Konten dari Pengguna

Neurosains di Balik Notifikasi: Mengapa Otak Kita Sulit Lepas dari Media Sosial?

Ernest Cornelia Angelina
Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta
16 Oktober 2025 13:00 WIB
ยท
waktu baca 5 menit
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Neurosains di Balik Notifikasi: Mengapa Otak Kita Sulit Lepas dari Media Sosial?
Neurosains di balik notifikasi: Mengapa otak kita sulit lepas dari media sosial? Bukan sekadar kebiasaan, melainkan hasil dari proses neurologis yang kompleks di dalam otak. #userstory
Ernest Cornelia Angelina
Tulisan dari Ernest Cornelia Angelina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi media sosial Facebook dan Instagram. Foto: MichaelJayBerlin/shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi media sosial Facebook dan Instagram. Foto: MichaelJayBerlin/shutterstock
Media sosial telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan modern. Setiap detik, jutaan notifikasi muncul di layar ponsel, menandakan seseorang menyukai sebuah postingan, mengomentari sebuah story, atau sekadar membalas chat. Sekilas, hal ini tampak sederhana, tetapi di balik suara notifikasi dan lampu layar terdapat proses biologis yang kompleks di dalam otak manusia. Neurosains membantu menjelaskan mengapa manusia begitu mudah terpikat dan sulit melepaskan diri dari media sosial. Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan, tetapi berkaitan erat dengan fungsi sistem dopamin dan sistem penghargaan (reward system) di otak.
Dari perspektif biopsikologis, otak manusia dirancang untuk mencari kesenangan dan menghindari ketidaknyamanan. Sistem penghargaan (reward system) adalah jaringan saraf yang berperan dalam memperkuat perilaku yang dianggap menyenangkan. Salah satu neurotransmitter utama yang bekerja dalam sistem ini adalah dopamin, zat kimia yang sering disebut sebagai "molekul kebahagiaan". Dopamin tidak hanya menciptakan perasaan senang tetapi juga berfungsi sebagai motivator untuk mengulangi perilaku yang menghasilkan perasaan tersebut.
Ketika seseorang menyantap makanan favorit, mendengar pujian, atau berhasil mencapai tujuan, otak melepaskan dopamin. Pelepasan ini terutama terjadi di Ventral Tegmental Area (VTA) dan nukleus accumbens, dua area kunci yang mengatur respons terhadap penghargaan. Menariknya, media sosial menggunakan prinsip yang sama. Setiap kali seseorang menerima notifikasi "like", komentar positif, atau pesan baru, sistem penghargaan otak langsung teraktivasi dan dopamin dilepaskan sebagai respons alami. Hal ini menciptakan perasaan senang yang langsung mendorong pengguna untuk terus memeriksa ponsel mereka berulang kali.
Ilustrasi bermain media sosial. Foto: Shutter Stock
Daya tarik media sosial tidak hanya berasal dari interaksi sosialnya, tetapi juga dari cara algoritma dirancang untuk mempertahankan keterlibatan pengguna. Salah satu kunci psikologis paling ampuh dalam hal ini adalah penguatan rasio variabel atau pola penguatan acak. Pola ini berarti pengguna tidak pernah tahu kapan mereka akan menerima respons positif; satu unggahan mungkin bisa menerima banyak suka, sedangkan yang lain tidak. Ketidakpastian ini justru menyebabkan otak melepaskan dopamin dalam jumlah yang lebih besar ketika imbalan sosial akhirnya tercapai.
Fenomena ini mirip dengan mekanisme yang ditemukan dalam kecanduan judi. Seorang penjudi tidak tahu kapan mereka akan menang, tetapi ketidakpastian itulah yang membuat mereka terus bermain. Dalam konteks media sosial, setiap notifikasi dapat menjadi semacam "hadiah digital" yang mendorong pengguna untuk terus membuka aplikasi, bahkan ketika mereka tidak berniat melakukannya. Inilah sebabnya mengapa banyak orang sulit menahan diri untuk tidak memeriksa ponsel mereka, bahkan di saat-saat yang tidak tepat seperti saat belajar, bekerja, atau bahkan mengemudi.
