Konten dari Pengguna

Menjamurnya Insomnia dan Stres Tugas Saat Pandemi

Dzakiyyatul Atiqoh
Fakultas Ilmu Kesehatan Jurusan Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
23 November 2021 16:18 WIB
ยท
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Menjamurnya Insomnia dan Stres Tugas Saat Pandemi
Stres ini dapat menjadi sumber motivasi, namun di sisi lain stres yang berlebihan justru dapat melemahkan individu. Salah satunya memicu terjadinya stres akademik dan insomnia.
Dzakiyyatul Atiqoh
Tulisan dari Dzakiyyatul Atiqoh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pandemi COVID-19 telah merevolusi sektor pendidikan, yang semula tatap muka secara langsung telah berubah tatap muka secara virtual. Perubahan sistem menciptakan stres akademik bagi mahasiswa dan mempengaruhi keberhasilan belajar mereka. Setiap hari tumpukan tugas yang tak ada hentinya, dengan tenggat waktu yang relatif singkat membuat kebanyakan orang memilih begadang. Stres ini dapat menjadi sumber motivasi, namun di sisi lain stres yang berlebihan justru dapat melemahkan individu. Salah satunya memicu terjadinya stres akademik dan pikiran negatif hingga berujung pada insomnia.
Dalam kehidupan sosial, akademik, dan pekerjaan stres merupakan hal yang lumrah dirasakan. Menurut Atziza (2015), stres adalah kondisi yang membingungkan secara psikologis dan fisik yang dihasilkan dari interaksi pribadi dengan lingkungan dan dianggap sebagai ancaman bagi kesejahteraan pribadi. Stres ini dapat menjadi sumber motivasi, namun disisi lain stres yang berlebihan justru dapat melemahkan individu. Stres yang terjadi dibidang pendidikan dikenal dengan istilah stres akademik. Stres akademik adalah ketegangan yang dialami mahasiswa sehubungan dengan kegiatan pembelajaran yang sedang dilakukan. Sistem kuliah secara online mengharuskan mahasiswa mengorbankan kuota data internet yang tidak sedikit bahkan sinyal menjadi penentu mahasiswa tersebut untuk mengikuti kelas. Tak jarang dosen memberikan tugas yang terus menerus, hingga membuat mahasiswa tertekan dan menyebabkan stres akademik.
Pandemi COVID-19 secara signifikan mengubah pola aktivitas dan memengaruhi kualitas tidur. Hal ini akan menentukan peningkatan aktivitas keesokan harinya. Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Hairani Lubis, 2021) menunjukkan 80 mahasiswa (39,2%) dalam kategori sedang mengalami stres akademik paling banyak, 55 orang (27%) termasuk kategori tinggi, 48 orang (21%) masuk dalam kategori rendah, dan mencapai 14 orang dengan (6,9%) dalam kategori sangat tinggi, serta kategori sangat rendah 11 orang merasa stres akademik (5,4%). Artinya, selama pandemi COVID-19 mahasiswa merasakan banyak tekanan selama belajar online. Stres yang dipicu oleh perubahan zona waktu, perubahan jadwal tidur, kebiasaan tidur yang buruk, dan banyak hal lainnya dapat menyebabkan insomnia.
Gangguan tidur mempengaruhi proses belajar yang berdampak pada memburuknya konsentrasi, motivasi belajar, kesehatan fisik, berpikir kritis, kemampuan yang buruk untuk berinteraksi dengan individu atau lingkungan kampus, bahkan menurunnya kemampuan untuk menyelesaikan sesuatu (Gaultney, 2010). Waktu tidur akan bervariasi tergantung kebutuhan setiap orang. Pada bayi kebutuhan untuk tidur kisaran 13โˆ’16 jam yang berguna untuk pertumbuhan bayi, sedangkan untuk anak-anak yaitu 8โˆ’12 jam berfungsi untuk perkembangan otak dan ketahanan memori. Berbeda dengan kebutuhan tidur orang dewasa dan usia lanjut yang relatif lebih sebentar, berkisar 6โˆ’9 jam untuk menjaga kesehatan pada orang dewasa dan 5โˆ’8 jam untuk usia lanjut ini penting untuk menjaga kondisi fisik, karena semakin usia yang semakin renta menyebabkan tubuh kurang berfungsi dengan baik. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Maka dari itu dibutuhkan energi yang cukup dari pola tidur yang sesuai. (Lumbantobing, 2006)
