Konten dari Pengguna
Bukan AI, Pembunuh Lapangan Kerja adalah Budaya Mengejar Efisiensi
6 November 2025 14:00 WIB
·
waktu baca 6 menit
Kiriman Pengguna
Bukan AI, Pembunuh Lapangan Kerja adalah Budaya Mengejar Efisiensi
Tren pengurangan karyawan untuk beralih ke AI semakin menunjukkan manusia bukan lagi aset terbesar perusahaan. Laporan Kumparan & Populix menunjukkan masih ada kesempatan buat Indonesia. #userstoryDj Wiguna
Tulisan dari Dj Wiguna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tren pengurangan karyawan untuk beralih ke AI semakin menunjukkan bahwa manusia bukan lagi aset terbesar perusahaan. Namun, sebenarnya yang membunuh lapangan kerja bukanlah kecerdasan buatan, tetapi budaya mengejar efisiensi di korporasi modern. Laporan Indonesia AI Report 2025 dari Kumparan danPopulix tentang AI di Indonesia menunjukkan masih ada kesempatan buat kita mengarahkan pemanfaatan kecerdasan buatan tanpa mengabaikan kesejahteraan manusia.
Stephen R. Covey adalah figur terpandang di dunia bisnis yang dikenal lewat buku best seller The 7 Habits of Highly Effective People. Pada 2005, Covey dengan penuh perayaan menyatakan era industrial telah berakhir dan digantikan oleh “era pengetahuan pekerja”.
Pada era pengetahuan pekerja, Covey mengatakan, “Aset terbesar sebuah organisasi adalah manusia dengan keseluruhan eksistensinya: tubuh, pikiran, hati, dan kesadaran yang semuanya menerima keuntungan dari kemajuan organisasi tersebut.” Covey meyakini dengan metode kerja yang tepat, maka semua kreativitas dan kemampuan manusia dapat mencapai puncaknya.
Namun sekitar 17 tahun kemudian, tulisan Covey pada kata pengantar buku Six Sigma for Dummies tersebut seolah gugur. Setelah kemunculan kecerdasan buatan generatif pada 2022, yang terjadi adalah gelombang pemutusan hubungan kerja terhadap “aset terbesar organisasi” tadi dan digantikan oleh AI.
Perusahaan jasa tenaga kerja Challenger, Gray & Christmas mencatat pada 2025 di Amerika Serikat ada sekitar 30 ribu karyawan kehilangan pekerjaan akibat penerapan otomatisasi terkait kecerdasan buatan. Peneliti dari Stanford University juga menemukan penyusutan lowongan pekerjaan untuk lulusan baru hingga karyawan pemula pada profesi dan posisi yang dapat digantikan oleh AI.
Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat, Jerome Powell, dalam keterangan persnya pada 29 Oktober 2025, menyatakan penambahan jumlah lapangan pekerjaan terus menurun. Penyebab mandeknya pertumbuhan pekerjaan itu adalah banyaknya perusahaan yang menyetop rekrutmen dan mengurangi karyawan dengan narasi beralih ke AI.
Apa yang terjadi dengan “era pengetahuan pekerja” yang mengglorifikasi manusia sebagai aset terbesar perusahaan yang dinyatakan oleh Covey, sang pakar sumber daya manusia? Jawabannya justru ada pada buku yang diberikan kata pengantar oleh Covey, yaitu metode Six Sigma.
Apa itu Six Sigma?
Six sigma adalah metode untuk mengurangi kesalahan dalam produksi, sehingga prosesnya menghasilkan produk yang berkualitas secara konsisten. Cara kerja metode ini adalah menggunakan data produksi untuk menemukan faktor dan proses yang paling menentukan dalam proses produksi untuk memperbaiki kinerja, sehingga peluang terjadi kesalahan hanya 3,4 kejadian per satu juta kali produksi.
Misalnya dalam sebuah perusahaan ekspedisi, dengan proses yang 99% baik, ditemukan ada 20,000 paket yang hilang per jam. Jika memakai pendekatan six sigma, proses menjadi meningkat 99,99966% lebih baik, sehingga dalam satu jam hanya tujuh paket yang hilang dalam per jam. Jadi dengan meningkatkan konsistensi produksi sebanyak 0,99966%, jumlah kekeliruan menurun tajam.
Six sigma, yang pertama dikembangkan perusahaan Amerika Serikat, Motorola pada 1980-an, diyakini bisa meningkatkan profit dengan tajam. Mengapa demikian? Karena jumlah kesalahan menurun, sehingga perusahaan secara konsisten menghasilkan produk dan layanan yang berkualitas.
Pada perkembangannya, six sigma kemudian dikombinasikan dengan metode lean. Jika six sigma bertujuan mengurangi jumlah kesalahan, lean bertujuan meningkatkan kecepatan, efisiensi, dan kualitas, dengan menyingkirkan hal-hal yang dianggap tidak penting, sehingga organisasi menjadi lebih ramping dan bergerak lebih cepat.
