Konten dari Pengguna
Pembelajaran Langsung Ketinggalan Zaman?
23 November 2025 11:08 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Pembelajaran Langsung Ketinggalan Zaman?
Selain menggunakan media dari barang bekas, guru juga harus mengajarkan murid secara langsung. Kegiatan belajar mengajar harus dilakukan secara langsung, sehingga murid akan merasakan pembelajaranEko Suryo Pranoto
Tulisan dari Eko Suryo Pranoto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pekan ini adalah pekan pertama dalam kegiatan pembelajaran di tahun ajaran baru. Semua guru tanpa terkecuali mempersiapkan seluruh kegiatan belajar mengajarnya dengan penuh semangat. Banyak diantara teman-teman guru yang mempersiapkan metode dan media pembelajaran dengan sebaik-baiknya. Mereka membuat media pembelajaran dengan menggunakan bahan bekas seperti kardus dan botol plastik bekas.
Namun, tidak jarang kita temui ada beberapa guru yang menggunakan metode dan media pembelajaran masih dengan cara yang lama, berceramah dan juga menampilkan PPT yang telah mereka buat. Bukan menyalahkan apa yang dikerjakan guru membuat PPT, namun di sisi lain, kegiatan yang hanya mendengarkan dan melihat slide, serta hanya di kelas akan membuat kegiatan belajar mengajar menjadi membosankan.
Sebut saja pembelajaran IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) yang membahas tentang pancaindra, apakah murid akan βngehβ kalau guru hanya mengajari murid dengan menggunakan PPT dan berceramah. Kemungkinan kecil ilmu pancaindra itu akan masuk ke dalam diri murid, mereka hanya melihat dan juga mendengarkan saja, tanpa ada pembelajaran langsung yang βmengenaβ ke diri mereka.
Sistem pendidikan di Indonesia semakin hari semakin baik. Kurikulum terus berubah dengan tujuan mencari cara terbaik agar pendidikan Indonesia semakin maju. Setiap pergantian kepempinan, terjadi pula perubahan kurikulum yang menurut pemerintah sudah tidak relevan dengan perkembangan dunia saat ini. Perubahan teknologi yang begitu cepat, mengharuskan guru untuk terus berkembang, dan belajar tentang perubahan teknologi dan digitalisasi.
Seorang guru seharusnya memiliki sikap yang tidak antipati terhadap perubahan. Seorang guru harus bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman yang semakin canggih. Digitalisasi harus dilakukan oleh guru-guru Indonesia. Proses pembelajaran harus sesuai dengan perkembangan zaman. Media pembelajaran pun harus mengikuti tren yang berkembang pada saat ini.
Perubahan teknologi tidak selalu kita respon dengan ketakutan. Guru yang belum memiliki kompetensi di dalam teknologi, mereka harus belajar dan harus menyesuaikan diri, guna pendidikan Indonesia yang semakin maju. Setidaknya guru sudah bisa mengembangkan fitur-fitur canggih yang ada saat ini. Dengan penggunaan fitur-fitur canggih, pembelajaran di kelas akan semakin menarik.
Selain menggunakan fitur-fitur canggih dalam pembelajaran, penggunaan media pembelajaran dengan menggunakan barang bekas bukan berarti guru tersebut merupakan guru yang ketinggalan zaman, atau mengesampingkan perubahan teknologi, namun sesungguhnya guru tersebut telah menjaga bumi agar tetap hijau dan tidak tertimbun sampah. Penggunaan media pembelajaran dengan barang bekas memberikan pengalaman yang menarik bagi guru dan juga para murid. Guru menjadi terampil mengolah sampah menjadi barang tepat guna, dan murid akan mengerti akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
Selain menggunakan media dari barang bekas, guru juga harus mengajarkan murid secara langsung. Kegiatan belajar mengajar harus dilakukan secara langsung, sehingga murid akan merasakan langsung apa tujuan pembelajaran tersebut. Pembelajaran pancaindra tidak bisa hanya belajar dari slide atau buku paket, anak akan kurang paham dengan materi yang diberikan.
Pengalaman langsung merupakan ilmu yang berharga. Memandang kebun dan memegang hasil kebun yang beraneka ragam warna dan rupa akan memberikan pelajaran bahwa berharganya pancaindra mereka berupa mata masih bisa melihat indahnya karunia Allah. Bermain bola di atas rumput tanpa alas kaki akan memberikan pengalaman pembelajaran yang menarik, bahwa anggota tubuh mereka adalah karunia. Bermain bola tanpa alas kaki juga memberikan stimulus yang berharga bagi tubuh murid agar mereka dapat merasakan bagaimana sistem kulit bekerja. Kaki mereka akan merasa kesakitan jika menginjak batu kerikil, dan kaki mereka akan nyaman jika menginjak rumput dan tanah. Itu merupakan pembelajaran yang berharga bagi murid.
Selain itu, bermain permainan tradisional seperti permainan benteng, lompat karet, gerobak sodor, petak umpat, ular naga, dan masih banyak lagi permainan tradional lainnya yang merupakan pembelajaran langsung yang bisa dilakukan oleh guru untuk materi pembelajaran pancaindra. Dengan adanya pembelajaran langsung, diharapkan murid akan cepat menyerap ilmu yang diberikan oleh guru. Tentu saja, setelah kegiatan langsung, guru harus memberikan penjelasan tentang tujuan pembelajaran menggunakan permainan dan juga terjun langsung ke lapangan (melihat kebun, dan juga memegang hasil kebun)
Semoga dengan adanya perkembangan teknologi yang begitu canggih, guru tidak melupakan pembelajaran langsung, karena pembelajaran langsung memberikan hasil belajar yang begitu efektif dan akan memberikan pengalaman belajar murid menjadi menyenangkan dan juga akan menjadi cerita di masa depan, bahwa belajar bersama alam dan belajar langsung adalah pembelajaran yang menyenangkan.

