Konten dari Pengguna

Digital Native, Digital Danger: Mengasuh Anak di Era Ketergantungan Layar

Eliana Ratmawati
Mahasiswi Manajemen, Universitas Pembangunan Jaya
13 Juli 2025 1:44 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Digital Native, Digital Danger: Mengasuh Anak di Era Ketergantungan Layar
Membahas mengenai digital native dan ditigal danger bagi anak
Eliana Ratmawati
Tulisan dari Eliana Ratmawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi: Pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Pexels.com
Perkembangan teknologi yang semakin pesat bukan hanya mengubah cara manusia berkomunikasi, bekerja, dan belajar, tetapi juga berdampak besar pada pola pengasuhan anak. Kini, anak-anak lahir sebagai digital native generasi yang sejak bayi sudah akrab dengan layar gadget. Namun, di balik kemudahan dan hiburan yang ditawarkan, tersembunyi bahaya yang perlu diwaspadai: ketergantungan layar yang bisa mengganggu tumbuh kembang anak. Artikel ini akan membahas mengenai bahayanya
Gadget sebagai "Penjinak" Anak: Solusi Instan, Masalah Berkepanjangan
Banyak orang tua yang dengan alasan kepraktisan memberikan gadget kepada anak saat mereka mulai rewel, bosan, atau tantrum. Video kartun, game interaktif, dan berbagai aplikasi hiburan memang terbukti bisa meredakan suasana dengan cepat. Namun, penggunaan gadget sebagai β€œpenjinak” anak dalam jangka panjang bisa menjadi bumerang.
Ketika anak terbiasa mendapatkan hiburan dari layar, mereka mulai kehilangan minat untuk bermain secara fisik, berinteraksi langsung dengan lingkungan, atau mengembangkan imajinasi melalui permainan tradisional. Lama-kelamaan, anak bisa menunjukkan tanda-tanda ketergantungan. Seperti tantrum karena gadgetnya diambil, tidak mampu mengisi waktu selain bermain gadget karena waktu yang dihabiskan dalam satu hari hanya bermain gadget saja yang mengakibatkan kurangnya eksplorasi pada anak. Selain itu juga anak-anak yang ketergantungan gadget akan memiliki gangguan tidur karena sampai lupa waktu. Selain itu juga
Dampak Ketergantungan Gadget pada Perkembangan Anak
Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan gadget berlebihan dapat memengaruhi perkembangan otak anak, terutama di usia emas (0–5 tahun). Berikut beberapa dampak negatif yang perlu diwaspadai:
Anak yang terlalu sering menatap layar cenderung lebih sedikit berinteraksi verbal dengan orang lain, sehingga kemampuan bahasanya terlambat berkembang.
Kita sering melihat anak-anak yang emosi ketika gadgetnya diambil sampai tantrum dan emosinya meledak-ledak. Ketika interaksi sosial digantikan oleh layar, anak menjadi kurang mampu mengelola emosi, memahami ekspresi orang lain, atau bersosialisasi dengan teman sebayanya.
Konten digital yang serba cepat dan penuh stimulasi bisa membuat anak kesulitan berkonsentrasi saat harus melakukan aktivitas dengan ritme lambat, seperti membaca atau belajar.
Kurangnya aktivitas fisik akibat terlalu sering menonton gadget, ditambah paparan cahaya biru sebelum tidur, bisa memicu gangguan tidur dan meningkatkan risiko obesitas.
Mengasuh Anak di Era Digital: Peran Aktif Orang Tua Sangat Penting
Untuk membantu anak terhindar dari ketergantungan terhadap layar, orang tua perlu menerapkan beberapa langkah konkret dalam pengasuhan sehari-hari. Pertama, sangat penting untuk membatasi waktu layar sesuai dengan usia anak, mengikuti panduan dari WHO atau Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang menyarankan waktu layar minimal untuk anak usia di bawah 5 tahun. Anak usia di bawah 2 tahun sebaiknya tidak dikenalkan dengan layar sama sekali, kecuali untuk video call, sementara anak usia 2–5 tahun dibatasi maksimal satu jam per hari dengan konten yang berkualitas. Selain itu, orang tua perlu memilih konten yang edukatif dan sesuai dengan usia anak, serta mendampingi mereka saat menonton atau bermain agar terjadi interaksi dua arah yang dapat memperkaya pengalaman belajar anak.
Lebih dari itu, penting pula untuk menjadwalkan waktu bebas gadget, terutama di momen-momen penting seperti saat makan bersama keluarga, sebelum tidur, atau saat berkumpul agar anak belajar hadir secara penuh dalam aktivitas sosial. Orang tua juga harus mendorong anak untuk melakukan aktivitas fisik dan permainan langsung yang mendukung perkembangan motorik dan kreativitas, seperti bermain di luar rumah, membaca buku bersama, menggambar, atau membuat kerajinan tangan. Terakhir, orang tua harus menyadari bahwa mereka adalah panutan utama bagi anak-anaknya. Jika orang tua terus-menerus menatap layar ponsel atau televisi, anak akan meniru kebiasaan tersebut.
Teknologi Harus Menjadi Alat, Bukan Pengasuh
Anak-anak memang lahir di dunia digital, tapi bukan berarti mereka harus tumbuh dalam ketergantungan terhadap teknologi. Gadget bisa menjadi alat bantu yang hebat dalam pembelajaran, namun tanpa pengawasan yang bijak, ia bisa menjadi ancaman nyata bagi tumbuh kembang anak.
Tugas orang tua adalah menjadi filter dan pembimbing, bukan hanya memberikan gadget lalu lepas tangan. Di era digital ini, pengasuhan yang sadar teknologi adalah kunci membentuk generasi yang tidak hanya cakap digital, tetapi juga sehat secara fisik, emosional, dan sosial.
Trending Now