Konten dari Pengguna
Menakar Seberapa Perlu Kafe Memutar Musik dan Investasi Royalti Musik
31 Agustus 2025 9:32 WIB
Β·
waktu baca 9 menit
Kiriman Pengguna
Menakar Seberapa Perlu Kafe Memutar Musik dan Investasi Royalti Musik
Pelanggan hingga pekerja di kafe mengeluh sepi tanpa musik. Tapi apakah itu berarti kafe harus investasi besar untuk membayar royalti musik?Dj Wiguna
Tulisan dari Dj Wiguna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kasus royalti musik restoran Mie Gacoan berakhir damai dengan hasil akhir pembayaran royalti Rp 2,2 miliar kepada Sentra Lisensi Musik Indonesia (Selmi) untuk periode 2022 hingga Desember 2025. Artinya setiap tahun mereka membayar sekitar Rp 500 juta untuk musik yang diputar di restoran.
Tentunya tidak semua restoran sanggup membayar royalti musik dengan jumlah tersebut. Pertanyaannya sebenarnya seberapa perlu usaha kuliner seperti kafe dan restoran memutar musik dan berinvestasi membayar royalti musik?
Seberapa penting musik di kafe atau restoran dapat kita telisik dari tiga respons yang paling sering muncul di tengah riuhnya pembahasan mengenai pembayaran royalti musik. Respons pertama adalah pengunjung merasa suasana kafe sepi dan tidak menyenangkan setelah pengelola berhenti memutar lagu.
Reaksi kedua, pengelola dan karyawan kafe resah karena musik berperan besar dalam bisnis kafe, bahkan mengklaim pelanggan datang karena musik yang diperdengarkan di kafe. Lalu ketiga, sebagian publik menilai musisi yang akhirnya akan merugi karena kafe ikut mempopulerkan musik.
Mari kita bedah satu per satu reaksi untuk melihat apakah opini tadi hanya klaim-klaim tak berdasar atau memang ada kebenaran di dalamnya. Setelahnya akan ditelaah sebenarnya seberapa perlu kafe atau tempat kuliner berinvestasi membayar royalti musik.
Buntut masalah royalti, mengapa kafe tanpa musik terasa tidak nyaman?
Ketika kafe tidak mampu membayar royalti, bukankah solusinya mudah saja: tidak perlu memutar musik di kafe dan setiap orang dapat mendengarkan lagu di perangkatnya masing-masing. Namun setelah kafe menjalani langkah itu, ternyata ada pelanggan yang merasa suasana kafe tanpa suara musik menjadi sepi dan tidak nyaman. Akibatnya ada pengelola kafe yang tetap memutar musik atau rekaman suara alam meski ada ancaman sanksi hukum.
Rasa tidak nyaman tanpa adanya musik disebabkan masyarakat perkotaan modern yang terbiasa dengan suara musik. Soundscape atau lingkungan suara yang akrab di telinga masyarakat modern sudah berubah sejak terjadinya βschizophoniaβ.
Raymond Murray Schafer yang merintis studi suara menjelaskan, βschizophoniaβ adalah pemisahan antara sumber suara dengan musik yang dikonsumsi pendengar. Suara musik tidak lagi didengarkan langsung dari pita suara penyanyi dan getaran dawai di alat musik, tapi dari hasil rekaman terhadap suara asli.
Sejak musik menjadi suara yang dapat dinikmati tanpa kehadiran sumber suara aslinya, pemutar musik hadir hampir di setiap rumah dan kendaraan. Dampak βschizophioniaβ adalah musik bagi masyarakat modern telah menjadi sumber hiburan yang dapat dinikmati secara simultan sambil menjalankan aktivitas lainnya.
Digitalisasi musik membuat musik dapat didengarkan tanpa batasan ruang dan waktu sehingga musik menjadi serba hadir dalam kehidupan manusia modern. Peneliti musik Anahid Kassabian memprediksi musik akan semakin tidak terhindarkan dan mencapai titik ubiquitous listening di mana musik bersifat serbahadir karena tidak hanya menghampiri telinga dari perangkat yang secara khusus memutar musik. Kita juga mendengar musik dari di gerbong kereta penanda kereta akan berangkat hingga lantunan nada dari mesin cuci yang telah merampungkan pekerjaannya.