Sebagian besar orang pada malam hari pasti pernah mengalami kesulitan tidur. Gangguan tidur ini dikenal sebagai insomnia. Insomnia adalah gejala awal gangguan tidur di mana selalu sulit bagi seseorang untuk tertidur atau bangun terlalu dini. Salah satu penyebab insomnia adalah stres. Hal ini Asmadi (2008) bahwa stres merupakan respons pribadi berupa respons fisik dan psikologis terhadap suatu tuntutan atau ancaman yang terekspos sepanjang hidup dan dapat disebabkan oleh perubahan baik fisik maupun psikis pada individu tersebut. Penyebab stres berat yang dialami mahasiswa adalah tuntutan akademik, penilaian sosial, manajemen waktu, dan waktu penyelesaian tugas yang memancing respons terhadap stresor psikososial atau tekanan psikologis.
Setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk mengatasi stres. Dikutip dari buku (Sarafino, 2012) , banyak orang dengan insomnia ditekankan oleh prognosis, kecacatan, dan gejala mereka, seperti kanker dan radang sendi. Sebuah meta-analisis data, dari 23 studi menemukan bahwa terapi perilaku kognitif sangat efektif dalam mengobati insomnia. Mengambil pil tidur dalam beberapa minggu pertama pengobatan meningkatkan keberhasilan jangka panjang dari pengobatan ini. Namun, lebih baik upaya pencegahan dengan penerapan pola hidup sehat dan lebih membatasi penggunaan obat-obatan yang berlebihan.
Insomnia seringkali merupakan akibat dari stres. Misalnya, jika orang tidak bisa tidur karena khawatir dengan pekerjaan bahkan kesehatannya. Orang-orang yang menunjukkan tanda-tanda perilaku gairah terus-menerus dan mengganggu fungsi tidur, sehingga menyebabkan disfungsi pada siang hari, adalah beberapa terapi kognitif-perilaku untuk insomnia (Smith & Perlis, 2006). Menyempatkan waktu di pagi, siang, maupun sore hari ketika jam kosong lebih baik dimanfaatkan untuk mengerjakan tugas daripada waktu tidur malam dikorbankan hingga dapat menyebabkan berbagai masalah seperti insomnia. Dalam hal ini kemampuan mengatur waktu dengan baik perlu diterapkan agar segala sesuatu bisa berjalan lancar.
Tujuan dari penulisan artikel ini yaitu untuk mengedukasi sekaligus memberi solusi bagi permasalahan bagi mahasiswa mengenai sistem kuliah secara online. Karena hal inilah yang menjadi salah satu penyebab stres akademik. Dampak dari stres tugas yaitu berpengaruh pada kualitas tidur seseorang yang disebut dengan insomnia. Orang-orang yang menunjukkan tanda-tanda perilaku gairah terus-menerus dan mengganggu fungsi tidur, sehingga menyebabkan disfungsi pada siang hari, adalah beberapa terapi kognitif-perilaku untuk insomnia (Smith & Perlis, 2006). Dengan demikian, metode perilaku kognitif untuk insomnia mencangkup relaksasi dan pembatasan tidur. Melakukan penerapan waktu tidur yang normal, dan tidak menggunakan tempat tidur sebagai tempat untuk membaca atau kuliah, serta diperlukannya kemampuan untuk mengatur waktu dengan baik. Cara terbaik agar tugas tidak menumpuk adalah langsung mengerjakan tugas tersebut setelah diberikan oleh dosen. Dengan begitu kita bisa tidur lebih cepat dan bisa beraktifitas dengan normal pada keesokan harinya.
Daftar Pustaka
Asmadi. 2008. Konsep dasar keperawatan, EGC, Jakarta.
Atziza, R. 2015. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Stres dalam Pendidikan Kedokteran. J Agromed Unila, 2(3), 317-320. https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/agro/article/view/1367
Gaultney, J.F. 2010. The Prefalence of Sleep Disorders in College Students Impact on Academic Performance. Journal of American College Health. Vol. 59, No. 2.

Hairani Lubis, A. R. (2021). Stres Akademik Mahasiswa dalam Melaksanakan Kuliah Daring Selama Masa Pandemi Covid 19. Psikostudia Jurnal Psikologi Volume 10 No. 1 , 31-39. DOI: 10.30872/psikostudia

Lumbantobing, S. M. 2006. Gangguan Tidur, Balai Penerbit Fakultas Kedokteran UI, Jakarta.
Sarafino, E.P., dan Smith, T.W. (2012). Health Psichology; Biopsychosocial interactions(7th ed.). New York; John Willey &Sons, Inc
SMITH, M. T., & PERLIS, M. L. (2006). Who is a candidate for cognitive behavioral therapy for insomnia? Health Psychology, 25, 15โ€“19.
Trending Now