Masalah muncul ketika sistem dopamin ini terstimulasi secara berlebihan. Otak manusia memiliki kemampuan alami untuk menjaga keseimbangan kimiawi melalui homeostasis. Namun, ketika dopamin dilepaskan terlalu sering akibat notifikasi yang terus-menerus dan interaksi digital yang tak berkesudahan, reseptor dopamin menjadi kurang sensitif. Akibatnya, seseorang membutuhkan stimulasi yang lebih besar untuk merasakan kepuasan yang sama seperti sebelumnya.
Ilustrasi media sosial palsu. Foto: Dinda Faradiba/kumparan
Dalam jangka panjang, hal ini dapat menyebabkan kecanduan digital. Gejalanya meliputi perasaan cemas ketika terputus dari media sosial, penurunan produktivitas, gangguan tidur, dan penurunan kemampuan untuk fokus. Faktanya, beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa pola aktivitas otak pada pengguna media sosial yang kecanduan serupa dengan individu yang bergantung pada zat adiktif seperti nikotin atau alkohol. Hal ini menunjukkan bahwa kecanduan media sosial bukan sekadar kurangnya disiplin, tetapi melibatkan perubahan nyata dalam struktur dan fungsi otak.
Meskipun sering dikaitkan dengan efek negatif, dopamin bukanlah musuh. Dalam kadar yang seimbang, neurotransmitter ini berperan penting dalam menjaga motivasi, pembelajaran, dan interaksi sosial. Media sosial, jika digunakan secara bijak, dapat menjadi sumber dukungan emosional dan sosial yang bermanfaat. Bagi seseorang yang mengalami kesepian atau interaksi tatap muka yang terbatas, menerima apresiasi dan perhatian di dunia digital dapat membantu meningkatkan harga diri dan perasaan diterima.
Dari perspektif biopsikologis, aktivitas dopamin yang sehat justru dapat memperkuat perilaku adaptif seperti berbagi informasi positif, mengekspresikan diri secara kreatif, atau mempertahankan hubungan sosial yang bermakna. Tantangannya adalah bagaimana individu dapat menjaga keseimbangan antara keterlibatan digital dan kesehatan mental, sehingga sistem dopamin tetap berfungsi optimal tanpa menimbulkan ketergantungan.
Ilustrasi menggunakan sosial media. Foto: Shutter Stock
Memahami bagaimana notifikasi memengaruhi otak adalah langkah pertama untuk mengelola penggunaan media sosial yang lebih sehat. Salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah "detoks dopamin", yaitu membatasi paparan terhadap stimulus digital selama jangka waktu tertentu agar sistem dopamin dapat kembali seimbang.
Selain itu, terapi perilaku kognitif (Cognitive Behavioral Therapy) dapat membantu individu mengenali dan mengubah pola pikir serta perilaku kompulsif yang berkaitan dengan penggunaan media sosial. Bagi mahasiswa psikologi dan bidang ilmu terkait, fenomena ini menjadi contoh nyata bagaimana biologi dan perilaku sosial berinteraksi. Memahami mekanisme dopamin dan desain algoritma media sosial dapat membuka jalan bagi pengembangan kebijakan digital yang lebih manusiawi, misalnya dengan menciptakan fitur yang mendorong penggunaan yang seimbang, bukan kecanduan.
Fenomena kesulitan melepaskan diri dari media sosial bukan sekadar kebiasaan, melainkan hasil dari proses neurologis yang kompleks di dalam otak. Setiap notifikasi yang kita terima berinteraksi langsung dengan sistem penghargaan dan mekanisme dopamin, menciptakan siklus kesenangan yang sulit diputus. Di balik kemudahan teknologi, terdapat sistem biologis yang terus beradaptasi dengan rangsangan digital. Oleh karena itu, kesadaran akan cara kerja otak sangat penting untuk mengembangkan hubungan yang lebih sehat dengan media sosial. Dengan memahami ilmu saraf di balik notifikasi, manusia dapat kembali mengendalikan teknologi, bukan sebaliknya.
Trending Now