlude (Rooftop Live).
Begitu kutonton, aku tertawa. Video itu absurd, segar, dan sama sekali tidak ingin terlihat keren. Kualitas yang anehnya mengundang ide. Dari sanalah bayangan tentang seorang pekerja migran Indonesia di Korea Selatan muncul. Negeri yang sering digambarkan sebagai mercusuar kemakmuran Asia, tapi kalau disibak sedikit, rapuh moral-mental di balik kilau industrinya menganga cukup lebar. Ide yang lahir dari hal sesederhana video musik ngaco? Ya, begitulah otak bekerja ketika sedang tidak disuruh bekerja.
Pola ini ternyata sering terulang. Novel Mencari Ukhti Ketemu Ani-Ani berakar dari celetukan istriku saat pillow talk. Istilah “ani-ani” sedang heboh akibat sebuah kasus publik. Istriku bercanda, aku menanggapi, lalu pikiran berputar, dan tanpa sadar embrio cerita lahir. Begitu pula Cinta, Rindu, dan Croissant di Rue de Sorbonne, yang awalnya cuma nostalgia mendengar ulang lagu Ayat-Ayat Cinta. Lagu itu menyeretku ke novelnya, lalu ke kritik lama yang masih terasa: tokoh utamanya terlalu sempurna. Dari situ, tercetuslah gagasan menulis kisah cinta mahasiswa Indonesia di Prancis. Lebih membumi, lebih manusiawi, lebih berantakan dengan tiga gadis yang membuat hidupnya seperti labirin Romantik.
Kalau kupikir-pikir, hampir semua ide besarku lahir dari momen kecil. Momen yang mungkin bagi orang lain hanya sekilas lewat, tapi bagiku menjadi pintu imajinasi yang terbuka lebar. Rupanya ini bukan kebetulan, melainkan pola yang didukung sains. Dalam psikologi kognitif, ada fase yang disebut “diffuse mode” atau fase pikiran santai. Pada fase ini, otak tidak fokus pada satu tugas, justru membiarkan asosiasi liar tumbuh bebas. Kombinasi santai + stimulus kecil sering menciptakan percikan ide baru. Kreativitas tidak suka dibentak “ayo sekarang!”, tapi lebih suka diajak duduk di beranda sambil minum teh.
Ini pula yang menjelaskan mengapa Newton baru memikirkan gravitasi ketika ia sedang duduk santai di bawah pohon apel, bukan ketika mengerjakan hitungan rumit. Archimedes menemukan prinsip yang mengukir namanya dalam sejarah justru saat berendam dengan nikmat di bak mandi. Aristoteles sering menemukan gagasan pada saat berjalan-jalan santai di Lyceum; aktivitas yang oleh murid-muridnya sampai dikenal sebagai “peripatetik”, atau tradisi berjalan sambil berpikir. Einstein pernah bilang ia menemukan banyak ide fisika bukan di meja kerja, tapi saat memegang biola. Pikiran santai membuat ruang bagi hubungan-hubungan aneh yang biasanya tertutup saat kita memaksa diri untuk fokus.
Pada akhirnya, proses kreatif memang bukan ritual sakral. Ia lebih mirip kucing liar: datang saat ia mau, biasanya ketika kita sedang tidak menyiapkan apa-apa. Momen kecil—video konyol, celetukan pasangan, lagu lawas, obrolan dengan teman lama—bisa menjadi pintu menuju cerita panjang yang tak terduga.
Jadi, bagi siapa pun yang, sadar atau tidak, pernah memberiku bahan untuk ide kreatif… silakan antre. Hadiahnya sudah kusiapkan: sebongkah berlian! Tentu saja berupa imajinasi, karena yang asli aku sendiri belum punya.

