Konten dari Pengguna

Sebuah Eksperimen Tuhan yang Terlalu Serius

Dwi Anggoro
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang
24 Oktober 2025 6:00 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Sebuah Eksperimen Tuhan yang Terlalu Serius
Hidup penuh dengan kisah komedi yang absurd dan ironi di mana manusia berlari tanpa arah mengejar makna yang tak pernah pasti. #userstory
Dwi Anggoro
Tulisan dari Dwi Anggoro tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Foto oleh Victor Freitas: https://www.pexels.com/id-id/foto/847484/
zoom-in-whitePerbesar
Foto oleh Victor Freitas: https://www.pexels.com/id-id/foto/847484/
Hidup bukan perjalanan spiritual yang megah, lebih mirip lelucon yang kelewat panjang durasinya. Kita berlari ke sana kemari, sibuk mengejar sesuatu yang bahkan tak tahu bentuknya. Seolah semesta sedang menonton kita sambil memakan meteor dan tertawa, "Lihat, mereka masih percaya adanya tujuan." Dunia modern menjerit soal kecepatan dan kesempurnaan, seakan hidup ini sebagai kompetisi yang menunjukkan untuk siapa yang paling rajin membawa remah. Kita lupa bahwa berhenti sejenak bukan dosa, menatap langit bukan kemalasan. Kadang, berhenti itu satu-satunya cara agar jiwa tak tersesat ke lubang ambisi yang rakus.
Menyikapi hidup bukan berarti menjadi malaikat bersayap kesabaran. Tidak, itu cuma seni pura-pura tenang saat semesta menumpahkan dramanya. Kadang kita di puncak, di elu-elukan bagai tokoh besar. Esok hari, kita tersungkur di dasar lembah realitas, dihajar kenyataan bahwa mi instan lebih setia daripada manusia. Justru di situlah kita tumbuh bukan untuk menjadi suci, melainkan menjadi pribadi yang keras kepala nan elegan.
Bersyukur atas hal kecil itu tindakan revolusioner di zaman serba ingin lebih. Bayangkan, bersyukur hanya karena masih bisa bangun tidur tanpa diserang notifikasi tagihan, atau karena langit masih menyalakan musik senja yang bebas royalti. Rasa syukur bukan kesalehan; itu bentuk perlawanan halus terhadap absurdnya hidup yang tak kenal kasihan.
Ilustrasi senja. Foto: Unspalsh
Perubahan? Ah, benda tak kasat mata yang disembah dan dikutuk bersamaan. Segalanya berganti wajah, rasa, cinta, bahkan algoritma. Tak ada yang abadi kecuali ironi. Masalah datang bagai informasi media, tapi kadang justru di dalamnya terselip undangan menuju versi diri yang lebih waras atau lebih gila, tergantung cara pandangnya. Dan tentang melepaskan, oh, itu seni paling berdarah yang tak diajarkan di sekolah mana pun.
Kita mencengkram sesuatu sampai jari batin kita berdarah. Kenangan, janji, atau mimpi yang sudah basi. Padahal, mungkin yang kita genggam itu cuma asap dan kita marah karena asapnya hilang. Lepaskan biarkan ruang kosong itu bernapas. Kadang kehampaan justru lebih jujur daripada harapan.
Hidup memang tidak selalu seperti lukisan Monalisa, tapi ia selalu ingin dimengerti meski caranya brutal. Kadang, ia mencubit kita agar sadar; kadang menampar dengan kehilangan supaya kita belajar artinya memiliki. Pada akhirnya, hidup bukan tentang menunggu badai reda karena badai itu tak pernah benar-benar pergi. Kita hanya belajar menari di tengah petir sambil tertawa getir.
Trending Now