Konten dari Pengguna
Perempuan Bukan Pemicu: Kenapa Masih Menyalahkan Korban? Ayo Beri Edukasi!
4 Juni 2025 16:44 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Perempuan Bukan Pemicu: Kenapa Masih Menyalahkan Korban? Ayo Beri Edukasi!
“Pelecehan bukan soal pakaian, tapi soal pola pikir. Saatnya bentuk generasi laki-laki yang menghargai.”Eka Nur Agus Tiyanti
Tulisan dari Eka Nur Agus Tiyanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Latar Belakang

Kasus kekerasan seksual makin sering terdengar akhir-akhir ini. Komnas Perempuan pun menghentikan kebiasaan menyalahkan korban dalam kasus kekerasan seksual. Perempuan bukanlah penyebab utama terjadinya pelecehan seksual, melainkan kurangnya edukasi terhadap laki-laki yang belum belajar untuk menghormati perempuan.
Tindakan pelecehan beragam, seperti catcalling di jalan, misalnya. Laki-laki memanggil dengan siulan atau komentar seksual seperti "Hai cantik, bagus banget badannya." Bahkan komentar cabul juga sering muncul di media sosial, walaupun foto yang diunggah perempuan sebenarnya terlihat sopan. Hal ini menunjukkan bahwa yang harus diperhatikan bukan pakaian atau perilaku korban, melainkan pola pikir dan cara pandang laki-laki yang perlu dibentuk sejak dini.
Tindakan catcalling yang dulu dianggap wajar, kini diakui sebagai bentuk pelecehan berkat hadirnya UU TPKS. Undang-undang ini juga menjadi solusi penting untuk mendorong edukasi kepada anak laki-laki agar mereka bisa memahami batasan, menghargai orang lain, dan tumbuh dalam lingkungan yang lebih aman.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat disimpulkan sebuah rumusan masalah yaitu mengapa perempuan masih sering disalahkan dalam kasus kekerasan seksual dan bagaimana cara mendidik anak laki-laki sejak dini agar menghormati dan memahami batasan.
Tujuan Penulisan
Artikel ini bertujuan untuk mengetahui alasan mengapa perempuan masih sering disalahkan dalam kasus kekerasan seksual serta untuk memberikan cara-cara mendidik anak laki-laki sejak dini agar dapat menghormati dan memahami batasan. Dengan demikian, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya edukasi sejak dini untuk mencegah kekerasan seksual.
Pembahasan
Menurut Fitratun Komariah (30 November 2024) dalam artikel berjudul “Komnas Perempuan: Stop Menyalahkan Korban Kekerasan”, perempuan masih sering disalahkan dalam kasus kekerasan seksual. Bukan salah perempuan jika ia bepergian sendiri di malam hari atau memakai pakaian yang terbuka. Namun, yang sering muncul sebagai respon pertama dari masyarakat justru adalah: “Pakai baju apa?”, “Salah sendiri pergi malam-malam sendirian”, “Kenapa nggak nolak dari awal?”, atau bahkan “Kamu juga mau, kan?”. Padahal, dalam banyak kasus, korban bisa saja mengalami freeze kondisi di mana tubuh membeku karena sudah kelewat takut akan respon laki-laki.
Bukankah akan jauh lebih baik jika kita berhenti menjadikan pertanyaan-pertanyaan menyudutkan itu sebagai respon utama, dan mulai fokus pada edukasi terhadap anak laki-laki agar lebih menghargai dan memahami batasan? Dalam Islam pun, meskipun perempuan dianjurkan untuk berpakaian sopan, laki-laki juga diperintahkan untuk menundukkan pandangan dan menjaga perilaku. Jadi, tanggung jawab moral tidak bisa hanya dibebankan pada perempuan.
Selanjurnya, menurut sumber Zefanya Preticia, 9 Agustus 2024, dalam artikel berjudul “Edukasi Anak Laki-laki, Sebelum Kekerasan Seksual Terjadi!”, aspek penting dalam edukasi seksual yaitu konsep persetujuan. Di mana anak laki-laki harus diajari bahwa setiap orang memiliki hak untuk berkata “tidak”, dan laki-laki harus belajar menerima serta menghormati keputusan itu. Ini bukan hanya dalam konteks seksual, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari, agar kesadaran diri bisa tumbuh melalui kebiasaan menghargai pilihan orang lain.
Anak laki-laki juga bisa diajak berdiskusi tentang kasus kekerasan seksual terkini maupun topik-topik yang relevan, agar mereka terbiasa berpikir kritis dan empatik. Saat mereka menginjak usia remaja, tetap penting untuk terus dibimbing dengan cara mengajak diskusi seputar hubungan sehat, cinta, dan seksualitas secara terbuka dan jujur.
Ketika anak mulai dewasa, ajarkan pentingnya meminta izin sebelum melakukan sesuatu baik sentuhan fisik maupun kegiatan lain yang membutuhkan persetujuan. Hal ini akan membantu membentuk karakter yang menghargai batasan dan pendapat orang lain. Selain itu, diskusi tentang kekerasan seksual dan dampak negatif dari pornografi juga penting dilakukan untuk membangun pemahaman tentang hubungan yang sehat dan saling menghargai.
Poin penting dari semua ini adalah peran orang tua yang hebat dalam mengedukasi anak laki-lakinya sejak dini dan tidak pernah lengah untuk terus membimbing. Tujuannya adalah agar anak tumbuh menjadi pribadi yang bisa menghargai diri sendiri dan orang lain, serta hidup di lingkungan yang aman dan mendukung.
Penutup
Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa menyalahkan perempuan dalam kasus kekerasan seksual adalah bentuk ketidakadilan yang masih sering terjadi. Padahal, perempuan bukanlah penyebab, melainkan korban dari situasi yang seharusnya bisa dicegah jika edukasi kepada laki-laki diberikan sejak dini. Dengan pemahaman yang baik tentang persetujuan dan batasan, anak laki-laki bisa tumbuh menjadi pribadi yang lebih menghargai orang lain.
Sudah saatnya kita tidak hanya melindungi perempuan, tapi juga mulai membentuk laki-laki yang sadar akan tanggung jawab dan rasa hormat. Orang tua, guru, dan lingkungan sekitar punya peran besar untuk memulainya. Mari kita beri perempuan tempat yang aman, serta ciptakan lingkungan yang mendukung dan menghargai semua pihak.
Referensi
Fitratun Komariah, 30 November 2024. "Komnas Perempuan: Stop Menyalahkan Korban Kekerasan." Bunaiya.
Kumailah Hakimah, 26 Oktober 2019. "Terkait Pelecehan Seksual, Mestinya Mengedukasi Laki-Laki, Bukan Menyalahkan Perempuan."
Zefanya Preticia, 9 Agustus 2024. "Edukasi Anak Laki-laki, Sebelum Kekerasan Seksual Terjadi!"
Selesai.
Eka Nur Agus Tiyanti, Siswi Yayasan Pendidikan SMK Waskito

