Konten dari Pengguna

Quarter Life Crisis: Ketika Usia 20-an Terasa Melelahkan

EnkaAruna
Mahasiswa D3 Farmasi Universitas Al-Irsyad Cilacap
13 Januari 2026 16:00 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Quarter Life Crisis: Ketika Usia 20-an Terasa Melelahkan
Quarter Life Crisis: Ketika Usia 20-an Terasa Melelahkan
EnkaAruna
Tulisan dari EnkaAruna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Pexels
Usia 20-an sering disebut sebagai masa paling produktif dalam hidup. Namun, bagi sebagian orang, fase ini justru terasa paling membingungkan dan melelahkan. Tekanan untuk segera sukses, memiliki pekerjaan tetap, hidup mandiri, dan terlihat “baik-baik saja” membuat banyak anak muda merasa terjebak dalam kondisi yang dikenal sebagai quarter life crisis.
Quarter life crisis bukan sekadar perasaan galau atau bingung sesaat. Kondisi ini muncul ketika seseorang mulai mempertanyakan arah hidupnya, merasa tertinggal dibandingkan orang lain, serta dipenuhi rasa cemas terhadap masa depan. Media sosial kerap memperparah keadaan. Unggahan tentang pencapaian teman sebaya sering kali menjadi tolok ukur keberhasilan, meskipun kenyataannya setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda.
Banyak anak muda merasa harus segera menemukan tujuan hidup di usia 20-an. Ketika realitas tidak berjalan sesuai ekspektasi, rasa kecewa dan tidak percaya diri pun muncul. Padahal, tidak ada aturan baku tentang kapan seseorang harus “berhasil”. Setiap individu memiliki waktu dan prosesnya masing-masing.
Di tengah tekanan tersebut, penting untuk memahami bahwa merasa lelah, bingung, dan ragu adalah hal yang manusiawi. Quarter life crisis bisa menjadi momen refleksi untuk mengenal diri sendiri lebih dalam. Alih-alih terus membandingkan diri dengan orang lain, anak muda perlu belajar menerima bahwa kegagalan dan ketidakpastian adalah bagian dari proses bertumbuh.
Pexels
Menghadapi quarter life crisis bukan berarti harus menemukan semua jawaban sekaligus. Langkah kecil seperti menetapkan tujuan realistis, mengurangi konsumsi media sosial yang memicu perbandingan, serta berbicara dengan orang terpercaya dapat membantu meringankan beban pikiran. Merawat kesehatan mental sama pentingnya dengan mengejar pencapaian akademik atau karier.
Pada akhirnya, usia 20-an bukanlah perlombaan siapa yang paling cepat sukses. Ini adalah fase belajar, mencoba, dan mengenal diri sendiri. Quarter life crisis bukan tanda kelemahan, melainkan sinyal bahwa seseorang sedang berproses menuju versi dirinya yang lebih matang.
Trending Now