Konten dari Pengguna
Sekarung Tanya Untuk Dua Ribu Empat Lima
2 November 2025 3:40 WIB
·
waktu baca 2 menit
Kiriman Pengguna
Sekarung Tanya Untuk Dua Ribu Empat Lima
Jiwa yang menumpahkan tanya pada masa depan tentang harap yang pincang, cinta yang sabar, dan mimpi yang terus berjuang di ladang retak kehidupanDwi Anggoro
Tulisan dari Dwi Anggoro tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Wahai aku kelak berusia lima puluh
Apakah langkahmu masih digiring oleh sunyi?
Apakah engkau telah menemukan cahaya dibalik gugusan gelap harapan?
Entah sampai atau tidaknya pada tahun itu
Pertanyaan-pertanyaan akan menjadi dalam sekarang
Jawaban-jawaban akan beradu nanti
Tahun ini dua ribu dua lima
Aku menatap langit untuk mencari celah retak, agar harapan bisa menyusup
Karena ternyata bumi ini masih terlalu sempit untuk menampung semua rasaku
Anakku adalah bunga mungil dari musim dua ribu dua tiga
Sudah pandai berjalan dan berlari
Sementara aku masih terseok mengejar nasib yang kabur
Istriku adalah puisi seutuhnya yang selalu menyeduhkan sabar di pagi, sore, dan malam hari
Sementara aku masih menyeduh gelisah di cangkir kosong
Wahai aku kelak berusia lima puluh
Apakah jemarimu masih menghitung hari dengan detak takut?
Apakah keringatmu masih belum cukup untuk anak istrimu memeluk bulan?
Apakah anak istrimu sudah tak lagi membaca lapar dari gerak tubuhmu?
Apakah anakmu akan menjadi yatim di waktu yang matang?
Apakah engkau masih meng-eja doa-doa dengan huruf nyeri?
Apakah engkau sudah bisa menulis syukur di tiap pagi?
Atau mungkin engkau sudah menjadi puisi dalam guguran bunga tabur?
Bagaimana jika ku tinggalkan usia ini dengan sekarung tanya?
Terbungkus dalam metafora dan luka manis
Apakah anakmu akan menyebut namamu dengan bangga?
Atau hanya diam, seperti puisi yang tak sempat dibaca karena perut lebih dahulu meminta isi?
Di usia sekarang ini, menjelang tiga dekade
Aku menanam ribuan mimpi di ladang retak
Lalu aku berpesan kepadaku
Janganlah mati sebelum hidup itu menyerah!
Jangan biarkan mimpi menjadi fosil dalam batin!
Bawalah ia meski pincang keadaannya!
Beri ia matahari!
Beri ia hujan!
Beri ia kesempatan kedua, ketiga, dan seterusnya!

