Konten dari Pengguna

Ayah Juga Butuh Ruang: Ayah Lebih dari Sekadari Pemberi Nafkah

Eliana Ratmawati
Mahasiswi Manajemen, Universitas Pembangunan Jaya
14 Juli 2025 13:40 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Ayah Juga Butuh Ruang: Ayah Lebih dari Sekadari Pemberi Nafkah
Artikel ini menyoroti pentingnya peran ayah dalam pengasuhan, bukan hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pendamping emosional anak dan mitra setara dalam keluarga.
Eliana Ratmawati
Tulisan dari Eliana Ratmawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi: Pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Pexels.com
Di lingkungan masyarakat selalu ibu yang menjadi sosok mengasuh anak, ayah sering dicap hanya sekadar memberi nafkah saja dan tidak terlalu peduli dengan anaknya dengan alih sudah capai bekerja dari pagi sampai malam. Tetapi apakah menjadi seorang ibu tidak capai mengurusi anak dari pagi sampai malam, bahkan bukan berperan menjadi seorang ibu saja, tapi perempuan harus menjadi istri yang baik dalam mengurusi hal rumah tangga atau mengurusi suami. Pada dasarnya memiliki seorang anak bukan hanya tanggung jawab satu orang saja, tetapi tanggung jawab bersama.
Padahal, peran sebagai orang tua semestinya menjadi tanggung jawab bersama. Memiliki anak bukan hanya tugas ibu atau ayah saja, tetapi kolaborasi keduanya. Ayah bukan sekadar pencari nafkah, tetapi juga sosok penting dalam pembentukan karakter, rasa aman, dan kepercayaan diri anak. Hadirnya ayah secara fisik dan emosional sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikologis anak. Artikel ini akan membahas mengenai peran ayah yang bukan hanya pemberi nafkah saja.
Peran Emosional Ayah yang Sering Terlupakan
Banyak anak yang tumbuh tanpa kedekatan emosional dengan ayah mereka. Ayah ada, tetapi terasa jauh dan tidak dekat. Padahal, pelukan hangat seorang ayah, ucapan bangga, atau sekadar menemani anak bermain sebentar dapat memberikan dampak besar pada rasa percaya diri anak. Anak yang memiliki hubungan emosional yang baik dengan ayahnya cenderung tumbuh lebih stabil, mampu mengelola emosi dengan baik, dan memiliki relasi sosial yang sehat.
Ayah juga bisa menjadi teladan dalam hal empati, komunikasi, dan penyelesaian konflik. Sayangnya, pola asuh patriarkis yang masih kuat membuat banyak ayah merasa bahwa menunjukkan emosi atau bermain dengan anak adalah bentuk kelemahan. Hal ini tentu perlu diluruskan. Ayah yang terlibat dalam pengasuhan dapat membantu anak mengembangkan keterampilan sosial yang lebih baik selain bisa berkomunikasi dengan baik namun dapat bekerja sama dengan baik dengan orang lain.
Ayah Juga Membutuhkan Dukungan dan Ruang
Beban peran sebagai tulang punggung keluarga seringkali menempatkan ayah dalam tekanan tersendiri. Dituntut untuk selalu kuat, tidak boleh lelah, dan harus mampu secara finansial. Namun, di balik itu semua, ayah juga manusia biasa yang bisa merasa letih, bingung, bahkan kehilangan arah.
Sering kali ayah tidak memiliki ruang aman untuk mengungkapkan perasaannya. Tak sedikit ayah yang memendam stres dan berakhir dalam bentuk kemarahan atau sikap dingin terhadap keluarga. Penting juga bagi ayah untuk mendapatkan ruang istirahat, didengarkan, dan diberikan kesempatan untuk merawat dirinya sendiri. Ini bukan bentuk kelemahan, tetapi bentuk kesehatan mental yang penting demi kebaikan seluruh keluarga.
Membangun Keluarga yang Setara
Keluarga yang sehat bukan hanya tentang peran masing-masing yang kaku, tetapi tentang kolaborasi dan saling mendukung. Ayah dan ibu harus bisa saling berbagi peran sesuai kemampuan dan kesepakatan. Jika ibu lelah, ayah bisa turun tangan. Jika ayah sedang tidak baik-baik saja, ibu memberikan dukungan. Anak-anak akan tumbuh dengan pola pikir yang setara dan menghargai kerjasama dalam keluarga.
Sudah saatnya kita berhenti menganggap bahwa ayah hanya berperan sebagai penyedia materi. Ayah juga butuh ruang untuk menjadi manusia yang utuh yang bisa merasa, berperan aktif dalam pengasuhan, dan memiliki waktu untuk dirinya sendiri. Menjadi ayah bukan hanya soal bekerja keras demi keluarga, tetapi juga soal hadir, mendengar, dan mencintai dengan penuh kesadaran.
Trending Now