Konten dari Pengguna

Kota, Senja, dan Aksara

Suhendri Cahya Purnama
Editor Penerbit Daarut Tauhiid (MQS). Penulis Lepas di Kota Bandung.
22 November 2025 6:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Kota, Senja, dan Aksara
Senja di Kapuas selalu terasa seperti pintu pulang: hangat, tenang, dan penuh bisik kenangan. Pertemuan laut dan sungai itu, imajinasi tumbuh dan cerita-cerita menemukan napas pertamanya. #userstory
Suhendri Cahya Purnama
Tulisan dari Suhendri Cahya Purnama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi senja. Foto: Unspalsh
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi senja. Foto: Unspalsh
Ada masa ketika perjalanan pulang bukan semata perpindahan titik di peta, melainkan sebuah ritus kecil yang menguji kesabaran dan membakar rasa rindu. Dulu saat masih kuliah di Semarang, setiap libur semester atau mudik lebaran, aku menumpang kapal laut menuju Pontianak.
Dan ada satu momen yang tak pernah gagal membuat dadaku bergemuruh: saat kapal memasuki muara Sungai Kapuas. Waktu tempuh dari muara ke pelabuhan memang panjang, dua sampai tiga jam penuh gelombang, angin, dan diam; tapi justru di dalam durasi itulah hatiku seperti ditarik pulang lebih dulu daripada tubuhku.
Setelah berhari-hari di laut, muara Kapuas terasa seperti perbatasan antara dua dunia. Aku selalu menyempatkan diri naik ke anjungan kapal, selelah apa pun perjalanan. Ada semacam panggilan yang sulit dijelaskan. Seperti detak yang memintaku untuk hadir, untuk menyaksikan.
Ilustrasi pasang surut air laut. Foto: Shutter Stock
Dari sana, aku melihat batas air laut dan air sungai yang tak pernah sepenuhnya menyatu. Garis perbedaan itu begitu tegas: laut luas biru keperakan, sungai tenang dengan warna air yang lebih berat. Kontras itu membuatku merasa seperti sedang menonton dua cara hidup berbicara dalam bahasa masing-masing.
Ketika fajar merekah atau senja hendak tenggelam, semuanya berubah menjadi panggung yang nyaris sakral. Cahaya jatuh perlahan di permukaan air, menciptakan kilau yang seolah menggores kenangan baru di atas kenangan lama.
Angin membawa aroma asin laut yang bercampur dengan udara sungai yang lembap dan dalam; perpaduan yang hanya ditemui di tempat-tempat yang mengenal pertemuan, bukan sekadar perjalanan. Burung-burung kadang melintas, suaranya menambah lapisan halus pada suasana yang sudah penuh bisik sebelum kata.
Ilustrasi burung pipit. Foto: pixabay/rbalouria
Dulu aku mengira itu hanyalah momen sentimental yang tidak bisa dijelaskan. Ternyata di situlah kecintaanku pada senja mulai tumbuh: dari cahaya yang berubah perlahan, dari rona yang mengendur di cakrawala, dari waktu yang terasa memanjang di permukaan air.
Kini aku melihatnya sebagai sebuah oase. Ruang kecil yang menghidupkan rasa ingin tahu, ketakjuban, dan kesadaran bahwa hidup ini punya caranya sendiri membuat kita berhenti dan merasakan.
Semua memori itu masih begitu gamblang. Setiap kali kututup mata, aku masih bisa mendengar angin di anjungan, merasakan dengung mesin kapal yang menghantam dada, melihat perbatasan air yang tak pernah membaur.
Ilustrasi kota Pontianak. Foto: Robby Eyes/Shutterstock
Kerinduan itu menyesak, tapi perlahan berubah menjadi imajinasi—menjadi baris-baris yang kutulis tentang Pontianak, tentang Kapuas, tentang kota yang menyambutku bukan sebagai tempat asal, melainkan sebagai tempat pertemuan antara senja dan aksara.
Dari sana lahirlah ceritaku: Puake: Riak Darah di Ulak Pauk, Sebelum Langit Terbenam di Langit Tayan, dan Kuntilanak Pontianak. Semua itu, pada akhirnya, adalah bentuk penghormatanku pada kota ini.
Kota yang tidak membesarkanku, tetapi justru di sinilah aku bertemu dengan keindahan yang menenangkan, cahaya yang memukau, dan kata-kata yang membuka pintu-pintu mimpi. Pontianak bukan hanya menjadi tujuan pulang; ia adalah sumber dari segala getar yang menuntunku menulis hingga hari ini.
Trending Now