Konten dari Pengguna
Mata yang Disalahkan
23 Oktober 2025 7:00 WIB
·
waktu baca 2 menitTulisan dari Suhendri Cahya Purnama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Konon, penyakit bisa menular lewat pandangan. Tak perlu virus, cukup tatapan kagum yang salah niat, atau senyum iri yang terlalu lama tertahan di retina. Maka, jika tanamanmu layu, anakmu demam, atau fotomu di media sosial sepi pujian—waspadalah, mungkin itu ‘ain. Mata jahat sedang bekerja.
Manusia selalu pandai menyalahkan yang tak bisa dibuktikan. Dahulu, bintang disalahkan atas nasib, sekarang mata disalahkan atas gagal panen. Kita terus menghindar dari satu hal yang menakutkan: kenyataan bahwa hidup ini kadang memang kacau tanpa sebab yang bisa kita kontrol.
Padahal, jika direnungkan dengan kepala yang tenang, ‘ain adalah metafora paling halus untuk racun iri hati yang menetes pelan dalam pergaulan manusia. Rasa tak rela terhadap kebahagiaan orang lain itu nyata. Namun, bukan karena sinar inframerah dari pupil yang melukai, melainkan karena getaran batin yang memengaruhi tindakan, ucapan, dan hubungan. Mata hanyalah jendela; yang menembak adalah hati.
Ulama besar seperti Ibn Hajar al-‘Asqalani sendiri—dalam Fath al-Bari—mengingatkan bahwa meskipun hadis tentang ‘ain sahih, pemahaman terhadapnya tidak harus melulu fisikal atau magis. Ia dapat dipahami sebagai peringatan moral: “Al-‘ain haq” bukan pernyataan ilmiah tentang energi gaib dari bola mata, melainkan pengingat bahwa hasad (iri) benar-benar bisa menghancurkan tatanan sosial.
Begitu pula al-Qurthubi, yang lebih condong menafsirkan ‘ain sebagai “asbab ma’nawiyyah”—penyebab yang bersifat maknawi, bukan material. Artinya, bukan tatapan yang membuat sakit, melainkan perasaan negatif yang muncul darinya. Sedangkan al-Razi—dalam tafsirnya yang terkenal suka berpikir melawan arus—malah menyebut bahwa fenomena ini bisa dipahami dalam ranah psikologis: efek sugesti, tekanan emosi, atau kecemasan kolektif.
Maka, ketika seseorang berkata “Jangan upload foto, nanti kena ‘ain,” sesungguhnya ia sedang berkata: “Aku belum siap melihatmu bahagia tanpa aku.” Kalimat yang lebih jujur, tapi tentu kurang religius untuk diucapkan di grup keluarga.
Barangkali, yang kita butuhkan bukan ruqyah dengan ayat-ayat Al-Qur’an setiap kali melihat orang lain sukses, melainkan ruqyah batin: membasuh hati dari kebiasaan membanding-bandingkan diri. Karena tak ada doa yang lebih sia-sia daripada doa yang keluar dari hati yang busuk oleh iri.
Mungkin, ‘ain bukan makhluk gaib yang menembus tubuh lewat pandangan, melainkan mekanisme sosial agar manusia belajar merendahkan ego dan berhenti menatap orang lain sebagai ancaman. Sebab, yang sesungguhnya melukai bukan tatapan, melainkan kebiasaan menatap dengan hati yang tidak damai.
Jadi, sebelum menuduh orang lain punya mata beracun, cobalah menatap cermin. Mungkin racunnya bukan di sana—melainkan di dalam diri yang tak mampu bersyukur.

