Konten dari Pengguna

Mampukah Laki-laki Menjadi Aktivis Feminisme?

Eka Putri Endriana
Mahasiswa Magister Ilmu Hukum Universitas Gadjah Mada
29 November 2025 11:00 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Mampukah Laki-laki Menjadi Aktivis Feminisme?
Tak jarang laki-laki mewakili perempuan dalam isu feminisme. Hal tersebut menimbulkan rasa tidak nyaman bagi perempuan. Lantas, dapatkah seorang laki-laki menjadi aktivis feminisme?
Eka Putri Endriana
Tulisan dari Eka Putri Endriana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber: Ilustrasi sekelompok laki-laki yang berdemo mendukung hak perempuan dan menyuarakan isu feminisme. Gambar dihasilkan oleh AI melalui ChatGBT/GBT-5
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Ilustrasi sekelompok laki-laki yang berdemo mendukung hak perempuan dan menyuarakan isu feminisme. Gambar dihasilkan oleh AI melalui ChatGBT/GBT-5
Di sebuah forum yang mengangkat isu feminisme, seorang laki-laki yang menjuluki dirinya aktivis feminisme, mulai mencoba mengedukasi sekaligus membela hak perempuan. Dalam konteks ini, menurut teori Male Gaze yang dicetuskan oleh Laura Mulvey, perempuan secara sosial dan budaya sering dilihat bahkan didefinisikan dari kaca mata laki-laki.
Alih-alih meningkatkan kesadaran atas kesetaraan gender, substansi yang disampaikan dan didiskusikan sering kali tidak merepresentasikan pengalaman dan perasaan oleh perempuan. Ketika laki-laki berbicara mewakili perempuan, secara simbolik laki-laki telah mengontrol narasi perempuan hanya dari pemahaman dan pandangan mereka sendiri.
Tak heran sebagian perempuan justru merasa tidak nyaman ketika isu feminisme direpresentasikan oleh laki-laki. Lantas, dapatkah seorang laki-laki menjadi aktivis feminisme?

Women Embodied Experiences

Tubuh perempuan bukan hanya sebuah objek pasif. Kultur sosial, termasuk kondisi traumatis, membentuk pengalaman yang melekat pada tubuh perempuan sehingga telah menjadi titik temu antara ideologi masyarakat dan pengalaman pribadi yang mengakar. Women embodied experiences tersebut menjadi salah satu poros bagaimana tubuh perempuan diatur dan dikonstruksikan oleh masyarakat yang patriarki.
Bagaimana perempuan berusaha berpenampilan menarik ketika berada pada dimensi pekerjaan karena hal tersebut yang menjadi titik perhatian dibandingkan kompetensi yang dimilikinya, atau bagaimana perempuan harus tersenyum sekali pun sedang dilecehkan secara verbal oleh laki-laki.
Hal ini menunjukkan bahwa women embodied experience bukan sekadar pengalaman yang dapat diejawantahkan melalui penyampaian tutur kata semata, melainkan sebuah pengalaman yang melekat, bahkan hidup, pada tubuh perempuan.
Kondisi tersebut menjadi embodied experience yang tidak mudah untuk direpresentasikan, bahkan oleh sesama perempuan, karena setiap perempuan memiliki pengalaman dan respons yang berbeda-beda sehingga tidak dapat digeneralisasi. Jadi, sekali pun laki-laki mendengar cerita dari seorang perempuan terkait apa yang dirasakannya, itu bukan legitimasi bagi laki-laki untuk mengambil alih suara perempuan di ruang publik.
Menjadi pertanyaan: apakah laki-laki dapat merasakan bagaimana berhentinya nadi dan melejitnya detak jantung perempuan ketika, hanya sekedar, melewati segerembolan laki-laki?

Patriarki Semu

Ketika laki-laki merepresentasikan perempuan dalam isu feminisme, terdapat ruang reproduksi identitas perempuan dalam kerangka paternalistik. Tak heran laki-laki yang menyuarakan isu feminisme mendudukkan perempuan sebagai โ€œmanusia spesialโ€ yang perlu dikasihi dan dilindungi.
Gerakan feminisme yang seyogyanya ditujukan untuk menghilangkan ketidaksetaraan gender justru tersamarkan dengan opini laki-laki yang mendeklarasikan cara pandang baru terhadap perempuan. Bahkan, bisa jadi laki-laki menggunakan isu feminisme untuk mendapatkan rekognisi dari masyarakat sehingga membangun citra moral yang menguntungkan dirinya (performative male allyship).
Kondisi di atas awalnya terlihat seperti gerakan anti-patriarki, tetapi nyatanya hanya sebuah formula untuk melanggengkan toxic masculinity.
Memahami dua pendekatan di atas, laki-laki tentu saja tetap berhak, atau bahkan harus, menjadi feminisme. Namun, ketika menjadi seorang aktivis feminisme, laki-laki harus memahami bahwa perannya lebih kental dalam mendorong terbukanya ruang bagi perempuan untuk memperjuangkan haknya, bukan menggantikan peran perempuan dalam menyuarakan aspirasinya.
Perempuan cenderung merasa tidak nyaman atau bahkan tidak terepresentasikan ketika laki-laki berusaha mengatasnamakan pengalaman dan perasaan perempuan. Dengan demikian, tidak ada larangan bagi seorang laki-laki untuk menjadi aktivis feminisme, justru sumbangsihnya diperlukan untuk memperluas ruang bersuara perempuan, tetapi laki-laki perlu memahami bahwa perannya adalah sebagai sekutu perempuan (solidarity ally) bukan representasi perempuan.
Trending Now