Sebaliknya kondisi tanpa suara, kata Schafer, justru membuat kita tidak nyaman karena masyarakat modern tidak lagi terbiasa berada di kondisi βhi-fiβ yang minim kebisingan seperti di pedesaan. Masyarakat modern, terutama di perkotaan, setiap hari hidup dalam lingkungan suara βlo-fiβ yang penuh suara deru mesin hingga hingar-bingar kesibukan manusia. Di antara suara yang ikut mengisi lingkungan suara modern itu adalah musik yang sudah familiar di antara kebisingan hidup masyarakat perkotaan.
Jadi kafe rasanya anyep tanpa musik, karena kita sudah terbiasa mengisi lingkungan audio kita dengan musik. Kesunyian membuat kita tidak nyaman, karena merasa ada di lingkungan yang terasa asing.
Benarkah pelanggan datang ke kafe karena musik yang ada royaltinya?
Musik di kafe, walaupun diputar secara acak sesuai selera barista atau manajer bukanlah bunyi yang tanpa arti. Playlist atau susunan musik yang ada di kafe adalah komunikasi nonverbal yang memuat pesan tentang identitas penyusun lagu dan kafe itu sendiri dan secara disengaja atau tidak sedang membangun ikatan sosial dengan pelanggan yang datang.
Genre musik di sebuah kafe mengkomunikasikan jati diri kafe, orang seperti apa yang bekerja di kafe, dan tipe pelanggan yang ada di sana. Kafe yang memutar musik indie, misalnya, secara berangsur bisa membentuk pelanggan yang datang adalah yang menyukai musik indie dan bergaya busana yang khas atau oleh istilah populer disebut βkalcerβ.
Morgan Ward dkk. dari Southern Methodist University, Amerika Serikat, menemukan dalam eksperimennya, bahwa khalayak menyukai lagu-lagu yang akrab di telinga. Jika sebuah kafe secara konsisten memutar lagu dari sebuah genre, maka ada peluang pelanggan kembali untuk mendapatkan tempat dengan musik yang sudah pasti familiar.
Hal ini juga disadari oleh sebagian pengusaha kafe sehingga seringkali playlist dibuat secara terencana, bahkan pada kafe waralaba susunan lagu dirancang secara terpusat untuk dimainkan di semua cabang. Kurasi musik secara terencana untuk branding kafe ini disebut sonic branding, yaitu sebuah teknik komunikasi untuk membangun citra, membuat konsumen mengenali brand, dan meningkatkan kesetiaan pelanggan.
Musik dapat mengangkat citra sebuah kafe di mata pelanggan karena playlist mencerminkan modal budaya pekerja dan pengelolanya. Keahlian menyusun playlist menunjukkan pengetahuan tentang tren lagu, kemampuan menangkap lagu yang sedang naik daun, dan kecepatan menangkap lagu baru yang enak didengar sehingga kafe dapat dianggap sebagai tempat yang keren dan mengikuti perkembangan musik.
Apakah benar pelanggan datang karena musik yang dikurasi kafe? Disadari atau tidak oleh pelanggan, musik menjadi bagian penting dari suasana kafe yang dapat dikurasi untuk membuat seseorang memiliki kesan positif terhadap sebuah kafe dan kembali berkunjung kembali ke sana.
Apakah benar kafe ikut mempopulerkan lagu?
Eksperimen Morgan Ward dan timnya juga menyimpulkan sebuah lagu dapat menjadi populer ketika diperdengarkan berulang-ulang atau terdengar oleh publik secara tidak sengaja. Kesimpulan ini diperoleh setelah eksperimen menunjukkan penikmat musik cenderung menyukai lagu yang sudah dikenal dan disukai sehingga jarang bertualang mencari tembang baru.
Ketika seseorang membutuhkan stimulan tinggi, seperti sedang ingin konsentrasi, maka ia akan memilih musik yang sudah dikenal antara lain dengan memutar playlist yang sudah dibuat sendiri. Atau dengan kata lain, ketika aktivitas mendengarkan musik terjadi secara sengaja dan diniatkan oleh seseorang, maka ia akan cenderung memilih lagu yang sudah dikenali.
Lalu bagaimana sebuah lagu baru atau lagu lama yang tidak masuk koleksi pribadi bisa sampai ke telinga pendengar jika khalayak cenderung memainkan lagu yang sudah familiar? Pada era sebelum adanya aplikasi streaming musik, radio yang menjadi medium mempopulerkan lagu yang asing di telinga khalayak.