Six sigma, lean, atau kombinasi lean six sigma hanyalah salah satu berbagai metode pengelolaan kerja di perusahaan yang bertujuan meningkatkan efektivitas dan efisiensi. Tidak ada yang salah dengan budaya korporasi yang melahirkan metode-metode kerja yang tujuan akhirnya adalah meningkatkan keuntungan perusahaan.
Namun, pertanyaannya kemudian bagaimana efisiensi dan keuntungan optimal itu dicapai? Apa yang akan dikorbankan demi mencapai efisiensi produksi barang atau layanan? Apakah perusahaan berinvestasi pada manusia? Karena seperti kata Covey, sebagian besar karyawan sering kali tidak dapat menunjukkan kemampuan dan kreativitasnya akibat proses kerja dan budaya perusahaan yang ada. Atau sebaliknya, justru manusia sepenuhnya digantikan dengan mesin dan komputer?
Budaya Korporasi yang Mengejar Efisiensi
Mari kita lihat prinsip dari metode seperti lean six sigma, yaitu meningkatkan profit dengan mengejar tingkat kekeliruan sekecil mungkin dengan mengurangi faktor-faktor yang menurunkan efektivitas dan efisiensi. Karena targetnya adalah memperkecil kekeliruan dan meningkatkan efisiensi, tak heran ketika manusia bersanding dengan kecerdasan buatan, manusia menjadi faktor yang paling tidak konsisten dan berpeluang memperlambat proses.
Manusia punya tubuh yang bisa sakit, keluarga yang harus diperhatikan, dan kondisi mental yang bisa naik dan turun. Sebaliknya, hasil dari kecerdasan buatan bisa lebih konsisten tanpa dipengaruhi mood dan lingkungan kerja. Jika memakai pendekatan six sigma, bisa jadi manusia itu merupakan faktor produksi yang paling berkontribusi pada penurunan konsistensi produksi barang dan pelayanan jasa.
Kita bisa melihat contohnya dari IBM yang meningkatkan efisiensi dengan menggunakan AI untuk mengotomatisasi 94% kegiatan rutin HR, seperti mengurus slip gaji dan proses pengajuan cuti.
Misalnya, dalam sehari ada 100 pengajuan cuti yang harus diproses seorang karyawan departemen sumber daya manusia. Sementara ia memeriksa satu pengajuan, ada 99 pengajuan yang mengantre, yang dalam lean dianggap sebagai delay. Penundaan tersebut tidak terjadi dengan AI yang dengan kemampuan komputasinya, setiap pengajuan langsung diproses begitu masuk ke sistem tanpa ada jeda makan siang atau rapat.
Komunikasi dengan tim IT perusahaan juga digantikan AI. Bayangkan waktu yang bisa dihemat ketika tim IT tidak lagi harus setiap saat mengetik pesan, “Sudah coba di-restart?” karena respons itu diotomatisasi begitu keluhan laptop bermasalah masuk.
Namun, apa akibatnya? CEO IBM, Arvind Krishna, menyatakan penggunaan AI tersebut membuat ratusan karyawan HR kehilangan pekerjaan.
Belum Terlambat untuk Indonesia
Filsuf Hannah Arendt sudah mengingatkan bahaya jika efisiensi menjadi tujuan utama. Efisiensi jadi ciri khas masyarakat modern yang menghendaki segala sesuatu lebih cepat dan lebih murah, tetapi efisiensi tidak selalu sejalan dengan upaya mencapai kondisi sosial yang lebih baik.
Efisiensi yang dicapai dengan menggunakan AI untuk menggantikan manusia malah menciptakan pengangguran. Efisiensi untuk memakai AI membuat gambar atau video dengan cepat menimbulkan masalah hak cipta artis-artis yang karyanya dijiplak dan memukul industri kreatif.
Jadi yang membunuh lapangan pekerjaan bukanlah AI, melainkan budaya korporasi yang tidak lagi menganggap manusia adalah aset terbesar perusahaan. Apakah ini artinya “era pengetahuan manusia” seperti digaungkan Covey sudah berakhir?
Jawabannya: belum, setidaknya dalam konteks Indonesia, belum berakhir. Laporan Kumparan dan Populix menunjukkan Indonesia masih pada fase transisi dalam adopsi AI. Kalangan bisnis masih mencari bentuk pemanfaatan kecerdasan buatan.
Seperti rekomendasi riset tersebut, kondisi ini adalah peluang untuk menyiapkan kerangka etik dan regulasi penerapan AI dengan penuh kehati-hatian dan menempatkan manusia sebagai mitra dan tidak digantikan sepenuhnya oleh AI.
Pemangku kepentingan—terutama pemerintah dan parlemen sebagai penyusun kebijakan publik tentang teknologi—perlu menyiapkan kerangka yang menjaga agar di Indonesia, manusia tetaplah aset terbesar dunia usaha, serta pemanfaatan AI pada posisi berdampingan; bukan menggantikan, apalagi membunuh lapangan kerja.

