Konten dari Pengguna

The Anthropocene Reviewed: Ketika John Green Jadi Pemandu Eksistensi Kita

Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
20 April 2025 15:56 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
The Anthropocene Reviewed: Ketika John Green Jadi Pemandu Eksistensi Kita
Buku ini tentang eksplorasi makna hidup, ide besar, dan kisah pribadi Green yang terasa seperti pemandu. Gaya khas penulis terasa akrab, buku ini butuh perhatian penuh untuk menghayati wawasannya
Donny Syofyan
Tulisan dari Donny Syofyan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber Foto Koleksi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto Koleksi Pribadi
Akhirnya tiba juga! 'The Anthropocene Reviewed' di tangan. Rasanya seperti kembali ke labirin pikiran John Green setelah sekian lama. Jujur saja, dulu sempat terlintas di benak bahwa Green ini penulis yang lebay. Maafkan kenangan masa lalu yang begitu naif dan sok tahu itu. Tuan Green, kalau kebetulan Anda menonton ini, sungguh, saya keliru besar! Ini Blzn, dan mari kita bedah 'The Anthropocene Reviewed' dalam enam menit ke depan.
Terbitan Dutton Penguin, 18 Mei 2021, 'The Anthropocene Reviewed' menandai debut non-fiksi John Green, karya solo keenamnya. Buku sudah diterbitkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Mizan Publishing pada 2022. Jangan bayangkan ini sekadar deretan esai biasa. Lebih dari itu, buku setebal 360 halaman ini adalah jendela ke ide-ide, sosok-sosok, benda-benda, dan momen-momen yang mewarnai keberadaan kita di planet yang kita sebut rumah ini. Menyederhanakannya hanya sampai situ?
Setiap pembaca pasti punya resonansi dan interpretasi sendiri. Bagi saya, inilah eksplorasi tentang hal-hal remeh yang menyimpan makna mendalam, dan gagasan-gagasan besar yang seringkali luput dari pemahaman kita. Lebih jauh lagi, buku ini adalah refleksi jujur tentang kesehatan mental, pencarian makna hidup, dan kekuatan luar biasa yang tersembunyi dalam diri kita sebagai manusia, sebagai sebuah spesies. Singkatnya, menurut hemat saya, buku ini adalah kompas bagi siapa saja yang ingin merasakan dan memahami esensi menjadi manusia.
Menariknya, bagi saya, John Green bukan hanya penulis di buku ini, melainkan juga pemandu wisata pribadi. Ia mengajak kita menelusuri berbagai persimpangan dalam hidupnya, tempat di mana pengalaman manusia modern terbentuk, persis seperti yang ia utarakan. Bahkan, 'Antroposen' itu sendiri terasa seperti karakter utama yang kita telaah, meskipun konsepnya abstrak. Pernahkah Anda merasakan sensasi duduk di bioskop IMAX raksasa, yang sering ada di museum, terhanyut dalam film dokumenter tentang alam atau sisi lain kehidupan manusia? Nah, membaca buku ini memberikan pengalaman serupa, namun dengan kedalaman dan kejutan yang lebih personal.
Jangan harapkan ulasan plot konvensional di sini, karena buku ini justru membahas tema-tema eksistensial yang luas. Namun, Green menyelipkan banyak kisah dari kehidupannya sendiri dalam esai-esainya. Ambil contoh ulasannya tentang 'The Biggest Ball of Paint'. Di sana, ia menawarkan perspektif atas pertanyaan yang sering menghantui benak mereka yang bergumul dengan depresi atau bahkan memiliki pandangan dunia yang primitif: 'Apa sebenarnya makna dari semua ini? Apa gunanya segala sesuatu?' Dan, seperti yang saya sebutkan sebelumnya tentang kisah bola cat raksasa itu, Green menyuguhkan jawaban yang, menurut saya, cukup memuaskan.
Jika Anda familiar dengan kanal YouTube Vlogbrothers atau podcast yang menjadi cikal bakal buku ini, bersiaplah! Anda akan 'mendengar' suara khas John Green di setiap lembarnya. Bahkan saat membaca teksnya pun, apalagi jika mendengarkan audiobook-nya, intonasi dan gaya bicaranya begitu melekat. Anehnya, terasa seperti duduk berhadapan dan mendengarkannya bercerita tentang pengalamannya sambil mengupas makna di balik ide-ide dalam esai-esainya. Ya, itulah 'suara' yang akan menemani Anda selama membaca.
Menariknya, bagi saya, John Green bukan hanya penulis di buku ini, melainkan juga pemandu wisata pribadi. Ia mengajak kita menelusuri berbagai persimpangan dalam hidupnya, tempat di mana pengalaman manusia modern terbentuk, persis seperti yang ia utarakan. Bahkan, 'Antroposen' itu sendiri terasa seperti karakter utama yang kita telaah, meskipun konsepnya abstrak. Pernahkah Anda merasakan sensasi duduk di bioskop IMAX raksasa, yang sering ada di museum, terhanyut dalam film dokumenter tentang alam atau sisi lain kehidupan manusia? Nah, membaca buku ini memberikan pengalaman serupa, namun dengan kedalaman dan kejutan yang lebih personal.
Jangan harapkan ulasan plot konvensional di sini, karena buku ini justru membahas tema-tema eksistensial yang luas. Namun, Green menyelipkan banyak kisah dari kehidupannya sendiri dalam esai-esainya. Ambil contoh ulasannya tentang 'The Biggest Ball of Paint'. Di sana, ia menawarkan perspektif atas pertanyaan yang sering menghantui benak mereka yang bergumul dengan depresi atau bahkan memiliki pandangan dunia yang primitif: 'Apa sebenarnya makna dari semua ini? Apa gunanya segala sesuatu?' Dan, seperti yang saya sebutkan sebelumnya tentang kisah bola cat raksasa itu, Green menyuguhkan jawaban yang, menurut saya, cukup memuaskan.
Trending Now