Konten dari Pengguna
Panik Saat Gempa? Ini 7 Langkah Selamat dari Dosen Keperawatan Gawat Darurat
23 Juni 2025 14:52 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Panik Saat Gempa? Ini 7 Langkah Selamat dari Dosen Keperawatan Gawat Darurat
Gempa bisa terjadi tiba-tiba dan menimbulkan kepanikan. Artikel ini membahas 7 langkah selamat beserta alasannya, panduan dari Red Cross, dan pentingnya simulasi bencana untuk kesiapsiagaan.Donny Nurhamsyah
Tulisan dari Donny Nurhamsyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Gempa bisa datang tanpa peringatan. Dosen Keperawatan Gawat Darurat membagikan langkah-langkah penting dan pentingnya simulasi agar masyarakat tetap sigap saat terjadi bencana.

Gempa bumi adalah bencana yang datang tiba-tiba, tanpa bisa diprediksi secara akurat. Dalam situasi darurat seperti ini, bukan hanya kekuatan fisik, tetapi pengetahuan dan kesiapan mental yang dapat menyelamatkan nyawa.
Sebagai Dosen Keperawatan Gawat Darurat, saya melihat bahwa masyarakat kita masih banyak yang belum siap menghadapi bencana. Padahal, memahami langkah-langkah penyelamatan dasar bisa membuat perbedaan besar antara selamat dan celaka.
Berikut 7 langkah penting yang harus dilakukan saat gempa bumi terjadi:
1. Segera Berlindung (Drop, Cover, and Hold On)
Jatuhkan badan ke lantai, lindungi kepala dan leher, dan bertahan di bawah meja kokoh. Hindari dekat jendela atau benda yang bisa jatuh. Karena sebagian besar cedera saat gempa disebabkan oleh benda yang jatuh atau tertimpa puing. Menjatuhkan badan mencegah Anda terjatuh keras karena kehilangan keseimbangan. Menutupi kepala dan leher melindungi area vital dari benturan. Memegang kaki meja atau struktur kokoh membantu Anda tetap di tempat saat tanah berguncang.
2. Jangan Lari ke Luar Saat Guncangan Terjadi
Tetap di tempat aman. Lari ke luar justru berisiko terkena reruntuhan. Berlari saat tanah berguncang membuat Anda tidak stabil, berisiko terjatuh, atau tertimpa puing saat berada di ambang pintu atau luar bangunan. Banyak korban gempa terjadi di pintu atau tangga karena tertimpa atau terinjak. Lebih aman menunggu hingga guncangan berhenti, baru evakuasi.
3. Jika di Luar, Cari Tempat Terbuka
Di luar ruangan, risiko terbesar adalah jatuhnya kaca, tembok, baliho, atau kabel listrik. Maka, menjauhlah sejauh mungkin dari bangunan dan tiang. Area lapang seperti lapangan, taman, atau tanah kosong lebih aman dari risiko runtuhan.
4. Matikan Sumber Api
Gempa bisa menyebabkan kebocoran gas atau korsleting listrik, yang memicu kebakaran. Mematikan sumber api saat masih memungkinkan bisa mencegah bencana sekunder seperti ledakan atau kebakaran rumah.
5. Periksa Diri dan Sekitar Anda
Dalam keperawatan gawat darurat, pertolongan pertama sangat krusial pada menit-menit awal setelah kejadian. Pengecekan cepat dapat mengidentifikasi perdarahan, patah tulang, atau kehilangan kesadaran. Tindakan sederhana seperti menghentikan perdarahan atau melakukan resusitasi jantung paru (CPR) bisa menyelamatkan nyawa sebelum bantuan profesional datang.
6. Waspadai Gempa Susulan
Setelah gempa utama, bisa terjadi gempa susulan yang cukup kuat dan berbahaya. Banyak bangunan yang sudah rapuh bisa runtuh saat aftershock. Tetap siaga dan jangan langsung kembali ke bangunan tanpa izin otoritas.
7. Ikuti Informasi Resmi
Dapatkan informasi dari BMKG, BNPB, atau kanal resmi untuk menghindari hoaks. Menyebarkan atau percaya informasi yang tidak jelas bisa memperparah kepanikan. Sumber resmi memberi arahan yang valid dan terverifikasi, termasuk peringatan tsunami, lokasi pengungsian, dan status keamanan.
Pentingnya Simulasi Bencana
Mengapa banyak orang panik saat gempa? Karena tidak terbiasa menghadapi kondisi darurat. Di sinilah pentingnya simulasi bencana secara berkala, baik di sekolah, kampus, tempat kerja, maupun tempat wisata.
Simulasi tidak hanya melatih respons fisik, tetapi juga membentuk refleks dan kesiapan mental. Sebagai bagian dari pendidikan kebencanaan, simulasi juga memperkuat koordinasi antarwarga dan petugas dalam menyelamatkan diri serta membantu korban.
Di kampus kami, kegiatan simulasi tanggap bencana rutin dilakukan, termasuk latihan evakuasi dan pertolongan pertama. Harapannya, masyarakat tidak hanya tahu teori, tapi juga terlatih dan refleks saat bencana benar-benar terjadi.

