Konten dari Pengguna

Tutupnya Toko Buku Gunung Agung dan Rendahnya Minat Membaca di Masyarakat

Donyawan Maigoda
Content Writer, Novelis, SEO Writer, Owner PT Xinxian Boba Indonesia
23 Mei 2023 18:06 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Tutupnya Toko Buku Gunung Agung dan Rendahnya Minat Membaca di Masyarakat
Subsidi buku, perpustakaan yang lebih baik, dan acara literasi yang menarik dapat menjadi langkah-langkah konkret untuk meningkatkan minat membaca di kalangan masyarakat.
Donyawan Maigoda
Tulisan dari Donyawan Maigoda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Toko Buku Gunung Agung. Foto: Facebook/Tang City Mall
zoom-in-whitePerbesar
Toko Buku Gunung Agung. Foto: Facebook/Tang City Mall
Pernahkah kamu mendengar tentang Toko Buku Gunung Agung? Ya, itu adalah toko buku yang sangat terkenal di Indonesia. Aku ingat betul bagaimana dulu toko buku itu selalu ramai dengan pengunjung yang mencari buku-buku terbaru, klasik, atau bahkan buku-buku langka.
Sayangnya, kabar buruk datang beberapa waktu yang lalu. Toko Buku Gunung Agungutup pintu untuk selamanya akhir tahun ini. Bukan hanya penutupan sebuah toko buku, tapi ini juga menjadi gambaran tentang kondisi minat membaca yang rendah di kalangan masyarakat kita. Menyedihkan, bukan?
Kita hidup di zaman yang penuh dengan teknologi canggih dan hiburan instan. Kini, buku-buku elektronik, e-book, dan audiobook semakin populer karena kemudahan akses dan kenyamanan yang ditawarkannya. Orang-orang lebih memilih untuk membaca dengan perangkat elektronik mereka daripada membeli buku fisik.
Tidak hanya itu, persaingan dengan perusahaan besar dalam industri buku juga menjadi pukulan bagi toko buku tradisional seperti Toko Buku Gunung Agung. Google Playbook dan penerbit besar lainnya mampu menawarkan harga lebih murah, berbagai promosi menarik, dan pilihan buku yang sangat luas. Sulit bagi toko buku fisik untuk bersaing dengan harga dan variasi produk yang ditawarkan oleh pesaing-pesaing besar tersebut.
Ilustrasi toko buku tutup. Foto: Shutterstock
Tapi, apa yang sebenarnya menyebabkan minat membaca kita rendah? Apakah karena kita semakin sibuk dengan kehidupan modern yang serba cepat? Apakah karena kita lebih suka menonton televisi, bermain game online, atau menghabiskan waktu di media sosial daripada membaca? Aku rasa jawabannya adalah kombinasi dari semua faktor itu.
Aku ingat ketika aku masih kecil, aku sering diajak oleh orang tuaku untuk pergi ke toko buku. Aku dapat memilih buku yang aku mau dan membawanya pulang dengan bangga. Itu adalah momen yang berharga bagiku.
Tapi seiring berjalannya waktu, aku melihat bagaimana orang tua dan guru-guruku lebih fokus pada pelajaran sekolah dan ujian daripada mengembangkan minat membaca kami. Aku merasa bahwa membaca tidak lagi dianggap sebagai prioritas utama.
Namun, meskipun Toko Buku Gunung Agung telah ditutup, aku yakin minat membaca tidak hilang sama sekali di kalangan masyarakat kita. Masih ada toko buku independen yang tetap bertahan dan bahkan berkembang, serta komunitas-komunitas pembaca yang aktif. Ada juga penulis dan penerbit lokal yang terus menciptakan karya-karya menarik untuk menarik minat pembaca.
Ilustrasi membaca buku. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Ada beberapa langkah yang dapat kita ambil untuk meningkatkan minat membaca. Pertama, pendidikan harus lebih memperhatikan pembangunan minat membaca di kalangan siswa. Bukan hanya tentang pelajaran dan ujian, tetapi juga tentang menanamkan kebiasaan membaca yang baik sejak dini.
Orang tua juga memiliki peran yang sangat penting dalam membantu membangun minat membaca anak-anak. Mereka dapat meluangkan waktu untuk membaca bersama anak-anak mereka, mengunjungi perpustakaan, atau menyediakan akses ke berbagai buku yang menarik bagi mereka.
Dengan memberikan contoh yang positif dan menghadirkan kegiatan membaca yang menyenangkan, orang tua dapat membantu membentuk kebiasaan membaca yang kuat pada anak-anak.
Selain itu, pemerintah dan lembaga terkait juga harus berperan aktif dalam mendukung budaya membaca. Mereka dapat meluncurkan program-program literasi yang melibatkan sekolah, perpustakaan, dan komunitas. Subsidi buku, perpustakaan yang lebih baik, dan acara literasi yang menarik dapat menjadi langkah-langkah konkret untuk meningkatkan minat membaca di kalangan masyarakat.
Ilustrasi membaca buku. Foto: Shutter Stock
Tidak hanya itu, sebagai individu kita juga perlu mengubah persepsi dan sikap kita terhadap membaca. Kita perlu mengenali manfaat dan kegembiraan yang bisa didapatkan dari membaca.
Buku adalah jendela dunia yang membuka peluang, memperluas pengetahuan, dan menginspirasi imajinasi kita. Dengan membaca, kita dapat menjelajahi tempat-tempat baru, belajar dari pengalaman orang lain, dan memperkaya diri kita sendiri.
Toko Buku Gunung Agung mungkin telah tutup, tetapi semangat dan kecintaan terhadap buku dan membaca tidak pernah mati. Melalui upaya bersama, kita dapat mengubah tren rendahnya minat membaca menjadi masa depan yang lebih cerah, di mana membaca menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita dan membawa manfaat yang luar biasa bagi diri kita sendiri dan masyarakat secara keseluruhan.
Trending Now