Konten dari Pengguna

Performative Male dan Jebakan Tren Green Flag

Dj Wiguna
Mahasiswa program Pascasarjana Komunikasi Universitas Indonesia. Menulis tentang budaya digital, tren sosial, dan pop culture dari perspektif komunikasi.
2 September 2025 12:50 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Performative Male dan Jebakan Tren Green Flag
Performative male sedang menjadi pembahasan di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Performative male dan tren green flag bisa menghadirkan jebakan hubungan yang toxic.
Dj Wiguna
Tulisan dari Dj Wiguna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi (Nada/Unsplash)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi (Nada/Unsplash)
Performative male mendadak jadi pembicaraan hangat usai kontesnya di Jakarta beberapa waktu lalu menjadi viral antara lain karena dimenangkan anak selebritas. Bukan cuma di Indonesia, kontes performative male dalam dua bulan terakhir juga bermunculan di banyak negara dari San Fransisco, Amerika Serikat, hingga ke Sydney, Australia.
Bagi yang belum tahu, performative maleadalah pria dengan penampilan dan pembawaan yang dengan sengaja dikurasi untuk menarik perhatian perempuan. Performative male, misalnya, memakai tote bag kanvas dengan Labubu menggantung di talinya, memesan matcha latte ketika di kafe, menyukai K-Pop, dan membaca buku-buku tentang perempuan atau ditulis pengarang perempuan. Semua gaya dan aktivitas itu sebatas tampilan luar saja dan sejatinya pria itu tidak benar-benar menyukainya, karena itu disebut performative.
Perilaku membaca buku hingga meminum matcha latte dianggap sebagai indikasi pria yang dianggap baik atau β€œaman” atau belakangan ini disebut sebagai green flag. Kepribadian yang kalem, sensitif, berpikir terbuka, berani tampil beda, dan tidak agresif. Kebalikannya, lelaki yang mengindikasikan perilaku atau sifat red flag sebaiknya dijauhi.
Gaya busana, makanan dan minuman yang dikonsumsi, atau pilihan aktivitas seperti membaca buku adalah bentuk komunikasi nonverbal tentang jatidiri seseorang. Studi komunikasi menyebutnya sebagai komunikasi artifactual atau penyampaian pesan melalui benda-benda.
Kurasi benda-benda seperti baju dan aksesoris oleh seseorang, menurut pakar komunikasi Joseph A. DeVito, bertujuan mempengaruhi orang lain. Atau dalam kasus, performative male, menarik perhatian hingga dengan sengaja memperdaya orang lain.

Performative male dan tren green flag

Performative male muncul di tengah tren label green flag dan red flag di media sosial. Green flag menjadi petunjuk tentang kepribadian ideal dan kompatibilitas seseorang untuk membangun hubungan.
Ketika informasi tentang seseorang tidak banyak tersedia, maka kita akan cenderung mencari petunjuk-petunjuk nonverbal yang ada. Seperti apa penampilannya, apa barang-barang yang dimiliki, atau seperti apa hobinya. Hal ini terjadi ketika kita menjumpai akun media sosial seseorang atau perjumpaan di aplikasi pencarian jodoh.
Sebelum performative male misalnya ada istilah "Golden Retriever Boyfriend" yang dipersepsi seorang pria siap membina hubungan serius dan siap berkeluarga. Tanda-tanda green flag tersebut misalnya kerap membagikan foto menggendong bayi (yang tentu saja bukan anak sendiri), bermain dengan keponakan, atau memiliki hewan peliharaan.
Konten-konten green flag baik yang dilekatkan kepada laki-laki atau perempuan juga bertebaran di media sosial. Misalnya sempat viral soal hobi lelaki yang green flag.
Hobi itu merujuk pada sebuah survei populer (untuk membedakannya dari survei ilmiah) Date Psychology yang dirilis Agustus 2024. Sebanyak 814 responden laki-laki dan perempuan menyatakan hobi pria paling menarik menurut perempuan adalah membaca, belajar bahasa asing, memainkan instrumen musik, dan memasak. Sebaliknya membaca komik, cosplay, berdebat, dan menonton anime dianggap tidak menarik bagi perempuan. Memang survei populer belum tentu valid hasilnya, namun kita mendapat petunjuk tentang hobi yang dipersepsi oleh responden sebagai green flag.

Jebakan Green Flag yang Berujung Hubungan yang Toxic

Sebenarnya sah-sah saja menggunakan green flag untuk mengukur seberapa potensial seseorang untuk membina sebuah hubungan yang lebih akrab. Namun dalam jangka panjang, green flag dapat menjebak Anda atau orang lain dalam hubungan yang tidak sehat, karena green flag pada dasarnya adalah sosok ideal berdasarkan standar sosial.
Sementara hubungan antara dua orang yang akrab atau dalam studi komunikasi disebut komunikasi interpersonal adalah hubungan yang semestinya bersifat unik dan personal. Semua aturan dan peran di dalam hubungan interpersonal dibentuk dari hasil negosiasi dan kesepakatan bersama kedua pihak. Lawan dari bentuk hubungan interpersonal adalah hubungan impersonal di mana semua hal di dalam hubungan didasarkan pada kebiasaan umum, tradisi, atau nilai-nilai sosial.
Kita ambil contoh saat akan membayar setelah makan atau minum di kafe. Pada hubungan interpersonal, siapa yang membayar didasarkan pada kesepakatan kedua pihak (β€œKalau ke kafe kita gantian bayar, ya.” atau β€œKamu yang bayar makan, aku yang bayar bensin.”).
Sedangkan dalam hubungan impersonal, salah satu pihak wajib membayar karena sudah menjadi anggapan umum bahwa pihak tertentu harus menjalankannya. (β€œDi mana-mana itu laki-laki yang bayar” atau β€œDi mana-mana yang gajinya lebih besar yang seharusnya bayar.”). Pada hubungan impersonal akan muncul red flag ketika salah satu pihak melanggar aturan sosial atau tradisi.
Studi komunikasi menganggap hubungan interpersonal lebih sehat karena persepsi terhadap seseorang di dalam hubungan termasuk peran-peran dan cara komunikasi dinegosiasikan bersama dan bukan dipatok berdasarkan apa yang secara sosial atau budaya dianggap benar.
Jika green flag atau red flag masih menjadi sumber referensi tentang apa yang baik dan buruk dalam sebuah hubungan, maka yang terjadi adalah pihak-pihak di dalam hubungan berperilaku dan menampilkan kepribadian berdasarkan standar tersebut. Orang tersebut menjadi tidak bebas mengekspresikan diri sehingga dalam hubungan tersebut ia menjadi performative male atau performative female dan bukan menjadi diri sendiri. Pada titik ini hubungan impersonal menjadi hubungan yang toxic.
Trending Now