Survei terhadap pendengar musik di tiga negara oleh Steven Brown dan Amanda Krause menemukan radio punya keunggulan dibanding model mendengarkan lagu lainnya karena khalayak tidak dapat menduga lagu yang akan muncul di siaran yang sedang didengarkan. Menurut penelitian yang dimuat di jurnal Psychomusicology tersebut, kemunculan lagu yang sudah dikenal atau yang baru yang di luar dugaan tersebut sehingga memberikan pengalaman keterkejutan yang menyenangkan.
Digitalisasi yang menghadirkan aplikasi pemutar musik memang memberikan kendali lebih besar kepada pendengar untuk memastikan lagu yang muncul sesuai selera, tapi ternyata kurangnya kendali seperti saat mendengarkan radio justru menghadirkan kepuasan menemukan musik baru untuk menambah perbendaharaan lagu seseorang.
Radio juga punya kelebihan memberi tahu tren dan memberikan rasa konsumsi secara kolektif karena ada perasaan sedang mendengarkan lagu yang juga sedang didengarkan oleh banyak orang. Lagu yang hadir lewat radio dipersepsi sebagai musik yang mendapatkan endorsement sosial dan mendengarkannya memberikan perasaan penerimaan sosial atau persepsi keren dalam pergaulan.
Namun radio saat ini sedang lesu dan mendengarkan radio tidak lagi menjadi aktivitas utama dalam memperoleh hiburan dalam bentuk audio. Sementara itu platform digital yang juga sebenarnya juga menawarkan musik baru juga tidak terlalu bisa memberikan keterkejutan karena model algoritmanya adalah personalisasi. Kondisi ini membuat titik temu antara khalayak dengan lagu yang baru atau asing menjadi semakin langka. Pada titik inilah kafe yang memutar musik mengambil alih peran radio. Seperti juga banyak dijumpai dalam respons publik tentang masalah royalti musik, penemuan lagu baru seringkali terjadi di kafe.
Semakin sering sebuah lagu didengar di ruang publik seperti kafe, maka ia dapat terbantu menjadi populer karena tempat publik seperti kafe adalah lokasi di mana khalayak tidak punya kendali besar terhadap urutan lagu dan juga tidak dapat dengan mudah menyetop suara yang masuk ke telinga, kecuali sedang menggunakan headphone. Artinya kafe memang berpeluang menjadi titik tempat pemasaran lagu baru atau tempat sebuah lagu menjadi populer.
Apakah investasi royalti musik akan menguntungkan kafe?
Hubungan musik dengan volume transaksi dan kepuasan pelanggan di tempat kuliner sudah banyak diteliti. Penggunaan musik secara strategis ditemukan dapat meningkatkan transaksi, membuat pelanggan konsumsi lebih banyak makanan, dan mempertahankan pelanggan lebih lama.
Meskipun musik dapat membantu mendatangkan keuntungan, namun bukan berarti semua kafe, restoran, atau tempat publik lainnya perlu berinvestasi membayar royalti musik. Jika mayoritas pelanggan datang untuk mencari lokasi bekerja yang memerlukan konsentrasi tinggi seperti bekerja atau menghadiri rapat daring, maka yang mereka butuhkan bukan stimulasi musik.
Tipe pelanggan seperti ini mencari coffitivity atau suasana kafe dengan kebisingan βlo-fiβ dan atmosfer sosial yang ada di kafe untuk menimbulkan rasa nyaman dan mood yang mendongkrak produktivitas. Jika mayoritas pelanggan adalah pencari coffitivity, kafe sebenarnya tidak perlu investasi besar pada musik karena bisa menggunakan suara lain seperti gemericik air yang berpadu dengan suara aktivitas di kafe atau investasi musik dengan jumlah terbatas untuk diputar berulang.
Namun jika musik bagian dari sonic branding untuk menguatkan konsep kafe dan membangun identitas brand yang ditandai adanya kurasi musik, maka sudah selayaknya kafe berinvestasi dengan membayar atau membeli royalti musik. Tentunya pengusaha kafe dapat berhitung dengan cermat seberapa jauh investasi terhadap royalti musik tersebut menguntungkan.
Lalu mengingat kafe bisa menjadi titik temu khalayak dengan karya musisi, kedua belah pihak perlu duduk bersama untuk menemukan titik tengah yang menguntungkan semua pihak. Pengelola kafe perlu menghargai hak kekayaan intelektual musisi di mana pemasukan dari royalti adalah apresiasi sekaligus insentif untuk terus berkarya. Sebaliknya musisi juga hingga derajat tertentu, memerlukan tempat seperti kafe untuk membuat karyanya semakin dikenal atau kembali dikenal khalayak.

