Konten dari Pengguna
Jangan Mengutuk Cermin Hanya Karena Bayangmu Pernah Jatuh
19 Oktober 2025 14:41 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
Kiriman Pengguna
Jangan Mengutuk Cermin Hanya Karena Bayangmu Pernah Jatuh
Seruan lembut untuk berdamai dengan kegagalan, mencintai diri sendiri dalam setiap kekacauan, dan memandang hidup sebagai puisi yang tetap indah meski beberapa baitnya ditulis dengan air mata.Dwi Anggoro
Tulisan dari Dwi Anggoro tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jangan membenci diri sendiri hanya karena gagal sekali, dua kali, bahkan sering kali. Jika setiap kegagalan membuat kita ingin menghapus diri dari semesta, maka semesta akan kehilangan salah satu puisinya yang paling indah yaitu diri kita sendiri. Kita bukan pecundang, kita hanya sedang tersesat dalam labirin waktu. Kadang terjatuh, kadang tersandung, kadang ingin rebahan selamanya dikasur sambil berpura-pura menjadi awan. Tapi tetaplah terus mengimani bahwa bumi masih terus berputar, dan hati ini juga. Luka hari ini hanyalah jeda, bukan nisan untuk mimpi-mimpi kita.
Hujan deras yang datang tanpa undangan memang menyebalkan, tapi dari situ akan tumbuh bunga-bunga baru. Jadi jangan marah pada diri sendiri hanya karena basah. Keringkan saja air matanya dengan tawa kecil yang setengah sarkastik, setengah pasrah, tapi sepenuhnya tulus. Jadilah penyair yang mencintai kata-kata kacau. Dengan sabar, dengan getir, dengan rasa ingin menyerah tapi tidak jadi. Jika kita berhenti mencintai diri sendiri, siapa yang akan menjemput sisa keberanian saat dunia terasa sekeras ujian matematika dan segila sinetron ba'da isya.
Gagal itu bukan akhir, ia hanya plot twist dari Tuhan yang mempunyai selera humor luar biasa. Jadi bukalah mata, hirup nafas panjang, dan bisikan pada diri sendiri: "Aku mungkin belum menang, tapi aku tetap indah bahkan dalam kekacauanku."

