Konten dari Pengguna

Objectophilia : Cinta Tak Biasa Saat Hati Terpikat Pada Benda

Yulinda Nurul Setianti
Mahasiswa universitas Pamulang ilmu komunikasi
26 Mei 2025 16:52 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Objectophilia : Cinta Tak Biasa Saat Hati Terpikat Pada Benda
Menikahi benda mati atau merasakan jatuh cinta pada objek memang hal yang tidak biasa,namun fenomena ini menantang kita untuk melihat cinta dari prespektif yang lebih luas dan berbeda.
Yulinda Nurul Setianti
Tulisan dari Yulinda Nurul Setianti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
gambaran seseorang yang jatuh cinta pada benda. sumber: pribadi dan dibuat secara pribadi
zoom-in-whitePerbesar
gambaran seseorang yang jatuh cinta pada benda. sumber: pribadi dan dibuat secara pribadi
Fenomena manusia yang jatuh cinta pada benda mati sering kali dianggap aneh dan sulit dipahami. Namun, di balik keunikan ini, terdapat suatu kenyataan yang perlu dipahami lebih dalam: "Objectophilia", atau kecenderungan untuk merasa tertarik secara emosional, romantis, atau bahkan seksual terhadap objek yang tidak bernyawa. Bagi sebagian orang, ini adalah bentuk cinta yang nyata dan tulus, meski bagi banyak orang lain, hal ini mungkin sulit diterima dan dipahami.
Apa Itu Objectophilia ?
Objectophilia adalah istilah yang di gunakan untuk menggambarkan perasaan cinta, dan ketertarikan terhadap benda mati. Seseorang yang mengalami hal ini merasakan ikatan emosional yang mendalam dengan objek tersebut, tak jarang mereka merasa bahwa benda itu memiliki jiwa atau bahkan sebuah kepribadian, sehingga mereka menyakini bahwa pasangan tersebut dapat menjadi pasangan hidup yang memberikan kenyamanan,dan kebahagiaan.
Kasus Nyata : Manusia Dan Objek Yang Di Cintai
Salah satu kasus yang cukup terkenal dalah Erika Eiffel, seorang wanita asal Amerika yang menyatakan telah menikahi Menara Eiffel di Paris pada tahun 2007. Ia bahkan mengganti namanya menjadi Erika La Tour Eiffel sebagai simbol hubungan emosionalnya dengan menara tersebut.
Pada saat era digital sekarang fenomena ini tidak terbatas hanya pada objek fisik. banyak orang juga mengalaminya dengan karakter fiksi atau objek digital. Beberapa individu, terutama di Jepang, melaporkan bahwa mereka merasa cinta dengan karakter anime atau perangkat virtual seperti hologram. Hal ini menunjukkan bahwa perasaan cinta bisa melampaui batasan fisik dan logis, beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan budaya modern.
Psikologi Di Balik Objectophilia
Penyebab munculnya objectophilia sangat beragam. Beberapa pakar psikologi berpendapat bahwa gangguan pada spektrum autisme atau kondisi neurodivergen lainnya bisa memengaruhi seseorang untuk lebih mudah menjalin hubungan emosional dengan benda dibandingkan manusia. Ini karena keterikatan mereka dengan objek tersebut bisa memberi rasa aman dan stabil, yang mungkin sulit mereka temukan dalam interaksi sosial yang kompleks.
Namun, tidak semua individu yang mengalami objectophilia memiliki gangguan psikologis. Bagi sebagian orang, ini bisa menjadi pilihan hidup yang sadar, sebuah cara untuk mengekspresikan identitas mereka atau menemukan kenyamanan dalam hubungan yang mereka rasa lebih otentik dan tidak menuntut.
Dimensi Sosial Dan Budaya
Dalam masyarakat modern, fenomena objectophilia turut mencerminkan perubahan cara pandang terhadap cinta, hubungan, dan identitas. Meskipun banyak yang melihatnya sebagai perilaku aneh atau eksentrik, tidak bisa dipungkiri bahwa dunia digital dan teknologi semakin membuka kemungkinan bagi hubungan manusia dengan objek tak bernyawa. Batas antara yang nyata dan yang maya semakin kabur, membuat bentuk-bentuk hubungan yang lebih fleksibel dan non-tradisional semakin diterima oleh beberapa kalangan.
Trending Now