Konten dari Pengguna
Refleksi Penerima Beasiswa TAMBA SAMBA Menempuh Studi MBA di Los Angeles
23 Juli 2025 20:18 WIB
Β·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Refleksi Penerima Beasiswa TAMBA SAMBA Menempuh Studi MBA di Los Angeles
Artikel ini merupakan refleksi pribadi penerima Beasiswa Tamba Samba, sebuah program beasiswa penuh untuk studi MBA satu tahun di University of Southern California (USC), Los Angeles. Dito Putra
Tulisan dari Dito Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Semua berawal saat saya melihat sebuah unggahan singkat di Instagram Story tentang beasiswa TAMBA SAMBA. Di tengah rutinitas pekerjaan dan pencarian arah hidup yang lebih bermakna, saya menemukan informasi tentang Beasiswa yang baru dilaunching di tahun 2023 yang lalu. Inisiatif luar biasa ini disponsori oleh Yayasan Mochamad Thohir dan William & Lily Foundation, serta dikelola oleh para alumni University of Southern California (USC) asal Indonesia. Beasiswa ini memberikan pendanaan penuh bagi individu yang ingin menempuh program IBEAR MBA, sebuah program full-time accelerated MBA yang dirancang khusus untuk mahasiswa internasional dengan pengalaman kerja minimal enam tahun. Program ini berlangsung selama satu tahun penuh di Los Angeles, Amerika Serikat.
Saat itu, saya tengah berada pada fase reflektif dalam perjalanan karier saya. Setelah lebih dari satu dekade mengabdi di sektor publik, saya merasa perlu memperluas cakrawala, mengasah pola pikir baru, dan memahami strategi serta kepemimpinan dari perspektif global. Meski keinginan itu kuat, membayangkan diri bisa belajar di luar negeri, terlebih di Amerika, terasa sangat jauh dari kenyataan. Biaya pendidikan yang tinggi, proses seleksi yang kompetitif, serta keberanian untuk memulai dari awal menjadi tantangan besar yang sulit saya lampaui.
Namun ketika saya mempelajari lebih dalam tentang Beasiswa Tamba Samba, saya seakan menemukan pelita dalam kegelapan ketidakpastian. Program ini tidak hanya menawarkan pendanaan penuh, tetapi juga membuka akses terhadap pengalaman pembelajaran global serta mentorship dari para profesional alumni USC Indonesia. Seluruh kebutuhan saya ditanggung, mulai dari biaya kuliah, tempat tinggal, tunjangan bulanan, asuransi, hingga tiket pesawat pulang-pergi. Dengan dukungan ini, saya dapat belajar tanpa harus memikirkan beban finansial, dan benar-benar fokus pada proses pengembangan diri.
Belajar dari Jantung Bisnis Dunia
Pengalaman belajar di USC Marshall School of Business membuka pemahaman saya terhadap bagaimana dunia bisnis global bekerja secara nyata. Di luar ruang kelas, saya mengikuti berbagai program experiential learning yang memperkaya wawasan dan keterampilan saya. Saya berkesempatan mengunjungi kantor pusat VISA, Intel dan Salesforce di San Francisco, berdiskusi langsung di markas McDonaldβs dan T-Mobile di Chicago, dan mempelajari betapa efisiennya operasional di Amazon, Costco, bahkan melihat langsung proses produksi pesawat di pabrik raksasa Boeing di Seattle. Kunjungan ini bukan sekadar studi lapangan, tetapi pengalaman belajar yang nyata. Kami diajak berpikir kritis, menganalisis skenario bisnis, dan memahami bagaimana keputusan strategis dibuat dalam skala internasional. Saya merasa benar-benar menjadi bagian dari dialog, bukan sekadar pendengar pasif.
Selain itu, saya juga mengikuti dua kompetisi bisnis yang menantang. Pertama, sebuah simulasi bisnis internasional yang melibatkan profesional dari 14 negara. Kedua, kompetisi inovasi clean technology tingkat nasional di Rice University, Texas. Dalam kedua kompetisi tersebut, tim kami berhasil meraih kemenangan. Pengalaman ini menjadi bukti bahwa anak bangsa mampu bersaing dan unggul di panggung global ketika diberi kesempatan.
Paradigma Baru untuk Indonesia
Tinggal dan belajar di Los Angeles memberikan pelajaran hidup yang mendalam. Kota ini merupakan salah satu pusat industri kreatif dan bisnis terkemuka di dunia, sekaligus lingkungan yang sangat kompetitif dan menuntut kemampuan adaptasi yang tinggi. Saya belajar untuk pantang menyerah, bekerja sama lintas budaya, dan berpikir secara sistemik dalam menyelesaikan tantangan-tantangan nyata.
Saya juga mendapatkan kesempatan bekerja dalam proyek internasional bersama perusahaan di Denmark dan Swedia, yang memperluas pemahaman saya tentang pentingnya inovasi dan sustanability. Negara-negara di kawasan nordik memiliki fokus terhadap ESG, dan melalui proyek yang saya kerjakan bersama KPMG Denmark, saya menyadari bahwa SDGS sudah menjadi paradigma dalam mengelola bisnis yang berkelanjutan.
Selain belajar di benua Amerika dan Eropa, saya juga berkesempatan untuk kembali ke tanah air. Melalui program International Learning Experience, saya pulang ke Indonesia bersama teman-teman sekelas dari berbagai negara. Kami mempelajari iklim bisnis Indonesia, berdialog dengan para pemimpin industri, dan mengenalkan budaya Indonesia secara langsung. Momen ini memperkaya perspektif saya tentang negeri sendiri, dari situ saya melihat tantangan sekaligus potensi besar yang dimiliki negeri ini.
Kini saya kembali, tidak hanya dengan membawa gelar MBA dari salah satu universitas terbaik di dunia, tetapi juga membawa paradigma baru. Saya belajar bahwa keputusan penting membutuhkan keberanian. Saya memahami bahwa kepemimpinan sejati dibentuk oleh kemauan untuk terus belajar, berkembang, dan memberikan dampak yang nyata.
Kesempatan Ini Kini Hadir untuk Anda
Beasiswa Tamba Samba bukan sekadar dukungan finansial. Ini adalah investasi jangka panjang untuk menyiapkan pemimpin Indonesia yang mampu menghadapi tantangan nasional dengan pemikiran global. Program ini telah mengubah hidup saya, bukan hanya secara profesional, tetapi juga secara pribadi, membentuk saya menjadi individu yang lebih terbuka, reflektif, dan tangguh. Beasiswa ini membuat saya yakin bahwa anak bangsa mampu bersaing dan memberi dampak nyata di panggung dunia.
Kini, kesempatan itu hadir untuk Anda. Jika Anda sedang berada di fase ingin keluar dari zona nyaman namun masih diliputi keraguan, mungkin inilah langkah awal yang Anda butuhkan. Satu keputusan sederhana bisa membuka jalan menuju perubahan besar. Bagi saya, semuanya dimulai dari sebuah unggahan di Instagram Story. Mungkin bagi Anda, titik awal itu adalah membaca artikel ini dan mendaftarkan diri melalui tautan di bawah ini. Jangan ragu untuk mencoba. Indonesia menanti kontribusi terbaik Anda.
Los Angeles, 22 Juli 2025

